TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kawin Paksa Kampus dan Industri, Bukti Belenggu Kapitalisme Makin Kuat



“Melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan akan memulai Pernikahan Massal (Link and Match) sekitar 100 Prodi (Program Pendidikan) Vokasi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ditargetkan melakukan pernikahan massal dengan ratusan industri pada tahun 2020. Program ini bertujuan agar kompetensi yang dimiliki para lulusan Prodi Vokasi di PTN dan PTS sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja (Kagama.Co, 26/05/2020).

Sekilas ketika kita membaca tujuan tersebut seolah-olah itu adalah tujuan yang baik, karena akan bisa memberikan kesempatan bagi para lulusan prodi vokasi untuk mendapatkan pekerjaan dengan kompetensinya yang sudah memenuhi atau sesuai dengan kebutuhan industri atau dunia kerja. Apalagi pada masa pandemi seperti sekarang, dimana PHK semakin meningkat dan sulitnya mendapatkan pekerjaan. 

Tetapi, kalau kita pelajari lebih dalam apakah hal tersebut sudah memenuhi tujuan pendidikan yang ingin dicapai negeri ini, seperti yang termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Itu berarti dunia pendidikan harusnya memiliki kemampuan untuk menghadirkan pendidikan berkualitas tinggi sehingga bisa mencetak generasi penerus yang akan bisa memberikan sumbangsih terbaik bagi kemajuan negeri dengan karya dan inovasi yang dihasilkannya. Bukan hanya sekedar mencukupkan diri memiliki kompetensi yang dibutuhkan atau sesuai dengan dunia industri atau kerja. Dengan kata lain, hanya sekedar menjadi buruh bagi dunia industri atau kerja.

Ketika dunia pendidikan tinggi sebagai fase paling penting bagi proses tercapaian tujuan pendidikan yang ingin diraih oleh negeri ini telah mengalami pergeseran arah dengan hanya sekedar memenuhi kompetensi yang dibuthkan oleh dunia industri, maka kemajuan yang diharapkan pun akan semakin jauh dari panggang karena maju atau tidaknya sebuah negeri ditentukan dari kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki dari hasil lulusan perguruan tinggi. 

Tengok saja negara Jepang, yang berhasil bangkit dengan cepat dan akhirnya bisa bertransformasi menjadi sebuah negara maju karena kualitas teknolologi yang dihasilkannya sehingga berkontribusi pada kemajuan ekonomi negaranya. Semuanya tak luput dari SDM berkualitas yang dihasilkan dari dunia pendidikannya terutama pendidikan tinggi. 

Walaupun tak bisa kita pungkiri kemajuan ekonomi yang dihasilkan tidak seiring sejalan dengan kualitas SDM secara spiritual akibat sekulerisme yang dianutnya. Akhirnya yang terjadi adalah semakin meningkatnya tingkat bunuh diri di sana. Bahkan ada tempat favorit untuk melakukannya. 

Lalu bagaimana dengan islam? Islam datang tidak hanya sekedar sebagai agama yang mengatur urusan individu saja, tetapi juga mengatur urusan masyarakat bahkan urusan negara. Karena sejatinya islam datang sebagai agama sekaligus ideologi yang sempurna dengan kesempurnaan aturan yang dimilikinya. Termasuk aturan untuk mengatur dunia pendidikan. 

Di dalam Islam, hal yang mendasar dalam pengaturan dunia pendidikan adalah dunia pendidikan harus dibangun dengan landasan akidah atau keimanan yang kokoh. Sehingga proses berjalannya dunia pendidikan haruslah seiring sejalan dengan hal itu. Bukan hanya sekedar menghasilkan SDM berlualitas tapi juga menghasilkan SDM yang bertakwa. 

Ketika negara hadir dalam upayanya menghadirkan pendidikan tinggi yang berkualitas dengan segala kemampuan yang dimilikinya maka bisa kita lihat betapa luar biasa lengkap dan megahnya fasilitas yang telah dibangun oleh Daulah Khilafah salah satunya Universitas Al Azhar. Bahkan universitas Al Azhar sebagai universitas tertua di dunia masih tetap eksis sampai sekarang dan mampu menghasilkan lulusan berkualitas tinggi dan menjadi ulama rujukan di negara asalnya. 

Betapa pada saat itu negara hadir dengan memberikan jaminan yang terbaik bagi semua pihak yang ada di dunia pendidikan tinggi, baik yang belajar maupun pengajarnya. Untuk pengajarnya disediakan gaji yang jauh lebih dari cukup tanpa harus memikirkan harus melakukan penelitian ini dan itu demi mendapatkan tunjangan. Sehingga mereka lebih fokus untuk mengajar. 

Bagi yang belajar akan diberikan tunjangan 1 dinar setiap bulannya, sehingga mereka akan hanya fokus untuk belajar dengan fasilitas belajar mengajar terbaik pastinya. Mulai dari gedung universitasnya, perpustakaannya, bahkan fasilitas penunjang yang dibutuhkan lainnya seperti gedung pertemuan untuk diskus bahkan area taman luas yang bisa digunakan untuk melepas penat setelah belajar. 

Tetapi yang paling penting dari itu semua adalah kokohnya landasan akidah yeng terbangun sehingga menghasilkan ilmuwan dan cendekiawan yang telah memberikan kontribusi terbaik untuk umat baik dalam bidang umum maupun agama. Mereka tidak hanya ahli dalam urusan dunia tetapi juga urusan akhirat. Dan itu juga tak lepas dari sokongan penuh dari negara. Sederet ilmuwan dan cekdekiawan muslim pun sudah tercatat dalam tinta emas sejarah kegemilangan peradaban islam dengan kontribusi terbaik tidak hanya bagi umat islam tetapi juga bagi dunia.

Kondisi tersebut berkebalikan dengan apa yang sedang terjadi di dunia pendidikan negeri ini. Karut marut dunia pendidikan tinggi yang semakin semrawut. Terlebih di masa pandemi saat ini. Mahalnya biaya UKT tetapi proses belajar mengajar yang tidak maksimal akibat pandemi yang mengharuskan belajar melalui daring. Permintaan pemotongan biaya UKT pun tidak digubris oleh pemangku jabatan yang mengurusi dunia pendidikan, bahkan cenderung melempar tanggung jawab dan melimpahkan kepada masing-masing universitas. 

Maka wajar akhirnya mindset (pola pikir) yang terbentuk di masyarakat adalah kuliah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak secara ekonomi, karena mahalnya biaya kuliah yang sudah dikeluarkan. Hanya sekedar itu saja tidak lebih, karena kalau seandainya ada pemikiran untuk memberikan kontribusi untuk kemaslahatan masyarakat tidak ada dukungan sama sekali dari negara. 

Karut marut pendidikan tinggi di negeri ini akan terus terjadi selama negara tidak hadir memberikan sokongan terbaiknya demi terciptanya pendidikan tinggi berkualitas yang tentu akan berkorelasi dengan kualitas SDM yang dihasilkan. SDM yang tidak hanya berkulitas tetapi juga bertakwa. Sehingga negara tersebut haruslah negara yang menerapkan syariatNya dalam mengatur seluruh urusan termasuk dunia pendidikan. Negara tersebut tak lain adalah Negara Khilafah.[]

Oleh Sahilatul Hidayah

Posting Komentar

0 Komentar