TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Khilafah: The New Epic after Pandemic



Kesadaran akan perubahan akan menjalar pada tubuh masyarakat tatkala masyarakat mengalami goncangan yang dasyat, hingga mendorong mereka berpikir, menghasilkan berbagai premis sebagai hasil dari pencarian sebab-musabab goncangan tersebut, serta cara langsung dan tidak langsung untuk membebaskan diri dari goncangan. Karena pada fitrahnya, manusia memiliki gharizatul baqa’, naluri mempertahankan diri dan eksistensisnya.

Dan dewasa ini, di tengah pandemi covid-19, goncangan itu begitu nyata, masalah demi masalah datang bertubi-tubi, merangsek menghimpit kehidupan masyarakat negeri ini. Mulai dari banyaknya kasus PHK, hingga kebijakan pembebasan napi yang menyebabkan semakin meningkattya kriminalisasi. 

Kasus KDRT, pembunuhan hingga mati karena kelaparan semakin bertebaran, bansos yang diharapkan nyatanya juga tak kunjung datang. Tak hanya itu, di masa pandemi, pemerintah justru menelurkan banyak kebijakan tak pro rakyat, mulai dari  disahkannya RUU minerba, kenaikan iuran BPJS,  TDL listrik melonjak tinggi meski terkesan ditutupi,UKT gak miring meski kuliah daring, masuknya TKA asing. 

Belum lagi sikap pemerintah yang dianggap tak serius menagani covid-19 hingga korban semakin berjatuhan. Dan parahnya, tak hanya di Indonesia, kondisi ini terjadi hampir di seluruh negara, bahkan sang adidaya, Amerika dan Cina. Virus corona telah menunjukkan pada dunia bahwa sistem demokrasi yang lahir dari ideologi kapitalisme telah gagal memenuhi janji kesejahteraan bagi umat manusia.

Ibarat bola salju yang terus menggelinding, kesadaran  umat saat ini akan rusaknya sistem demokrasi-kapitalisme semakin besar. Keinginan kaum muslimin untuk  mencari solusi hakiki, bukan solusi tambal sulam ala demokrasi kapitalis semakin menguat. 

Salah satu tawaran solusi yang cukup menggiurkan dan kini mulai banyak dilirik orang adalah Khilafah. Terbukti dari banyaknya pengkajian ide khilafah di masa pandemi, mulai dari kalangan ulama, mahasiswa, cendekia, pengusaha, hingga penguasa.  Ide khilafah terus menjadi bahan diskusi yang menarik, khilafah yang dulu dianggap utopis dan tidak banyak dikenal, kini menjadi isu yang masif dibicarakan, mulai dari forum perkuliahan, seminar, diskusi, hingga sosial media. Bahkan tagar #IslamSolusiatasiPandemi sempat menjadi trending topik twitter di awal bulan Juni.

Dan tak bisa dipungkiri, bahwa semakin dikenalnya ide khilafah oleh masyarakat, membuat beberapa pihak “kebakaran jenggot”. Pasalnya kondisi ini merupakan lonceng kematian bagi sitem demokrasi-kapitalis, karena Islam dengan syariat-syariatnya akan meleyapkan hegemoni barat di negeri-negeri muslim dan menggantinya dengan sistem aturan yang berasal dari Sang Pencipta, bukan berasal dari akal manusia.

Terlebih National Inteligent Council (NIC), salah satu badan intelejen pemerintahan Amerika Serikat, pada tahun 2004 telah memprediksikan kebangkitan umat (baca: khilafah) akan muncul kembali tahun 2020 dengan luas wilayah dari Spanyol hingga Indonesia. Dan kesadaran barat akan kebangkitan Islam dapat dilihat dari berbagai pernyataan para pemimpin Barat sendiri. George W. Bush (Jr) pada tahun 2006 pernah mengatakan, “This caliphate would be a totalitarian Islamic empire encompassing all current and former Muslim lands, stretching from Europe to North Africa, the Middle East, and Southeast Asia.” (Khilafah ini akan menjadi imperium Islam yang totaliter yang akan melintasi negeri-negeri Muslim kini dan dulu, membentang dari Eropa hingga Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Tenggara). (www.theinevitablecaliphate.com).

Kondisi ini merupakan mimpi buruk bagi barat, peradaban yang tengah mereka bangun kini terancam oleh kebangkitan Islam, maka dicetuskanlah berbagai upaya untuk menjegal khilafah. Stigma-stigma negatif  tentang khilafah terus digelontorkan. Upaya untuk menandingi opini khilafah terus dilontarkan. Mulai dari khilafah bukan ajaran Islam, khilafah pemecah belah NKRI, khilafah anti kebhinekaan, khilafah anti pancasila, hingga khilafah adalah ide terorisme radikal. Fitnah ini terus diaruskan, diusung di tengah-tengah umat Muhammad SAW untuk menggoyang kepercayaan umat terhadap ide khilafah.

