TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Khilafah: Los Wae Gak Usah Rewel



  Dalam hidup selalu ada cara pandang berbeda. Pun dengan ‘khilafah’ yang menjadi buah bibir umat manusia. Selalu ada manusia yang rewel dan ngeyel terkait khilafah. Lalu muncullah alasan halusinasi seolah khilafah itu hantu di siang hari. Misalnya, khilafah tidak relevan saat ini, memecah belah, menghilangkan Indonesia, mengganti Pancasila, hingga nasib minoritas yang selalu terhina. Ada dua kemungkinan pikiran itu muncul. Pertama, dia tahu, tapi tidak mau tahu dan ingin membuat khilafah semakin jauh. Kedua, dia tidak tahu, tapi tidak mau tahu untuk mengkaji apa sesungguhnya khilafah dari sumber ajaran Islam kaffah.

  Kondisi itu pun diperunyam dengan gagasan liberalisme dan sekularisme yang telah bercokol dalam benak umat manusia. Alhasil, khilafah ajaran Islam dan pengembannya kerap menjadi bahan olok-olokan. Yang justru cukup mencengangkan ialah upaya penghapusan dan kriminalisasi khilafah. Siapa pun yang masih memiliki nurani dan akal sehat, pasti berfikir cerdas. Siapa pun yang memiliki hati hasad, pasti berupaya sekuat tenaga mengaburkan makna khilafah. Bahkan, ada yang rela mengarusutamakan jelek khilafah demi rupiah. 

  Cukup menarik memang mengamati opini dan perjuangan khilafah. Halangan dan rintangan rancangan manusia tiada guna. gelontoran dana mencegah khilafah pun habis sudah. Pencari pundi-pundi dolar dalam proyek menenggelamkan opini khilafah mati kutu tak berdaya. Penguasa despotik dan diktator pun tak kuasa dicaci dan dihina rakyatnya. Mereka pun merenung dalam hati kecilnya bahwa fajar khilafah tampak di depan mata. Alhasil, semua bingung dan linglung.

  Karenanya, inilah momentum puncak perjuangan khilafah. Mengambil istilah anak zaman now yang tak mau repot, los wae gak usah rewel (terus saja tak perlu banyak membantah). Mengapa bisa demikian? Mari simak analisisnya:

Pertama, Khilafah ajaran Islam. Sudah banyak penjelasan dalam fiqh sunnah dan siyasah terkait khilafah. Imam madzhab pun telah bersepakat terkait keberadaan kesatuan umat dalam khilafah. Islam dan syariahnya ibarat pondasi dan penguasa itu penjaganya.

Kedua, para pembenci Khilafah sudah kehabisan bahan baku. Coba tengok dan amati lebih jauh sepak terjang pembenci khilafah. Bahasannya itu-itu saja dengan judul yang tak berubah. Misal, Mewaspadai Gerakan Khilafah, Hati-Hati Khilaper Merong-rong  NKRI, Islam Yes Khilafah No, dan lainnya. Entah itu sengaja untuk mengais rupiah, atau memang dari hati nurani melawan Khilafah ajaran Islam. Bukannya tersohor, malah mereka tekor.

Ketiga, kejujuran intelektual publik. Hal ini penting karena publik kini bisa mudah mengakses hakikat khilafah sesungguhnya. Istilah Khilafah kini sudah masuk ke rumah-rumah umat manusia tanpa permisi dan mengetuk pintu. Lebih hebohnya lagi, upaya monsterisasi khilafah malah menjadikan Khilafah menggema. Aneh tapi nyata. Publik juga manusia. Mereka punya akal dan pemikiran. Tak bisa mudah dibodohi dan ditakut-takuti.

Keempat, cahaya kemenangan Islam. Banyak kelompok dan pergerakan mengalami kebuntuan perjuangan. Untuk menentukan titik akhir terkadang mengalami kesulitan. Kalau perjuangan politik Islam seringnya berujung di gedung dewan. Kalu berjuang untuk sosial, akhlak, pendidikan, kesehatan seringnya berujung pada lembaga formal mengambil peran kenegaraan. Kalaupun gerakan ukhuwah, masih belum bersatunya. Meski demikian, semua bercita-cita sama untuk kemuliaan Islam. Nah, tatkala menginginkan kemuliaan Islam dan rahmatan lil ‘alamin jalannya dengan menegakkan Khilafah. Khilafah sebagai rumah besar umat manusia dalam mengatur dunia lebih baik dan barokah.

Kelima, ajal komunisme dan kiamat kapitalisme. Dua ideologi itu sudah mengatur dunia. Hasilnya, kesengsaraan hidup karena jauh dari syariah. Bumi sakit. Manusia berpenyakit. Kehidupan sulit. Komunisme dan kapitalisme gagal segagal-gagalnya. Keduanya menjadi pandemi dan tak mampu bersolusi. Inilah masa Allah menyiapkan umat manusia menerima Islam sebagai pengatur alam semesta.

  Oleh karena itu, di puncak perjuangan khilafah ini. Lanjutkan saja tak perlu dengar kata-kata yang menghambat dalam dakwah. Los wae gak usah rewel. Teruskan perjuangan. Kemenangan Islam di masa depan. Dunia akan menjadi saksi, menjadi pejuang tangguh atau penghalang yang peragu?

Oleh Hanif Kristianto 
Analis Politik-Media di Pusat Kajian dan Analisis Data

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Argumennya dangkal gini khilafah. Buktinya tekor apaan? Gagal apaan? Udahlah narasi begini cuma kenceng di sosmed doang

    BalasHapus