TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kisruh POP, Potret Karut Marut Dunia Pendidikan



Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim tengah menjadi sorotan. Pasalnya, program besutan Kemendikbud yaitu Program Organisasi Penggerak menuai polemik.  Inovasi pendidikan yang diprogramkan pemerintah di tengah pandemi ini masih menyisakan ribuan tanda tanya. Program ini digadang-gadang dapat meningkatkan kualitas guru dan kepala sekolah, dengan menggandeng organisasi masyarakat yang bergerak di bidang pendidikan.

Program Organisasi Penggerak merupakan program Kemendikbud untuk memberi pelatihan dan pendampingan bagi para guru dalam meningkatkan kualitas peserta didik dengan menggandeng banyak organisasi. Dari 4.646 ormas yang mengajukan proposal, terdapat 156 ormas yang lolos seleksi evaluasi (CNN, 24/07/2020). 

Untuk program ini Kemendikbud mengalokasikan dana sebesar Rp. 567 milyar per tahun diambil dari APBN.  Organisasi yang lolos seleksi akan mendapat hibah yang dibagi berdasarkan tiga kategori, yaitu kategori gajah yang memperoleh bantuan maksimal Rp 20 milyar per tahun. Kategori macan memperoleh maksimal 5 milyar per tahun. Kategori kijang memperoleh bantuan maksimal 1 milyar per tahun ( Tempo.co, 26/07/2020)

Namun, sejumlah pihak menduga ada ketidak jujuran pada proses verifikasi organisasi masyarakat (ormas) sebagai pelaksana program yang menjadi mitra Kemendikbud.  Dugaan ini diperkuat dengan mundurnya beberapa organisasi, yaitu Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) dan Persatun Guru Republik Indonesia (PGRI). 

Alasan mereka mundur karena proses seleksi dinilai tak sejalan dengan perjuangan pendidikan. Selain itu ketiga organisasi sepakat bahwa anggaran program ini dapat dialokasikan untuk keperluan lain yang lebih mendesak di bidang pendidikan (Kompas.com, 28/07/2020)

Bagai memakan buah simalakama, di satu sisi pendidikan di negeri ini sangat jauh dari kata berhasil. Di sisi lain, adanya program-program yang dicanangkan pemerintah untuk peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan membuka peluang korupsi bagi pihak-pihak yang tak bertanggungjawab.  Penyelesaian satu masalah menimbulkan masalah lain yang tak kalah rumitnya.

Tatkala diluncurkan Program Organisasi Penggerak oleh Kemendikbud, mendadak bermunculan organisasi yang mengajukan permohonan sebagai mitra. Beberapa organisasi yang lolos seleksi, tidak jelas kredibilitasnya di bidang pendidikan. Hal ini mengindikasikan proses rekrutmen yang tidak obyektif, sarat dengan berbagai kepentingan yang ujung-ujungnya materi. Sistem kehidupan yang kapitalistiklah yang membuat setiap individunya silau melihat harta, sehingga segala cara ditempuh untuk memperolehnya. Tidak lagi peduli halal dan haram, asalkan ada koneksi segala sesuatu bisa diatasi. 

Evaluasi program inipun takkan membawa hasil yang berarti karena konsepnya yang tidak jelas. Mengadakan pelatihan dimasa pandemi Covid-19 dengan waktu yang terbatas tidak akan efektif sehingga hasilnya pun tidak akan maksimal, yang ada hanyalah penghamburan uang negara.

Beginilah karakter sistem kehidupan sekarang. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, sistem sekuler kapitalistik. Kehidupan dijalani sesuai dengan kehendak hawa nafsunya. Mengeruk keuntungan sebesar-besarnya untuk kepentingan sendiri, tak peduli walau generasi menjadi tumbal keserakahan. Sistem yang sarat dengan kepentingan materi, hingga meniscayakan pendidikan sebagai lahan untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. 

Sistem Pendidikan Islam Mencetak Guru dan Murid yang Cemerlang

Sangat berbeda dengan sistem Islam. Dalam Islam seluruh aspek kehidupan manusia sudah ada rambu-rambu yang mengaturnya, yaitu aturan dari Sang Maha Pencipta. pun dalam masalah pendidikan. Sistem pendidikan dalam Islam akan membentuk individu yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berkepribadian Islam, menguasai sains teknologi dan berbagai ketrampilan lain yang dibutuhkan dalam kehidupan. Aqidah islam akan menjadi pondasi sistem pendidikan ini.  Individu-individu dalam sistem Islam adalah individu yang amanah, karena sadar semua perilakunya akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.

Dalam Islam, pembiayaan pendidikan untuk seluruh tingkatan sepenuhnya merupakan tanggung jawab negara. Seluruh pembiayaan pendidikan, baik gaji guru maupun infrastruktur serta sarana dan prasarana yang berkualitas adalah  kewajiban negara yang harus ditunaikan. Hal ini karena Islam menjadikan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan primer bagi masyarakat. Negara dalam Islam menyadari bahwa pendidikan adalah sebuah investasi masa depan. Maka Islam membuka kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi dengan fasilitas yang disediakan negara. 

Negara dalam sistem Islam berkewajiban menyediakan tenaga-tenaga pengajar yang ahli dibidangnya, sekaligus memberikan gaji yang cukup bagi guru dan pegawai yang bekerja di kantor pendidikan. 

Pembiayaan pendidikan yang serba gratis dan berkualitas akan terealisasi secara menyeluruh jika didukung oleh penerapan politik ekonomi Islam. Negara akan menjamin tercegahnya pendidikan sebagai bisnis atau komoditas ekonomi sebagaimana realita dalam kehidupan kapitalistik saat ini.

Sistem pendidikan Islam ini telah berhasil mencetak generasi yang cemerlang, melahirkan ilmuwan yang kompeten di bidangnya hingga diakui dunia. Tentu kita tidak asing dengan ibnu Sina atau Avicenna sebagai Bapak Kedokteran Dunia, Ibnu Rusyd yang menguasai beberapa disiplin ilmu, diantaranya teologi Islam, kedokteran, astronomi, fisika, fikih dan linguistic. Al-Khawarizmi, seorang yang ahli dalam bidang matematika, astronomi, astrologi dan geografi. Dan ribuan ilmuwan lainnya yang memberikan sumbangsih yang tidak kecil pada dunia.

Ilmuwan-ilmuwan tersebut lahir dari rahim peradaban Islam. Peradaban cemerlang yang mampu bertahan hingga belasan abad.  Munculnya ilmuwan Islam yang kompeten di bidangnya hingga diakui dunia adalah buah diterapkannya Islam sebagai sistem kehidupan.  Maka, masalah karut marutnya pendidikan di negeri ini hanya akan selesai dengan tuntas jika Islam diambil sebagai aturan yang menyeluruh dalam kehidupan. Wallahu a’lam bisshawab. []

Oleh Evi Shofia, Sp

Posting Komentar

0 Komentar