Khilafah-isme Itu Ujaran Kebencian yang Memecah Belah, padahal Khilafah Itu Ajaran Islam yang Mempersatukan


Di tengah wabah Corona muncul RUU HIP. Di tengah derasnya penolakan publik atas RUU HIP, muncul isu Khilafahisme. Ya, nampaknya ada upaya mengalihkan isu RUU HIP dengan isu khilafahisme. 

Publik dengan cepat dapat mencium ada aroma yang aneh dengan dimunculkannya isu Khilafahisme itu. Yang di tolak Publik itu RUU HIP, tapi kenapa justeru yang dibenci malah ajaran islam tentang khilafah? Kenapa begitu benci dengan khilafah sehingga warisan Nabi SAW itu, kok isukan berbahaya dan disejajarkan dengan komunisme kapitalisme-liberalisme, radikalisme yang dikenal sangat negatif itu? 

Jauh hari, Allah SWT sudah mengingatkan kita bahwa memang ada jenis orang yang begitu benci dengan ajaran islam dari Mulutnya maupun dalam dadanya. Namun kita diminta memahami dan tetap menasihati mereka dengan baik. Sebagaimana termaktub dalam kitab suci al-quran;

“…Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” ('Āli `Imrān):118 

Dalam kitab tafsinya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan watak orang munafik. Mereka akan berusaha dengan sekuat tenaga dan kemampuan mereka tanpa henti-hentinya untuk menimbulkan mudarat terhadap kaum mukmin. Mereka menggunakan segala cara, dengan tipu daya serta kepalsuan yang mampu mereka kerjakan. Mereka suka dengan semua hal yang mencelakakan kaum mukmin. Mereka gemar pula melukai kaum mukmin serta menyukai hal-hal yang memberatkan kaum mukmin.

Di dunia ini memang ada dua kubu, yang satu selalu mengajak kebaikan dan yang satu lagi mengajak kepada maksiat. Hal ini digambarkan dalam hadits Rasulullah SAW sebagiamana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Nasai:
Tidak sekali-kali Allah mengutus seorang nabi dan tidak pula mengangkat seorang Khalifah, melainkan didampingi oleh dua teman terdekatnya. Seorang teman menganjurkannya untuk berbuat kebaikan dan memberinya semangat untuk melakukan kebaikan itu. Dan teman lainnya selalu memerintahkan kejahatan kepadanya dan menganjurkan kepadanya untuk melakukan kejahatan, sedangkan orang yang terpelihara ialah orang yang dipelihara oleh Allah.

Oleh karenanya kita bisa memahami kenapa ada orang yang begitu benci dengan ajaran agama. Bahkan berani merendahkan ajaran agama yang mulia dengan menyejajarkan ajaran buatan manusia yang sudah terkesan negatif, misalnya radikalisme, terorisme, marxisme-komunisme, kapitalisme-liberalisme, dll. Entah sengaja atau belum paham, sehingga tak bisa membedakan mana ajaran agama dan mana ajaran atau paham buatan manusia. 

Terkait dengan munculnya isu Khilafah-isme itu, Penulis memberikan catatan 5 (lima) hal sebagai berikut;

PERTAMA; upaya mengalihkan perhatian publik (smoke screen). Ditengah derasnya penolakan publik atas RUU HIP itu, munculnya isu Khilafahisme bisa mengalihkan dan memecah sebagian perhatian publik. Apalagi sudah ada yang hendak memperkarakan para inisiator RUU HIP itu ke ranah hukum karena diduga hendak mengganti Pancasila menjadi Trisila dan Ekasila.

Diantara berbagai Isu yang sangat menarik, khilafah dianggap lebih menarik bagi publik. Jika dibandingkan dengan isu lainnya semisal isu korupsi; kaburnya Harun Masiku, pulangnya Joko Tjandra, tertangkapnya Bupati dan DPRD karena korupsi, dll. Juga bila dibandingkan dengan isu UU Minerba, Isu BPJS, dll. Apalagi menurut NIC/lembaga AS, tahun 2020 ini diprediksi akan muncul “New Chaliphate”.  Inilah diantara alasan mengapa dimunculkan opini khilafahisme ditengah publik.

KEDUA; salah paham terhadap Khilafah sebagai ajaran agama. Dalam hal ini ajaran islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang kemudian dilanjutkan oleh para Khalifah setelah beliau. Karena ajaran agama maka Ia tak layak disejajarkan dengan paham lain buatan manusia yang bukan ajaran agama. Maka khilafah tak pantas ditambahi isme sebagaimana paham buatan manusia seperti Kapitalisme, komunisme, radikalisme, dll.

Jika kesesatan berfikir tentang khilafah dibiarkan, maka bisa saja nanti ajaran islam yang lain akan juga disejajarkan dengan ajaran atau isme buatan mausia. Bisa saja mereka akan melecehkan kesucian ajaran haji dengan haji-isme, jihad-isme, zakat-isme, jilbab-isme, dll. Padahal itu jaran islam yang pasti baik buat manusia karena datang dari Allah SWT, sang pencipta Alam semesta.

