TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kisah Berkorban dan Wujud Nyata Pengorbanan dalam Ketaatan



   Tanggal 10 Dzulhijjah tinggal menghitung hari, saat penyembelihan hewan korban harus ditunaikan  mereka yang mampu. Walau kini umat Islam berada dalam  kondisi istimewa karena wabah Corona. Tetapi hal ini tak menyurutkan niat umat Islam untuk menyambut hari raya kedua umat Islam.

  Dalam peringatan hari raya idul Adha kita akan mendengar kisah yang diulang tiap tahun tentang  Nabi Ibrahim as yang rela mengorbankan putra kesayangan yang di tunggu selama ratusan purnama. 

   Bahkan Nabi Ismail as yang saat diberitahukan perintah mengorbankan dirinya melalui mimpi ayahnya yang seorang utusan Allah SWT pencipta dan pengatur alam raya. Dengan penuh kerelaan menyerahkan diri untuk dikorbankan.

   Maka pengorbanan mereka menjalani ketaatan sebagai bukti cinta kepada Sang Maha Cinta diabadikan dalam Al-Quran Surat Ash-Shofat ayat 102: "Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" Dia Ismail menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar."

  Nabi Ismail as yang masih belia hanya meminta kepada ayahnya saat penyembelihan dilaksanakan untuk menutup mukanya supaya hilang rasa kasihan. Nabi Ibrahim as pun diminta oleh putranya untuk menajamkan parang dan mengikat tangan dan kaki Nabi Ismail as supaya tidak meronta-ronta. Selain itu Nabi Ismail as juga meminta ayahnya untuk melepas bajunya supaya  terkena darahnya. Setelahnya baju itu diminta diserahkan kepada ibunya sebagai kenangan atas dirinya.

  Mereka begitu kompak melaksanakan perintah Allah SWT, walau perintah itu tak masuk dinalar. Mengorbankan hal yang begitu disayang. Ini menunjukkan keimanan dengan melaksanakan perintah Allah SWT tanpa pilih-pilih, tanpa pikir panjang dan tak membuang waktu untuk segera melaksanakan.

  Padahal beberapa tahun sebelum perintah penyembelihan ini terjadi Nabi Ibrahim as diperintahkan oleh Allah SWT untuk meninggalkan Nabi Ismail as yang masih bayi dan ibunya berdua saja, di padang tandus tak berpenghuni. Sebagai ibu dan istri Siti Hajar meminta penjelasan kepada suaminya, apakah yang dikerjakan suaminya ini perintah Allah? Nabi Ibrahim as mengiyakan tanpa menoleh sedikitpun kepada anak dan istrinya. Sang istri pun dengan kerelaan membiarkan suaminya pergi meninggalkan dirinya bersama bayinya di tempat asing.

  Akhirnya kesabaran Siti Hajar berbuah manis setelah beliau kepayahan bolak-balik berlari dari bukit Shafa ke bukit Marwah sebanyak tujuh kali untuk mencari air karena perbekalan sudah habis dan Nabi Ismail as yang terus-menerus menangis. Ketika putus asa hadir dalam diri Alloh SWT memerintahkan air supaya keluar dari tanah di bawah kaki bayi. Sungguh kebahagiaan tak terperi dirasakan Siti Hajar setelah kepayahan berlari kesana-kemari.

  Demikian pula ketika penyembelihan dilaksanakan Allah SWT ganti Nabi Ismail as dengan binatang sembelihan  yang gemuk. Melihat hal ini tentu kebahagiaan menyelimuti keduanya. Kedua ayah dan anak yang semuanya Nabi ini pun bersyukur tiada henti. Inilah bukti bahwa setiap pengorbanan untuk melaksanakan ketaatan sebagai bukti cinta kepada Allah SWTakan diberi balasan setimpal bahkan lebih baik dari yang Maha Adil.

  Maka seharusnya sebagai insan ciptaan Allah SWT ketika mendengar perintah Allah SWT, kita taati sepenuh hati walau harus ada pengorbanan yang sering tak diterima hati. Tak usah berbelit-belit mencari alasan. Karena di dunia kita bisa mengajukan beribu-ribu alasan supaya diterima nalar. Tapi di akhirat kelak semua alasan kelar karena mulut kita dikunci oleh yang Maha Benar.

  Begitu pula saat mengetahui ada larangan, tak usah menawar dan menunda untuk meninggalkan. Kita harus yakin seperti Nabi Ibrahim as dan putranya yang tak pernah ragu bahwa setiap perintah dan larangan ada uijan keimanan serta akan menuai pahala sebagai mana besar kecilnya ujian. Dan yakin bahwa ujian apapun bentuknya merupakan tanda cinta Alloh  SWT pada hambanya. 

  Hal itu seperti sabda Nabi Muhammad Saw, "  Sesungguhnya besarnya pahala  tergantung besarnya cobaan, dan Alloh SWT apabila mencintai suatu kaum maka Alloh akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho maka ia akan mendapatkan keridhoan-Nya dan barang siapa yang kesal terhadapnya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya." (H.R Ahmad dan Tirmidzi)
 
 Selain yakin dengan besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian yang diterima kita juga harus yakin bahwa di setiap kesulitan ada kemudahan membersamainya. Hal ini difirmankan Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6, "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

    Ketaatan pada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya tidak hanya dalam ranah individu tetapi juga dalam ranah bermasyarakat sampai mengatur negara. Sebagaimana telah Alloh SWT telah sebutkan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 208: "Wahai orang-orang yang beriman masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu.

    Maka jika sudah kita ketahui tentang hubungan antara perintah, larangan, pengorbanan, ketaatan, dan pahala serta cinta yang akan kita dapat dari Zat yang Maha Cinta ketika kita mematuhi aturan-aturan dari-Nya maka sungguh tak pantas diri ini menghubungkan diri dalam lumpur dosa dengan tidak menjauhi larangan-Nya.[]

Oleh: Wijiati Lestari
Owner Taqiyya Hijab Syar'i



Posting Komentar

0 Komentar