TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Khilafah Wajib, Tanpa Tapi!



Nampaknya negeri Indonesia yang bermayoritaskan Muslim ini benar-benar mengalami krisis dari semua segi. Ambil saja contoh krisis ekonomi,  krisis moral, krisis akhlak, krisis sosial, hingga krisis ilmu pengetahuan. Yang sangat membingungkan adalah ketika seorang Muslim dengan lantang menyebut salah satu ajaran yang terdapat dalam agamanya sendiri adalah sebuah ajaran yang radikal dan tak relevan dengan zaman sekarang. Seperti contohnya adalah ajaran khilafah dan jihad. Khilafah dan jihad adalah ajaran Islam yang tidak bisa dibuang begitu saja hanya dengan alasan karena tidak relevan dengan zaman sekarang. Dan kemudian ajaran khilafah dan jihad ini disebut sebagai ajaran yang tidak toleran dan sangat radikal.

Konten radikal yang termuat di 155 buku pelajaran agama Islam telah dihapus oleh Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi. Namun untuk materi khilafah tetap ada di buku-buku tersebut. “Dalam buku agama Islam hasil revisi itu masih terdapat materi soal khilafah dan nasionalisme,” ujar Menag lewat keterangannya tertulis, Kamis, 2 Juli 2020 seperti dikutip dari CNN Indonesia. Kendati demikian, Menag memastikan buku-buku itu akan memberi penjelasan bahwa khilafah tak lagi relevan di Indonesia. Menag mengungkapkan, penghapusan konten radikal tersebut merupakan bagian dari program penguatan moderasi beragama yang dilakukan Kemenag. (makassar.terkini.id, 2 Juli 2020)

Seluruh materi ujian di madrasah yang mengandung konten khilafah dan perang atau jihad telah diperintahkan untuk ditarik dan diganti. Hal ini sesuai ketentuan regulasi penilaian yang diatur pada SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 3751, Nomor 5162 dan Nomor 5161 Tahun 2018 tentang Juknis Penilaian Hasil Belajar pada MA, MTs, dan MI. Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah pada Kementerian Agama (Kemenag), Umar, Menjelaskan yang dihilangkan sebenarnya bukan hanya materi khilafah dan perang. Setiap materi yang berbau ke kanan-kananan atau ke kiri-kirian dihilangkan. Dia mengatakan, setiap materi ajaran yang berbau tidak mengedepankan kedamaian, keutuhan dan toleransi juga dihilangkan. “Karena kita mengedepankan pada Islam wasathiyah,” kata Umar. (republika.co.id, 7 Desember 2019)

Khilafah sendiri dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslimin di dunia ini untuk menerapkan seluruh hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Sedangkan orang yang menjadi pemimpinnya disebut Khalifah, namun dapat juga disebut Imam atau Amirul Mukminin. Empat sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam tercatat dalam sejarah bahwa mereka pernah menjabat sebagai khalifah. Keempat sahabat tersebut adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Abu Bakar Ash-Shiddiq beliau dikenal dengan sebutan Khalifatu Ar-Rasulillah (pengganti Nabi Muhammad), Umar bin Khattab beliau disebut Amirul Mukminin (pemimpinnya orang beriman), dan Ali bin Abi Thalib beliau disebut Imam Ali.

Sedangkan makna dari jihad menurut syari’at Islam adalah berjuang/ikhtiar/usaha dengan bersungguh-sungguh. Menurut Dr. Zakir Naik, jihad itu bukan berarti perang, jihad berasal dari kata jahada yang berarti berusaha dan berjuang bersungguh-sungguh untuk memperbaiki masyarakat. Jihad, kata beliau, juga berarti berusaha bersungguh-sungguh untuk menjadi seorang Muslim yang baik. Jadi, jihad artinya adalah berjuang dan berusaha untuk menata masyarakat yang lebih baik dan bermartabat, seperti damai dan saling menghormati satu sama lain. 

Khilafah dan jihad adalah termasuk dari bagian hukum Islam yang sangat mulia dan wajib ditegakkan oleh umat Islam. Sebuah kesalahan yang sangat besar jika berani mengubah-ubah ajaran Islam atau memilah-milah ajaran Islam sesuai dengan kehendak hawa nafsu kita sendiri. Apalagi jika pelakunya adalah orang yang mengaku beragama Islam. Padahal, khilafah dan jihad adalah sebuah kewajiban bagi setiap Muslim bukan malah menghindarinya atau bahkan membuat ajaran tersebut menjadi buruk di mata seluruh kaum Muslimin yang lainnya terutama dengan yang masih awam belajar Islam.

Namun inilah nyatanya, bahwa kita tinggal di negara yang anti dengan ajaran Islam yang dua ini, khilafah dan jihad. Khilafah dan jihad dianggap sebagai paham ekstremis, radikal dan intoleran yang sangat tidak relevan dengan Indonesia. Ini adalah sebuah pernyataan yang sangat aneh. Bagaimana mungkin ajaran Islam tidak relevan dengan sebuah wilayah atau tidak cocok dengan zaman sekarang?