Tak cukup sampai di situ, ulama-ulama yang menyuarakannya pun di kriminalisasi, dipresekusi bahkan dimasukkan dalam jeruji besi. Lahirnya UU ormas dadakan hingga RUU HIP yang cenderung dipaksakan di masa covid 19 , nampaknya tak lepas dari tujuan untuk menjegal dakwah syariah dan khilafah. 

Ini menunjukkan jelas, bahwa propaganda terhadap Khilafah merupakan upaya sistematis untuk menumbuhkan khilafahphobia dan membasmi perjuangan ummat yang menyerukan untuk hidup di bawah naungan khilafah. Bahkan lebih dari itu, hal ini akan melahirkan kelompok-kelompok pragmatis dan menumbuhkan siklus perpecahan di tubuh umat serta menjaga langgengnya cengkraman imperialisme Barat atas negeri-negeri mereka.

Oleh karena itu, sebagai kaum muslimin, yang meyakini Islam sebagai aqidahnya,  tentu setiap pandangan tentang khilafah harus didudukkan dengan benar dengan kaca mata Islam, hingga tidak ada dusta dan kegagal pahaman, apalagi sampai termakan oleh fitnah kejam para pembenci islam.

Khilafah sesungguhnya bukanlah istilah asing dalam khasanah keilmuwan Islam. Jika mau objektif “Khilafah” merupakan bagian dari ajaran Islam, yang memang diturunkan oleh Allah SWT untuk kebaikan seluruh umat manusia. Di samping itu, ide khilafah mempunyai pijakan kuat dari aspek teologis, empiris, maupun historis. Dari Aspek teologis, jelas ide Khilafah bisa dirujuk dalam al-Qur’an, al-Hadist, dan ijma’ shahabat, serta khasanah kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama’ yang tidak terhitung jumlahnya.

 Menurut Wahbah az-Zuhaili, “Khilafah, Imamah Kubra dan Imarah al-Mu’minin merupakan istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama.” (Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, 9/881). Menurut Dr. Mahmud al-Khalidi (1983), “Khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan syariah dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.” (Al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, hlm. 226).

Karena merupakan istilah Islam, Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam sebagaimana shalat, puasa, zakat, haji, dan lainnya. Apalagi menegakkan Khilafah adalah wajib menurut syariah Islam. Bahkan Khilafah merupakan “tâj al-furûd (mahkota kewajiban)”. Pasalnya, tanpa Khilafah—sebagaimana saat ini—sebagian besar syariah Islam di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, pemerintahan, politik, politik luar negeri, hukum/peradilan, dsb terabaikan.

Terlebih ketika ditinjau secara empiris, ide Khilafah sangat relevan dengan kondisi saat ini, di saat umat Islam terpinggirkan oleh hegemoni negara-negara imperialisme Barat, maka ide khilafah sangat relevan untuk menyatukan potensi umat Islam di seluruh dunia, dalam rangka menjawab tantangan jaman tersebut. 

Bahkan saat ini sudah terbukti bahwa sistem kapitalis gagal untuk mensejahterakan umat manusia. Semakin demokrasi suatu negeri, semakin dekat negeri itu dengan lubang kehancuran. Karena demokrasi-kapitalis adalah sitem yang rusak dan merusak, yang tidak lagi layak diharapkan, apalagi dipertahankan. 

Dan secara historis, khilafah bukan sekedar ide tetapi merupakan institusi negara super power yang eksis di percaturan politik dunia selama lebih dari tiga belas abad. Bahkan menurut banyak sejarawan bahwa Barat sangat berhutang jasa dalam kemajuan peradaban kepada negara khilafah. Sebut saja Montgomery Watt dalam bukunya The Influence of Islam on Medieval Europe (1994) menyatakan, “Peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri, tanpa dukungan peradaban Islam (Khilafah) yang menjadi motornya, kondisi Barat tidak akan ada artinya”. 

Bahkan keberhasilannya dalam mensejahterakan umat manusia tak lagi diragukan. Will Durant, seorang sejarawan barat, dalam bukunya The Story of Civilization, vol. XIII menyatakan,  “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka….” 

Oleh karena itu, kaum muslimin harus membuka mata dan pikirannya, sudah bukan saatnya termakan dengan fitnah-fitnah murahan yang sengaja dibuat oleh para pembenci Islam untuk melemahkan dan menjegal kebangkitan Islam. Sudah seharusnya  kaum muslimin menyadari bahwa khilafah adalah satu-satunya harapan yang mampu mensolusi permasalahan manusia saat ini.  Saatnya kaum muslimin menjadikan khilafah sebagai mainstrem perjuangan kaum muslimin, karena hanya dengan khilafah-lah kesejahteraan umat manusia akan terwujud dengan nyata karena dijamin oleh negara, bukan hanya sekedar janji kampanye semata.[]

Oleh : Miftah Karimah Syahidah
Koordinator Back to Muslim Identity Community Jember

Posting Komentar

0 Komentar