TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Komersialisasi Tes Corona Menyengsarakan Rakyat


Anggaran untuk penanggulangan pandemi Covid-19 serta dampaknya terus mengalami perubahan dan semakin membengkak. Dilansir dari katadata.co.id, 17/6/2020, pemerintah kembali menambah anggaran penanganan Covid-19 dari Rp 677,2 triliun menjadi Rp 695,2 triliun. Peningkatan tersebut terjadi karena adanya kebutuhan korporasi dan daerah yang bertambah di tengah upaya pemulihan Covid-19.

Namun, tingginya anggaran tidak sebanding dengan semakin baiknya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Dalam hal ini terkait dengan uji tes Covid-19 baik melalui rapid maupun swab test yang dituding telah "dikomersialisasikan". Bahkan tingginya biaya tes diduga menimbulkan korban kematian di masyarakat.

Seorang ibu di Makassar, Sulawesi Selatan, dilaporkan kehilangan anak di dalam kandungannya setelah tidak mampu membayar biaya swab test sebesar Rp 2,4 juta. Padahal, kondisinya saat itu membutuhkan tindakan cepat untuk dilakukan operasi kehamilan (kompas.com, 19/6/2020).

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, menyebut saat ini terjadi "komersialisasi" tes virus corona yang dilakukan rumah sakit swasta akibat dari lemahnya peran pemerintah dalam mengatur dan mengawasi uji tes ini.

Untuk itu, menurut Trubus terdapat dua solusi yang perlu dilakukan pemerintah dalam menyelesaikan masalah "komersialisasi" tes virus corona ini. Pertama, pemerintah menanggung semua biaya uji tes ini, baik rapid maupun swab test berdasarkan keputusan pemerintah tentang penetapan kedaruratan virus corona dan penetapan Covid-19 sebagai bencana nasional nonalam dan diperkuat dalam penetapan Perppu No.1 Tahun 2020 menjadi Undang-Undang yang salah satu isinya tentang pembiayaan penanganan pandemi Covid-19. 

Kedua, jika anggaran negara terbatas, pemerintah harus mengeluarkan aturan khusus yang mengatur pelaksanaan tes Covid-19, baik untuk rumah sakit swasta maupun pemerintah. Pemerintah harus turun tangan menetapkan harga standar yang terjangkau. Saat ini biaya rapid test berkisar Rp500.000 dan PCR sampai Rp2 juta. Itu sangat mahal. Ditambah lagi masa berlaku rapid test hanya tiga hari dan swab test hanya tujuh hari (bbc.com, 18/6/2020).

Masyarakat banyak yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup di tengah pandemi Covid-19, ditambah lagi mahalnya biaya tes virus corona. Semua itu tentunya semakin menyengsarakan rakyat. Seharusnya, pemerintah hadir membantu dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Adanya "komersialisasi" tes corona mencerminkan tidak seriusnya pelayanan kesehatan negara dengan sistem kapitalisme. Sistem yang hanya menjunjung tinggi keuntungan materi di atas kepentingan dan keselamatan rakyat.

Pelayanan Kesehatan dalam Islam
Dalam Islam, kebutuhan atas pelayanan kesehatan termasuk kebutuhan dasar masyarakat yang menjadi kewajiban negara. Rumah sakit, klinik dan fasilitas kesehatan lainnya merupakan fasilitas publik yang diperlukan oleh kaum Muslim dalam terapi pengobatan dan berobat.  
Kemaslahatan dan fasilitas publik wajib disediakan oleh negara secara cuma-cuma sebagai bagian dari pengurusan negara atas rakyatnya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Pemimpin adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus." (HR. Al-Bukhari)

Salah satu tanggung jawab pemimpin adalah menyediakan layanan kesehatan dan pengobatan bagi rakyatnya secara gratis. Sebagai kepala negara, Nabi Muhammad SAW pun menyediakan dokter gratis untuk mengobati Ubay. Ketika Nabi Muhammad SAW mendapatkan hadiah seorang dokter dari Muqauqis, Raja Mesir, beliau menjadikan dokter itu sebagai dokter umum bagi masyarakat (HR Muslim).

Semua dalil di atas merupakan dalil bahwa pelayanan kesehatan dan pengobatan adalah termasuk kebutuhan dasar yang wajib disediakan oleh negara secara gratis untuk seluruh rakyat tanpa memperhatikan tingkat ekonominya. Alhasil, tidak akan ada "komersialisasi" dalam pelayanan kesehatan ketika menerapkan syariat Islam yaitu aturan yang berasal dari Allah Sang Pencipta manusia dan seluruh alam. 
Wallahu’alam bisshawab.[]

Oleh: Nurul Aqidah 
Anggota Komunitas Aktif Menulis, Bogor

Posting Komentar

0 Komentar