TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ketika Buku Pelajaran Dianggap Radikal



Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menyatakan bahwa pihaknya telah menghapus konten-konten terkait ajaran radikal dalam 155 buku pelajaran agama Islam. Penghapusan konten radikal merupakan bagian dari program penguatan moderasi beragama yang harus dibangun dari sekolah. Fachrul Razi menjelaskan buku yang direvisi berasal dari 5 mata pelajaran yakni aqiqah akhlak, fiqih, sejarah kebudayaan Islam, Al-Qur'an dan hadist serta bahasa Arab. Fachrul memastikan 155 buku pelajaran agama Islam yang telah direvisi itu sudah akan digunakan pada tahun pelajaran 2020/2021 (tintasiyasi.com 6/7)

Keputusan itu sudah terbit dalam KMA nomor 183 tahun 2019. KMA ( Keputusan Menteri Agama ) mengatakan kurikulum Pendidikan Agama dan bahasa Arab pada Madrasah sebagaimana tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari keputusan ini. 

Kurikulum tersebut menjadi acuan bagi Madrasah dan pemangku kepentingan lainnya dalam menyelenggarakan pendidikan dan madrasah. Kurikulum sebagaimana terdapat dalam lampiran KMA nomor 183 Tahun 2019 mulai berlaku pada Tahun pelajaran 2020-2021.

Adapun Tujuan Pengembangan Kurikulum PAI dan Bahasa Arab menurut Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah (KI dan KD mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab), Pengembangan kurikulum PAI bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki pola pikir dan sikap keagamaan yang moderat, inklusif, berbudaya, religius serta memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, produktif, kreatif, inovatif, dan kolaboratif serta mampu menjadi bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan peradaban dunia. 

Sedangkan Pengembangan kurikulum Bahasa Arab bertujuan mempersiapkan peserta didik yang memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Arab sebagai alat komunikasi global dan alat untuk mendalami agama dari sumber otentik yang pada umumnya menggunakan Bahasa Arab dan melalui proses rantai keilmuan (isnad) yang terus bersambung hingga sumber asalnya yaitu al-Qur'an dan Hadits.

Pelajaran Agama Islam atau bahasa Arab atau yang lainnya yang diterapkan pada kurikulum 2013 tidaklah ditemui sesuatu yang aneh didalamnya. Tetapi dimata pemerintah, kata-kata yang terdapat dalam buku-buku tersebut seperti adanya kata jihad dan khilafah termasuk dalam konten radikal. Pemerintah mengharapkan Islam sebagai agama yang moderat dapat di pahamkan kepada anak anak sekolah. 

Fakta sejarah memperlihatkan bahwa jihad dan khilafah adalah kata kunci perlawanan kaum Muslim terhadap imperialisme yang dilakukan Barat terhadap negeri-negeri kaum Muslim. Pahlawan nasional seperti Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, KH Zainal Mustofa di Tasikmalaya, Panglima Besar Soedirman dan Bung Tomo bergerak mengobarkan perlawanan terhadap kaum penjajah karena dorongan iman dan jihad. Perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda juga mendapat bantuan besar dari Khilafah Utsmani.

Dinegeri dengan penduduk mayoritas muslim. Islam selalu menjadi tertuduh dan di diskreditkan.

Padahal, Islam adalah ajaran yang mulia. Tak hanya melindungi kaum muslim tetapi juga non muslim. Dalam sejarah tak pernah terjadi pemaksaan agama Islam kepada non muslim. Dan sejarah menyaksikan para Khalifah selalu menjadi penolong untuk berbagai macam agama.

Reza Shah-Kazemi dalam bukunya, The Spirit of Tolerance in Islam, menjelaskan bahwa Khilafah Utsmani pernah memberikan perlindungan kepada komunitas Yahudi. Seorang tokoh Yahudi terkemuka, Rabbi Isaac Tzarfati, pernah menulis surat kepada Dewan Yahudi Eropa Tengah setelah berhasil menyelamatkan diri dari persekusi di Eropa Tengah dan tiba di wilayah Khilafah Utsmani menjelang 1453 M. 

Melalui suratnya, pria kelahiran Jerman itu memuji Khilafah Utsmani sebagai “Negeri yang dirahmati Tuhan dan penuh kebaikan.” Selanjutnya dia mengaku, “Di sini (aku) menemukan kedamaian dan kebahagiaan. Kami (kaum Yahudi) tidak ditindas dengan pajak yang berat. Perniagaan kami dapat berlangsung bebas. Kami dapat hidup dalam damai dan kebebasan.”

Moderasi ajaran Islam menjadi Islam yang moderat adalah upaya melumpuhkan kaum muslim. Kaum imperialis dulu dan sekarang paham bahwa faktor pendorong perlawanan umat muslim terhadap rencana jahat mereka adalah kecintaan dan ketaatan secara total pada Islam. Selama umat Islam bersikap demikian, makar mereka akan selalu dapat dipatahkan. 

Namun, jika umat Islam telah melepaskan diri dari Islam kaffah, lalu memilih jadi umat yang moderat, maka mudah bagi para penjajah untuk melumpuhkan dan selanjutnya merusak umat ini. Karena itu langkah deradikalisasi ajaran dan sejarah Islam adalah tindakan yang berbahaya bagi perkembangan umat kedepannya.[]

Oleh : Ummu Abdilla

Posting Komentar

0 Komentar