KETIGA; Menodai ajaran agama. Jika sengaja menyejajarkan ajaran agama dengan paham lain buatan manusia, maka itu merendahkan bahkan melecehkan ajaran agama. Menyamakan Khilafah dengan paham komunisme, radikalisme dan paham lain yang negatif adalah termasuk merendahkan ajaran agama islam. Bahkan dapat dikategorikan menodai ajaran agama islam.

Menurut pakar hukum, DR. Abdul Chair Ramadhan, bahwa hal itu dapat dinilai sebagai penistaan agama. Dalam hal ini dapat dinilai sebagai bentuk permusuhan atau kebencian terhadap ajaran agama Islam. Dapat dinilai sebagai bentuk pelanggaran pasal 156a KUHP bahwa harus diingat Unsur utama untuk dapat dipidananya Pasal 156a adalah unsur sengaja jahat untuk memusuhi, membenci dan/atau menodai ajaran agama _(malign blasphemies)_. Sedangkan menyatakan terkait khilafah sebaga ideologi kemudian dikampanyekan dan dibuat opini seolah-olah sesuatu kejahatan dihadapan dan/atau ditujukan kepada publik, artinya dapat dinilai unsur sengaja, terpenuhi;

KEEMPAT, dakwah tentang Khilafah sebagaimana tentang sholat, haji, zakat dan ajaran islam lainnya tergolong sedang menjalankan ajaran agama. Hal itu dilindungi konstirusi karena Islam adalah salah satu agama resmi yang diakui negara. Sedangkan konstitusi memberikan jaminan umat Islam untuk menjalankan ibadah sesuai agamanya berdasarkan Pasal 28E, Pasal 281 ayat (1), Pasal 28J, dan Pasal 29 UUD 1945. Sebagai ajaran Islam Khilafah tetap sah dan legal untuk didakwahkan ditengah-tengah umat. 

Mendakwahkan ajaran Islam Khilafah termasuk menjalankan ibadah berdasarkan keyakinan agama Islam. Hal ini dijamin konstitusi. Oleh karena itu siapapun yang menyudutkan ajaran Islam, termasuk Khilafah maka dapat dikategorikan tindak pidana penistaan agama.

KELIMA; Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam. Khilafah bukanlah Ideologi. Ia Sebuah sistem Pemerintahan yang diwariskan oleh baginda Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya dan kaum muslimin.  

Ketika baginda Nabi Muhammad SAW wafat, sistem pemerintahan beliau ini dilanjutkan oleh para sahabatnya.  Sistem ini kemudian dikenal dengan sebutan yang khas, yaitu sistem Khilafah. Sedang pemimpinnya disebut dengan para khalifah, bukan Presiden, bukan Kaisar, juga Bukan para raja.

Sejarah mencatat bahwa pemimpin pemerintahan setelah baginda nabi SAW wafat disebut khalifah. Tak heran jika kita kenal Nama khalifah Abubakar, Khalifah umar, kha;ifah Utsman, khalifah Ali dll. 
sejarah tak pernah mencatat dengan sebutan Presiden Abubakar atau Presiden Umar, kaisar Utsman, Raja Ali, dll.

Karena khilafah merupakan sistem Pemerintahan warisan Nabi Muhammad SAW, maka Menyatakan Khilafah sebagai paham atau Ideologi, itu sama artinya belum bisa bedakan antara Ideologi dan Sistem Pemerintahan. Jika belum paham maka masih bisa bertanya dan mencari tahu, lalu minta maaf jika sudah salah. Namun jika sudah paham tapi sengaja melakukannya maka terkategori niat jahat untuk melakukan makar terhadap ajaran islam. 

Khilafah sebagai ajaran agama islam berasal dari Allah SWT, bukan buatan manusia. Tak pantas disandingkan dan disejajarkan dengan ajaran lain buatan manusia. Menyamakannya berarti telah menista dan melakukan makar terhadap Allah. 

Jika ingin membandingkan, maka bandingkanlah dengan yang sebanding. Bandingkanlah ideologi dengan ideologi dan sistem dengan sistem. Sistem khilafah bisa dibandingkan dengan sistem Demokrasi. Ideologi kapitalisme bisa dibandingkan dengan ideologi islam atau dibandingkan dengan ideologi sosialis-komunis.

Sudah saatnya kita sesama anak negeri ini menghentikan tudingan dan fitnah atas khilafah. Ia bagian dari ajaran agama islam, bukan ajaran buatan manusia. Tak pantas disejajarkan dengan paham buatan manusia yang negatif seperti komunisme dan radikalisme. Hentikan membuat narasi yang mengakibatkan sesama anak negeri ini saling curiga, saling tuding dan saling berhadapan. Saatnya menyatukan potensi yang beragam demi kemajuan bersama.[]

Oleh Wahyudi al Maroky
Dir. Pamong Institute

NB; Penulis pernah belajar pemerintahan di STPDN angkatan ke-04 dan IIP Jakarta angkatan ke-29 serta MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

Posting Komentar

0 Komentar