TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kemenkeu soal Dampak Corona: Hidup Makin Susah, Pengangguran Meningkat

Suasana pemukiman bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta, Jumat (17/7/2020). Badan Pusat Statistik menyebut tingkat kemiskinan di RI kini membengkak jadi 9,78 persen dari total populasi nasional akibat pandemi virus corona COVID-19. Sumber photo: Liputan6.com/Immanuel Antoniu

TINTASIYASI.COM - Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu menyadari dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19 begitu besar bagi Indonesia. Kondisi itu membuat seluruh masyarakat dan berbagai sektor mengalami gejolak yang luar biasa.

"2020 sangat berbeda, susah hitung dampak terhadap perekonomian. Tapi kita bsia melihat tiap hari, tiap pekan saudara kita hidup makin susah, pengangguran meningkat," kata dia dalam acara diskusi virtual, Senin (20/7).

Dia mengatakan, tidak hanya berdampak pada masyarakat luas namun pandemi ini juga berpengaruh besar kepada sektor dunia usaha. Apalagi setelah adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar tetap dilakukan pemerintah membuat penjualan sektor tersebut mengalami penurunan.

Menurutnya, kondisi tersebut sangat penting untuk dipikirkan bagaimana caranya bersama-sama membangun sebuah kebijakan yang mendukung dari seluruh aspek. Artinya pemerintah tidak bisa bekerja secara sendiri atau sepihak, melainkan perlu dukungan dari seluruh pemangku kepentingan lain.

"Ini masalah kita sebagai satu bangsa. Ini yang kemudian menurut kami cukup membuat semangat kita tinggi gimana semua komponen masyarakat usaha keras keluar dengan ide cara-cara yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya," kata dia.

Dia menambahkan kegentingan yang dihadapi sekarang berbeda sekali dengan krisis terjadi pada 1998. Pemerintah pun menyadari dampak pandemi ini akan terjadi, namun tidak diketahui kapan ini akan berakhir.

"Bahkan nggak bsia lihat musuhnya, dan sangat sulit menghitung seberapa lambat harusnya maju, ini bener-bener hasil berpikir bersama, seluruh komponen bangsa bersatu padu di bawah kepemimpinan Jokowi bergerak bersama-sama," tandasnya.

Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC)  mayoritas warga atau sekitar 71 persennya merasa kondisi ekonomi rumah tangganya sekarang lebih buruk atau jauh lebih buruk dibanding sebelum ada wabah pandemi covid-19.

Direktur Komunikasi SMRC Ade Armando, mengatakan survey melibatkan 1978 responden yang diwawancarai melalui telepon yang dipilih secara acak  dari populasi warga negara Indonesia  berusia 17 tahun ke atas pada 18-20 Juni 2020.

Ade menyampaikan bahwa sekitar 76 persen responden mengaku pendapatan merosot setelah adanya wabah. Kemudian Penilaian atas kondisi ekonomi nasional juga sangat buruk. Sekitar 85 persen merasa keadaan ekonomi nasional sekarang lebih buruk dibanding tahun lalu.

Begitupun dengan sentimen negatif atas kondisi ekonomi nasional pada masa covid-19 adalah tertinggi sejak awal reformasi. Sentimen negatif paling tinggi mencapai 92 persen pada survei 12-16 Mei 2020 lalu.

Kendati begitu, warga secara umum masih kurang optimis melihat kondisi ekonomi rumah tangga dan nasional ke depan.

“Hanya 44 persen yang menilai ekonomi rumah tangga tahun depan akan lebih baik, dan hanya 34 persen yang menilai ekonomi nasional tahun depan akan lebih baik dibanding sekarang,” kata Ade dalam rilis survei SMRC, Kamis (25/6/2020).

Namun demikian, dibanding temuan bulan lalu 4-5 Mei 2020, di mana yang merasa optimis dengan kondisi ekonomi nasional dan rumah tangga hanya 27-29 persen, optimisme warga sekarang dalam melihat kondisi ekonomi ke depan terlihat sedikit menguat.  

Tahun ini, kemiskinan di Indonesia diperkirakan mengalami kenaikan utamanya imbas pandemi Covid-19 mencapai 9,7 persen, atau lebih tinggi 0,5 poin dari tingkat kemiskinan bulan September 2019.

Dengan demikian, Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Kementerian PPN/Bappenas, Maliki menyebutkan perlunya intervensi untuk menekan pertumbuhan ini.  

"Skenario kita cukup berat karena memang pertumbuhan ekonomi masih relatif akan berubah-ubah, dan dengan skenario yang paling memungkinkan sekarang ini dan ini juga sudah didiskusikan dengan DPR pertumbuhan ekonomi akan mencapai sekitar -0,4 persen sampai 1 persen," ujar Maliki dalam webinar Pemanfaatan SEPAKAT untuk Pemulihan Dampak COVID-19 Terhadap Sosial Ekonomi Daerah, Rabu (24/6/2020).

Dengan skenario tersebut, kata Maliki, tingkat kemiskinan bisa mencapai 9,7 persen sampai dengan 10,2 persen, dimana pengangguran juga akan meningkat sekitar 8,1 - 9,2 persen.  

Adapun masyarakat yang cukup rentan terkena dampak Covid-19 lebih besar adalah penduduk dengan pekerjaan di sektor informal. Menurut data Susenas, penduduk yang bekerja di sektor informal ini sekitar 65 persen.

"Pandemi ini akn menyebabkan pergeseran status sosial ekonomi dari miskin menjadi miskin, kemudian dari miskin menjadi miskin kronis, bahkan yang biasanya kita sebut menuju menengah itu pun sangat rentan untuk menjadi kelompok rentan," ujar dia.

Adapun kemungkinannya, dipaparkan Maliki sebesar 55 persen dengan urutan kelas atas, kelas menengah, menuju kelas menengah, rentan, miskin, dan miskin kronis.[]

Sumber berita:  https://m.liputan6.com/amp/4309806/kemenkeu-soal-dampak-corona-hidup-makin-susah-pengangguran-meningkat?

Posting Komentar

0 Komentar