TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Khilafah Menyatukan Seluruh Umat, Termasuk Rohingya



Diskriminasi, penindasan, dan kekerasan tak henti-hentinya dilancarkan terhadap kaum muslim di beberapa negara. Salah satunya genosida terhadap etnis Rohingya yang hampir seluruhnya beragama Islam.

Penyebab terjadinya konflik terhadap salah satu etnis muslim di Myanmar (dulu Burma) bukan karena faktor agama saja melainkan adanya faktor ekonomi dan politik juga. Awal mula konflik ini karena adanya ketakutan dan rasa iri kaum buddha Burma terhadap pendatang muslim. Mereka takut jika kaum muslim Rohingya yang penduduknya hanya sebanyak empat persen dari populasi Burma akan mengambil-alih kekuasaan di negara tersebut. Sehingga mayoritas Burma kerap mencaci-maki mereka. Konflik ini terjadi sekitar tahun 1978 dan terus berulang beberapa tahun sekali hingga saat ini.(Matamatapolitik.com 12/09/2017)

Nasib Muslim Rohingya

Pencabutan Kartu Identitas Penduduk yang dikenal sebagai Kartu putih bagi orang Rohingya pada 31 Maret 2015 menjadi salah satu faktor yang membuat mereka nekat mempertaruhkan nyawa mengarungi lautan untuk mengungsi ke negara lain, salah satunya Indonesia. Dicabutnya kartu tersebut berarti sudah tidak dianggapnya warga Rohingya sebagai warga negara Myanmar. Hal ini menyebabkan tidak adanya tempat untuk mereka di negara itu. Kebebasan dan keselamatan mereka seakan direnggut bersamaan dengan dicabutnya kartu kependudukan tersebut.(bbc.com 22/05/2020)

Selain karena dicabutnya kartu kependudukan mereka, faktor diskriminasi dan penindasan yang telah mereka alami membuat mereka bersusah payah memohon pertolongan dari negara lain. Ada penolakan terhadap kedatangan mereka, namun ada pula yang dengan senang hati menerima mereka.

Kamis, 25 Juni 2020 nelayan Indonesia menemukan hampir 100 orang etnis Rohingya terdampar di tengah laut dengan kondisi kapal yang rusak. Sebanyak 94 orang pengungsi Rohingya yang diselamatkan nelayan Aceh sempat dilarang turun dari kapal. Namun warga berbondong-bondong ke lokasi meminta para pengungsi untuk diselamatkan dan ditarik ke daratan (detik.com 25/06/2020)

Muslim itu Ibarat Satu Tubuh

Mendengar kabar tentang pembunuhan, penindasan, dan diskriminasi terhadap kaum muslimin di negara ini maupun di belahan dunia lainnya membuat hati ini memanas. Sedih dan turut merasakan apa yang mereka rasakan. Ingin rasanya mulut mengeluarkan caci maki yang sama terhadap musuh Islam yang memerangi kaum Muslimin. Namun lebih baik kami menyimpan sumpah serapah itu dan menggantinya dengan doa kepada Allah SWT.

Masyarakat Aceh yang menyaksikan proses penyelamatan etnis Rohingya di pesisir pantai utara Aceh itu tak kuat menahan tangisnya. Para etnis Rohingya yang perlahan mendekati pantai pun ikut menangis haru. Selepas turun dari perahu yang sudah berkarat seseorang dari mereka memeluk erat warga yang menyelamatkannya dan berterimakasih. Terasa suasana kemanusiaan yang mengharu biru disana. Sungguh terenyuh hati ini walaupun tak melihat secara langsung hal tersebut. Meskipun sebelumnya perahu tersebut akan ditarik menjauh oleh aparat yang bertugas, namun sebuah kalimat singkat dari masyarakat sungguh berarti banyak bagi mereka “Tarik ke darat, biar kami yang beri makan!”

Memang seperti itulah seharusnya seorang muslim. Karena Muslim itu diumpamakan satu tubuh. Bila ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka bagian yang lain juga akan merasakan sakitnya. Karena satu tubuh,kaum mukmin harus secara otomatis merasakan penderitaan dan kesulitan yang dirasakan saudaranya yang lain. Seraya berupaya agar penderitaan dan kesulitan itu berkurang atau hilang sama sekali.

Rasulullah bersabda, “ Perumpamaan orang-orang yang beriman didalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Cukup Sudah, Saatnya Muslim Bergerak

Berdoa dan tawakkal itu perlu, namun sebelumnya perlu dibarengi dengan ikhtiar yang maksimal. Sampai kapan umat muslim harus terlunta-lunta dan bersabar terhadap segala kezaliman pihak yang berkuasa?

