+
YUK JOIN di TINTA INTENS 4

Kawin Paksa Kampus dan Industri, Pantaskah?


Apa jadinya jika seseorang dipaksakan menikah dengan pasangan yang berbeda pandangan dalam visi misi masa depan? cekcok? ribut? bertengkar setiap saat? iya. Pasti akan ada masalah ketika pernikahan dilakukan tidak didasari dengan kesamaan visi misi pernikahan.

Sekarang bayangkan jika hal ini berlaku di dunia pendidikan dan industri. Pendidikan yang memiliki visi mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas dan bertakwa, dipasangkan dengan industri yang kita pahami merupakan tempat berlangsungnya proses produksi yang berorientasi sebesar-besarnya keuntungan. Dua hal yang memiliki orientasi berbeda ini berencana akan digandengkan. pertanyaannya, akankah fungsi pendidikan nanti berjalan sesuai dengan harapan?

Sepintas kita melihat kebijakan ini mendatangkan keuntungan, baik bagi dunia pendidikan dan dunia industri. Hal ini sejalan dengan penilaian  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Menurut Nadiem, kampus bisa menciptakan sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh dunia usaha. lensaindonesia.com

Disatu sisi dunia industri membutuhkan sumber daya manusia yang mampu untuk mengelola proses industri sehingga kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi terus berlanjut. Disisi lain, kampus menjadi mesin pencetak sumber daya manusia yang siap terjun ke dunia usaha. Sehingga banyak yang terpesona dengan rencana “pernikahan” antara kampus dan industri ini.

Hal ini didasari oleh anggapan bahwa upaya meraih pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi itu tidak lain hanya untuk mempermudah dalam mencari pekerjaan dan menghasilkan uang guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal pendidikan tinggi merupakan puncak capaian proses pendidikan dasar dan menengah. Jika pendidikan dianggap sebagai mesin pencetak tenaga kerja, bukankah justru menghilangkan urgensitas dan fungsi dari pendidikan itu sendiri?

Jika kebijakan ini benar-benar di jalankan, ada cita-cita bangsa  yang akhirnya terabaikan . Cita-cita bangsa itu tidak lain adalah tujuan dari pendidikan yang nanti akan terdistorsi. Tujuan pendidikan di Indonesia sesuai UU No. 2 Tahun 1985 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya, yaitu bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, memiliki budi pekerti luhur, mandiri, kepribadian yang mantap, dan bertanggung jawab terhadap bangsa.wikipedia.id

Jadi, pendidikan yang seharusnya diperuntukkan mencetak generasi cerdas dan bertakwa bagi  kemajuan bangsa, dengan kebijakan Mendikbud ini tujuan pendidikan bergeser. Lembaga pendidikan hanya dijadikan mesin pencetak sumber daya manusia yang  hanya berorientasi menjadi pekerja penghasil pundi-pundi rupiah.

Tidak perlu heran dan kecewa, sebenarnya arah kebijakan dari Mendikbud ini bisa diprediksi. karena negeri ini berkiblat pada pendidkan sekular, yang menegasikan visi akhirat dibanding visi dunia. tidak aneh jika kebijakan-kebijakan pendidikannya juga akan beraroma sekular. Nilai pendidikan hanya diukur dengan seberapa besar pengaruh dunia pendidikan bagi kemajuan duniawi (baca: kapitalisme). Pendidikan hanya dipandang bergengsi jika mampu mencetak generasi penghasil dolar. 

Dalam dunia pendidikan sekular, keberhasilan mencetak geberasi cerdas dan bertakwa itu tidak lebih hanya _lips servis._ Pada realitasnya, proses pendidikan itu dikatakan berhasil apabila lulusannya mampu mencari nafkah, bekerja sebagai bagian dari industri.

Berbeda dengan islam. Islam memandang pendidikan sebagai simpul penting, untuk membentuk generasi yang cemerlang. Bervisi akhirat dengan tidak mengesampingkan perkara dunia. Bahkan dunia dan akhirat di seimbangkan. Sehingga kita jumpai banyak bukti sejarah kegemilangan pendidikan di era Islam diterapkan.

Banyak ilmuwan muslim, yang tidak hanya cerdas secara keilmuan namun juga gemilang dalam hal akhirat. Sebut saja Al Khawarizmi, penemu angka nol, seorang ahli matematika. Selain pakar dalam hal sains, al khawarizmi terkenal sebagai sosok yang sholih dan cinta pada syariat. Dan masih banyak lagi, ilmuwan-ilmuwan yang lahir dari rahim sistem pendidikan islam.

Sistem pendidikan Islam yang menghasilkan generasi cemerlang, tidak bisa berdiri sendiri, harus didukung juga dengan sistem ekonomi, sistem sosial dan sistem yang sejalan. Dengan kata lain, mau tidak mau jika menginginkan generasi hebat, cerdas sekaligus bertaqwa. harus disiapkan dengan sistem yang komprehensif untuk mendukung cita-cita itu, sistem paripurna dan komprehensif itulah yang kita kenal dengan sistem Khilafah Islamiyah. Allahua’lam bisshowab.[]

Oleh : Novia Roziah 
Member Revowriter

Posting Komentar

0 Komentar