TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kecaman Kepalang Tanggung


Netizen kembali dihebohkan oleh Dedi alias May  Debbyta alias Geeby Vesta yang  membuat postingan video  berdurasi 44 detik  di akun resmi instagramnya  @gebby.vesta_ menulis :"Pesona Indonesia.  Suntiang Minang colaboration bustier Solo basahan dan batik bordir kawat emas. Senin 13/7.

Gebby Vesta merupakan wakil Indonesia pada Miss International Queen 2020 di Pattaya, Thailand. Ajang Miss International Queen sendiri merupakan ajang yang ditujukan untuk para transgender yang ada di seluruh dunia.

Unggahan video tersebut  yang menimbulkan kecaman keras dari netizen Minangkabau  yang merasa pakaian adatnya kembali tidak digunakan sebagaimana mestinya.

Dikutip dari  instagram kaba.bukittinggi , bahwa video tersebut telah di hapus oleh Dedi di hari yang sama. Pasalnya masyarakat Minangkabau sudah terlanjur meradang, mengecam dan akan melakukan somasi atas aksinya yang tidak menghargai adat istiadat Minangkabau.

Suntiang bagi adat Minangkabau digunakan oleh perempuan dengan pakaian tertutup berupa baju kurung dan kain balapak pada saat hari pesta pernikahannya. Sementara ini digunakan oleh seorang transgender dengan pakaian terbuka, dan ini adalah sebuah bentuk pelecehan terhadap adat istiadat Minangkabau (13/7)

Kedudukan  adat di Minangkabau memang masih terasa kental, sebab aturan adat yang berlaku bersendikan aturan syara atau syariat Islam. Adat Minangkabau tidak terlepas dari syariat yang mengikat erat. Wajar saja jika masalah pakaian ini menjadi perkara yang tak terelakkan.
 
Selain itu pakaian adat di Minangkabau menunjukkan identitas  pemakainya. Tak pantas kiranya pakaian yang merupakan kehormatan bagi perempuan Minang dipakai oleh selain perempuan. Ditambah dengan mempertontonkan aurat yang memang wajib untuk di tutupi.

Namun kecaman yang digaungkan tersebut kepalang tanggung, sebab banyak hal yang perlu dikritisi. Pertama, ajang ini merupakan upaya untuk menunjukkan eksistensi para kaum pelangi yang sudah mulai menjamur dimana-mana. 

Secara kasat mata keberadaan mereka  seolah-olah tidak menimbulkan masalah. Tapi, kerusakan yang muncul nanti bisa akan merusak nilai-nilai agama dan juga  menimbulkan penyakit di masyarakat. Maka sebagai sesama saudara  musti saling menyangi dengan saling mengingatkan agar kehinaan tidak selalu menimpa saudara kita.

Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, hendaklah mengubahnya dengan lisannya; jika tidak mampu, hendaklah mengubahnya dengan kalbu. Sesungguhnya hal itu merupakan selemah-lemahnya iman (HR Ahmad, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-NisaI dan Ibnu Majah)


Kedua, sekarang pakaian adat sudah dimodifikasi sedemikian rupa, secara formil  memang digunakan dalam acara adat. Bagaimana dengan kehidupan sehari-hari, apakah pakaian yang digunakan sudah sesuai syariat atau hanya mengikuti tren fashion? 

Ketiga, perlu adanya pemahaman lebih mendalam bagi masyarakat Minangkabau  agar adat istiadat yang basandi syarak tidak sekedar formalitas. Sebab, masih banyak anak kemenakan di Minangkabau yang gagal paham dengan aturan adat yang sangat bernilai ini. 

Keempat, sesunguhnya aturan agama sangat lemah jika diterapkan hanya sebatas dalam adat istiadat. Selayaknya aturan agama lebih kuat jika diterapkan oleh negara. Negara wajib menjadikan agama sebagai landasan dalam kehidupan bernegara, dengan demikian kedudukan agama akan lebih kuat dan tidak akan mudah diabaikan.

Namun kecendrungan yang ada dinegeri kita saat ini, yang sudah terlanjur berkiblat pada negara-negara sekuler, yaitu memisahkan antara aturan negara dan agama. Sebagaimana kita ketahui bahwa di dalam ajaran agama Islam, sudah mengatur dengan jelas sistem kehidupan di dunia ini. Tidak ada satupun yang lepas dari ajaran agama. Mulai dari aturan yang menyangkut diri sendiri, dengan Sang Pencipta maupun sesama, apalagi soal bernegara.

Tapi sayang, pemahaman umat saat ini, menganggap agama hanya sekedar mengatur  hubungannya dengan Sang Khaliq. Akhirnya yang ada, mereka merasa bebas dengan aturan yang dibuat-buat  sesuai dengan standar akalnya yang serba terbatas. Padahal Allah SWT yang Maha Sempurna sudah  merancang dan membuat aturan untuk  dunia sampai akherat nanti dengan komplit agar kehidupan ini sesuai sistem yang diridhoi-Nya.

Maka tidak salah, jika Allah SWT memerintahkan umat agar memeluk Islam secara kaffah, agar kehidupan ini semakin berkah dan menjadi Rahamatililalamin. 

Wallahualam bish-shawab.[]

Oleh Sri Nova Sagita
Institut kajin Politik dan Perempuan

Posting Komentar

0 Komentar