TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ketika Pernikahan Tak Seindah Drakor


Angka perceraian di Kabupaten Bener Meriah terbilang cukup tinggi pada tahun 2019 yaitu sebanyak 300 lebih kasus dan didominasi cerai gugat. Panitera Mahkamah Syariah Simpang Tiga Redelong, Sukna kepada Serambinews.com, Rabu (15/7/2020) menyebutkan, data Januari sampai dengan Juli 2020, perkara yang masuk ke Mahkamah Syariah Simpang Tiga Redelong sebanyak 256 perkara. 

Disebutkannya, dari 256 perkara, diantaranya sebanyak 200 perkara gugatan, kemudian sebanyak 51 perkara permohonan serta sebanyak 5 perkara jinayat. Lanjutnya, dari 256 perkara tersebut didominasi kasus istri yang menggugat suami (cerai gugat) sebanyak 117 perkara, dan suami mencerai istri (cerai talak) sebanyak 71 perkara. (Serambinews.com)

Lagi-lagi meningginya kasus perceraian ditengah pandemic juga dialami oleh Aceh, dimana dalam kasus ini merupakan ibu-ibu muda yang tidak siap untuk menjalani penikahan. Pasalnya mereka menikah di usia yang masih terbilang muda yakni 19 tahun. Menurut mereka ada begitu banyak konfik dalam rumah tangga, dari masalah ekonomi, pekerjaan suami yang tidak jelas, masih bergantung pada ortu dan tidak punya ilmu pastinya. Sehingga pernikahan hanya mampu bertahan seumur jagung.

Jika kita telisik lagi factor ekonomi memang paling dominan sangat mempengaruhi masyarakat kita saat ini. Tidak bisa dipungkiri memang sebelum pandemic mencari nafkah terbilang susah apalagi sekarang. Sehingga para suami ini juga kebingungan antara mencari nafkah yang halal atau haram ditengah situasi yang semakin tak pasti ini. Mereka keluar ditengah badai yang bisa kapan saja merengut nyawanya demi bisa menafkahi keluarganya. Selama pandemic meski suami sering dirumah pun tak membuat istrinya semakin baik, malah sebaliknya suami akan disuruh keluar rumah untuk tetap mencari nafkah.

Memang selama pandemic angka perceraian sangat luar biasa bukan hanya Aceh dan Indonesia namun hampir di seluruh dunia. Ini menjadi sebuah tanda Tanya, apakah sekarang perceraian sedang menjadi sebuah trend dikalangan masyarakat kita? Yang dimana pelakunya adalah para wanita. Biasa para wanita akan tetap mempertahankan pernikahannya karena mempertimbangkan factor keluarganya, anak-anak dan tidak ingin menjadi janda kecuali dipisahkan dengan kematian. 

Menikah adalah sebuah jalan yang Allah ridhoi, dimana salah satu menikah adalah untuk memperbanyak keturunan. Dan menikah pada dasarnya menyatukan dua manusia dengan dua perbedaan dan dua keluarga. Maka setiap masalah yang dialami haruslah kedua belah pihak bisa mengambil keputusan secara bijak dan menjadi penengah untuk keduanya. Namun, kadang jika pernikahan masih dibawah umur maka bisa dipastikan bahwa mereka cenderung bergantung pada orangtua. Dari masalah mencari nafkah hingga mengasuh anak. 

Sungguh ironis pernikahan yang didamba dan dilakukan untuk mencegah kemaksiatan merajalela malah di salah artikan. Karna pernikahan ini bukanlah sesuatu yang mudah dijalani tanpa ilmu, maka harus punya ilmu baru menikah. Kondisi inilah yang membuat sebagian orang berfikir menikah itu karena melihat factor umur dan ekonomi. Harusnya yang menjadi landasan sebuah pernikahan adalah keimanan dan ketakwaan. Tanpa itu kita akan melihat sendiri bagaimana kehancuran dari sebuah pernikahan yang sacral terlihat menjadi seperti sebuah permainan.

Memang, perceraian bukan merupakan hal yang dilarang dalam Islam, sekalipun ia merupakan aktivitas yang dibenci oleh Allah SWT. Sabda Nabi (Saw.): “Allah tidak menjadi sesuatu yang halal, yang lebih dibenci oleh-Nya dari talak.” Dan lagi: “Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah ialah talak.” (Riwayat Abu Dawud).

Perceraian memang bukanlah sesuatu yang dilarang oleh agama, apatah lagi jika memang banyaknya perbedaan prinsip yang menjadi jurangnya. Inilah yang di inginkan Kapitalis,  mengambil banyak peran yang sangat luar biasa dalam merusak rumah tangga yang ingin diwujudkan. Dari segala sisi dihancurkan untuk kemudian membiarkan perzinahan terjadi, rusaknya generasi dan pasti murkanya Allah menghampiri.

Keluarga adalah sebuah institusi terkecil dari pelaksana syariat Islam. Dari keluargalah akan lahir generasi yang kuat akidah dan akhlaknya untuk mewujudkan kembali Islam sebagai sebuah negara. Disinilah Islam memandang perlu untuk melindungi sebuah keluarga dikarenakan belum adanya daulah, maka para pasangan ini harus semakin kokoh menjaga pernikahan agar tak mudah dihancurkan ombak dan badai.

Nantinya ketika daulah tegak dan Islam diterapkan dimuka bumi ini, semua akan diperhatikan oleh khalifah. Daulah juga akan memberikan fasilitas kepada keluarga ini, memberikan pekerjaan yang layak untuk suami. Agar kemudian istri dapan mendidik anak-anaknya dengan baik, karena ibu adalah madrasatul ula bagi anaknya. 

Dan sebelum menikah maka akan dipahamkan dulu tentang ilmu pernikahan, hak dan kewajiban. Sehingga tidak akan mengulang kejadian yang sama seperti sekarang yakni menikah namun kedua-duanya mencari nafkah tapi untuk dirinya sendiri. Pura-pura lupa akan hak dan kewajibannya yang akhirnya ketukan palu di persidangan pun terjadi. Sirna sudah impian pernikahan layaknya seperti drakor yang sering ditonton semasa remaja, ternyata pernikahan lebih rumit lagi konfliknya.

Sudah selayaknya kapitalis dibuang dan mengambil Islam sebagai sebuah solusi untuk semua permasalah umat. Tanpa Islam kita ibarat layangan yang putus terbang tak tentu arah, diterpa angin kiri kanan oleng hingga nyungsep ke bawah dan robek tinggal tulang saja. Dan Islam akan menyatukan semua perbedaan itu dengan visi misi yang sama yaitu melanjutkan kehidupan Islam. Wallahu ‘alam.[]

Oleh : Meutia Teuku Syahnoordin, S.Kom
Aktivis Muslimah Peradaban Aceh


Posting Komentar

0 Komentar