Tidak ada yang namanya ashabiyah (cinta golongan) dalam islam termasuk didalamnya nasionalisme, sukuisme, dan isme-isme yang lainnya. Karena hal tersebut tidak mendatangkan kesejahteraan bagi umat manusia. Lambatnya bahkan tidak adanya upaya dari para penguasa untuk memberikan keadilan dan perlindungan terhadap kaum muslim adalah timbul dari paham ashobiyah tersebut yang juga dilandasi dengan asas manfaat.

Selain itu, banyaknya konflik kemanusiaan terhadap kaum muslimin dikarenakan sistem yang menaungi umat islam saat ini adalah sistem yang salah. Jika kita ibaratkan sistem itu adalah sebuah wadah. Dan sistem yang salah kita ibaratkan sebagai wadah yang kotor, ketika wadah kotor itu diisi air yang bersih apa yang akan terjadi? Ya, air bersih tersebut akan tercemar dan menjadi air yang kotor. Bagaimana solusinya? Tidak lain dengan mengganti wadahnya.

Sistem kapitalis dan komunis yang saat ini saling bersikutan untuk mengunggulkan dirinya di dunia adalah sistem bobrok yang berasal dari hawa nafsu manusia. Asas yang mereka gunakan adalah ‘Manfaat’. Jika ada manfaatnya, kita tolong. Jika tidak bermanfaat atau menghalangi keinginan kita, kita biarkan atau kita jatuhkan. Begitulah prinsip kedua sistem tersebut.

Oleh karena itu, kaum muslim perlu menyadari bagaimana sistem yang benar itu. Masyarakat muslim perlu membuka mata dan hatinya terhadap keberadaan sistem yang hakiki dan sesuai fitrah manusia. Setelah mengetahui keberadaan sistem yang benar, saatnya bergerak dan berjuang menegakkan sistem tersebut.

Islam adalah Sistem yang Hakiki, Darinya Terpancar Solusi

Menurut KBBI pengertian sistem adalah susunan yang teratur dari pandangan, teori, asas, dan sebagainya. Sistem yang hakiki adalah sistem yang diatur oleh Sang Pencipta dan hukum didalamnya bukanlah hukum yang dibuat oleh manusia yang lemah, terbatas, dan saling tergantung satu sama lain.

Sistem yang hakiki adalah sistem yang dibuat oleh pencipta kita, Allah SWT. Yaitu sistem Islam.

Dalam Islam, tidak ada konsep “nation state” (negara bangsa) yang menyebabkan negara -negara lain kesulitan menolong muslim Rohingya. Karena seperti hadits Rasulullah diatas yang menyebutkan bahwa muslim itu ibarat satu tubuh. Jadi wilayah bukanlah alasan untuk enggan menolong sesama muslim.

“Janganlah kamu sekalian saling mendengki, saling menipu, saling memarahi dan saling membenci. Muslim yang satu adalah bersaudara dengan muslim yang lain. Oleh karena itu, ia tidak boleh menganiaya, membiarkan, dan menghinanya. Takwa itu ada disini (Rasulullah menunjuk dadanya tiga kali). Seseorang itu cukup dianggap jahat bila ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap Muslim yang satu terhadap Muslim yang lain itu haram mengganggu darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR Muslim)

Sistem islam mengambil hukum pada Al-Qur’an dan Hadits. Muslim yang menjalankan hukum tersebut harus berlandaskan ketakwaan kepada Allah sehingga minim sekali kedzaliman terhadap muslim maupun kafir dzimmi. Karena aturan didalamnya sudah sesuai dengan fitrah manusia.

Dalam islam pemimpin (khalifah) adalah sebagai perisai yang melindungi seluruh muslimin tak terkecuali. Tidak dibatasi wilayah, dan tidak berasas pada manfaat dan bertujuan semata-mata untuk meraih Ridha Allah saja. Dan akan menyelesaikan permasalahan konflik dunia dengan persatuan karena siapapun yang ingin taat dengan syariat tetap mendapat perlindungan walau dia seorang kafir, asalkan ia statusnya adalah ahlul dzimmah atau orang kafir yang membayar jizyah maka ini adalah tanda ketundukkan sesuai Qur’an Surat At taubah ayat 29. Bahwa yang wajib diperangi hanyalah kafir yang memerangi Allah dan Rasul Nya secara terang-terangan menimbulkan kekacauan.

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At Taubah: 29)

Dan berdasarkan hadits shahih, yang berstatus kafir dzimmi mendapat perlindungan. “Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. ” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Maka selayaknya, semua manusia memperjuangkan tonggak perdamaian dunia yaitu Khilafah Islamiyyah karena hanya dengan tegaknya Khilafah, syariah Islam mampu dterapkan serta mampu menyatukan ummat seluruhnya. Wallohu’alam bi ash shawab.[]

Oleh : Fina Fatimah

Posting Komentar

0 Komentar