Umat Islam saat ini seringkali memadankan kata toleransi pada kata tasamuh. Tasamuh artinya adalah sikap membiarkan (menghargai), lapang dada (Kamus Al-Munawir, hlm. 702, Pustaka Progresif, cet. 14). Sedangkan intoleransi (ketidaktoleranan) kadang-kadang dikaitkan dengan tindak kekerasan yang melibatkan umat Islam. Tindakan seperti ini sering dijadikan alasan oleh para kelompok liberal untuk menuduh kaum Muslimin sebagai kelompok yang paling tidak toleran dengan penganut agama yang lain.

Pandangan seperti itu jelas sangat-sangat keliru dan menyesatkan. Berkaitan dengan toleransi, Islam memberikan sejumlah ketentuan yaitu: Pertama, Islam tidak akan pernah mengakui kebenaran agama dan keyakinan selain daripada Islam. Seluruh keyakinan dan agama selain Islam merupakan kekufuran. Entah itu demokrasi, sekularisme, pluralisme, liberalisme, kapitalisme, semua paham-paham tersebut dan yang sejenisnya adalah kufur. Siapa saja yang meyakini agama atau keyakinan tersebut, baik Sebagian atau keseluruhan, maka dia kafir. Tidak ada toleransi dalam perkara seperti ini. Kedua, tidak ada toleransi dalam perkara yang telah ditetapkan oleh dalil-dalil qath’i, baik itu menyangkut akidah ataupun hukum syariah. Ketiga, Islam tidak melarang umatnya untuk berinteraksi dengan orang kafir dalam perkara mubah seperti jual-beli, bisnis, dan lain sebagainya. Keempat, adanya ketentuan tersebut tidak menafikan kewajiban kaum Muslimin untuk berdakwah dan berjihad melawan orang kafir dimanapun ia berada. Namun tetap saja pelaksanaan dakwah dan jihad tersebut haruslah sejalan dengan tuntutan syariah.

Jika kita mengingat sejarah kejayaan Islam dimasa khilafah, dapat kita temui fakta bahwa ternyata Islam pernah menguasai 2/3 dunia. Khilafah pernah ada selama lebih dari 1300 tahun atau 13 abad lamanya. Didalamnya diterapkan seluruh syari’at Islam, hukum-hukum Allah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun, dalam negara khilafah pada saat itu bukan hanya umat Islam saja yang ada disana, melainkan juga terdapat orang Nasrani dan Yahudi yang menjadi warna negara khilafah. Pendapat yang menyatakan bahwa khilafah adalah ajaran Islam yang intoleran sangat bisa kita bantahkan jika kita melihat sejarah ini.

Islam telah mengajarkan dan mempraktikkan langsung toleransi dengan sangat begitu apik sejak masa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Islam memberikan tuntunan bagaimana cara menghargai dan menghormati umat agama lain. Bahkan Islam tidak pernah memaksa pemeluk agama lain untuk masuk Islam. Contohnya saja, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam pernah menjenguk orang Yahudi yang sedang sakit, melakukan transaksi jual-beli dengan non-Muslim, menghargai tetangga non-Muslim, dan banyak lagi. Perlakuan adil oleh negara khilafah kepada umat agama lain bukan hanya sekedar omong kosong, bukan hanya sekedar konsep belaka, tetapi benar-benar diterapkan dengan sungguh-sungguh. Namun, bukan juga berdasarkan tuntutan toleransi seperti orang Barat, melainkan umat Islam menjalankan toleransi ini semata-mata karena Allah Ta’ala.

Islam merupakan agama pembawa rahmat bagi semesta alam. Sejak Islam diturunkan, hingga sampai saat ini, ia akan selalu sama, menjadi rahmat bagi semesta alam. Namun, hal ini tidak terjadi begitu saja, melainkan harus ada sebuah instansi yang menjadikan Islam sebagai hukum tertinggi dalam sebuah negara. Karena Islam tidak hanya mengatur tentang hubungan seorang individu dengan Allah saja, melainkan Islam juga mengatur seluruh aspek kehidupan kita mulai dari kita tidur, sampai kita bangun tidur pun Islam juga mengatur. Mulai dari dalam negeri sampai luar negeri pun Islam juga mengatur. Inilah luar biasanya agama Islam, ia sangat sempurna dan paripurna.

Sebagai seorang Muslim, hendaklah kita sadar bahwa Islam akan selalu ada dalam hidup kita hingga kita mati. Islam, tidak akan pernah bisa kita pilah-pilih ajarannya. Tidak pernah ada yang namanya Islam Moderat ataupun Islam Nusantara. Islam ya Islam. Mulai zaman Nabi Muhammad sampai sekarang Islam tidak akan pernah bisa kita ubah.

Alhasil, jika masih saja ada orang yang mempersoalkan ajaran khilafah maupun jihad dan toleransi di dalam Islam, sungguh merekalah sebenarnya orang yang tidak toleran. Islam bukan hadir sebagai agama pembawa keributan, namun Islam hadir sebagai agama perdamaian dan rahmat bagi semesta alam jika ia diterapkan dengan sempurna.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.[]


Oleh : Widya Paramita 
Komunitas Pena Banua

Posting Komentar

0 Komentar