TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kasus Corona Meningkat, Kebijakan Pelanggaran Seharusnya Dikoreksi



Negeri ini,  kembali menjadi sorotan dunia. Bukan karena prestasi gemilangnya. Tapi karena kenaikan kasus corona semakin hari terus bertambah. Peningkatan pasien di atas nilai 1.000 bertengger di pemberitaan setiap hari. Bahkan sempat menembus angka 1.853 pada Rabu (8/7/20). (detik, 8/7/20). Produktif di tengah masa pandemi virus corona (Covid-19) atau masa normal baru, semakin berisiko di sejumlah daerah.

Juru Bicara Khusus Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mengatakan itu dikarenakan masih cukup tingginya penyebaran wabah COVID-19 di sejumlah daerah di Indonesia.

"Gambaran-gambaran ini meyakinkan kita bahwa aktivitas yang dilaksanakan untuk mencapai produktivitas kembali di beberapa daerah masih berisiko. Ini karena ketidakdisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan," kata dia saat telekonferensi, Sabtu, 4 Juli 2020.

Berdasarkan datanya, hingga hari ini saja, penambahan jumlah positif baru COVID-19 mencapai 1.447 kasus, sehingga total kasus positif mencapai 62.142. Yang dinyatakan sembuh 28.219 dan meninggal 3.089.

Berdasarkan wilayah, penyebaran di Jawa Timur masih tertinggi dengan 413 kasus baru, DKI Jakarta 223 kasus baru, Sulawesi Selatan 195 kasus baru, Jawa Tengah 110 karus baru, Bali 91 kasus baru dan Jawa Barat 88 kasus baru.

Dia mengakui, saat ini, aktivitas untuk produktif memang sangat diperlukan masyarakat Indonesia, namun hal itu Yuri tegaskan mempersyaratan aman dari COVID-19 dan hanya bisa dicapai manakala masyarakat disiplin dan ketat menjalankan protokol kesehatan.

"Ini prasyarat utama kalau kita ingin aman dari COVID-19. Kami ingatkan penularan dari hari ke hari yamg masih kita temukan adalah gambaran dari masih adanya orang yang bawa virus ini namun dia tidak mampu melindungi orang lain karena tidak menggunakan masker dan tidak jaga jarak," tegasnya.

Yuri menambahkan, "Dan masih ada orang lain yang sehat yang rentan tertular karena tidak menggunakan masker, jaga jarak dan tidak cuci tangan secara sering menggunakan sabun. Ini titik lemah yamg selalu terjadi dan ini yang sebabkan dari hari ke hari kasus masih saja terjadi."

Kesalahan Penanganan Sejak Awal

Tidak bisa menutup mata, tidak akan ada asap tanpa adanya api. Kondisi saat ini tidak akan terjadi jika penanganan di awal munculnya wabah ini bisa diantisipasi. Lambatnya penanganan sejak wabah ini muncul di tengah masyarakat memperlihatkan kesemrawutan kondisi saat itu. Tidak langsung diputuskannya karantina dan mengulur-ulur kebijakan saat itu menyebabkan virus cepat menular ke daerah lainnya.

Jika kebijakan yang diambil masih sebatas perhitungan untung dan rugi, sebagaimana anggapan kapitalis, maka seluruh kebijakan saat ini akan dinilai benar. Dan hasilnya menguntungkan pihak lain tapi merugikan masyarakat.

Jadi, jika masalah ini ingin diselesaikan dengan tuntas. Kebijakan harusnya bukan berdasarkan untung dan rugi. Tapi demi menyelamatkan nyawa masyarakat. Dan memenuhi segala kebutuhannya. Yang didasari pada panggilan keimanan. Apalagi kalau bukan bersandarkan pada Islam.

Memutus Rantai Penularan

Hal yang harus dilakukan dalam menghadapi wabah ini adalah mencari benang merah penularannya. Berarti harus memutus terlebih dahulu rantai penularan tersebut. Kebijakan new normal life saat ini, terlihat sebagai keputusan yang dipaksakan. Daerah-daerah di negeri ini sebenarnya belum siap menghadapi new normal life. Tapi, karena tuntutan ekonomi harus mengikuti aturan itu.

Masyarakat sendiri memandang bahwa new normal life adalah hidup normal seperti biasa. Mereka tak menganggap ribuan kasus setiap hari sebagai ancaman. Sehingga banyak yang tidak mengikuti protokol kesehatan.  Beraktivitas seperti biasa. Berkumpul dan  mengadakan acara-acara adalah hal biasa. Baru terasa apabila salah satu atau beberapa orang di lingkungan mereka terjangkit virus ini. 

Oleh karena itu tidak bisa disalahkan jika banyak tokoh yang mengkritik kebijakan ini. Sebagai pemangku kebijakan yang arif, sudah selayaknya setiap kebijakan yang menimbulkan kontroversi dan kritikan dievaluasi. Jika memang membahayakan, lebih baik dihentikan saja. Agar tidak banyak lagi korban berjatuhan. Kasihan, mereka adalah rakyat yang tak bersalah. Mereka hanya ingin hidup aman tanpa bayang-bayang ancaman.

Kalau perlu sembari menahan aktivitas masyarakat agar virus tak cepat menyebar. Pemerintah perlu mengadakan tes massal covid gratis bagi seluruh warga. Dengan petugas yang datang ke rumah-rumah. Jika sudah  positif, maka langsung diadakan karantina dan diobati dan dilayani dengan baik.

Saat pemeriksaan ini berlangsung tentu masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Maka, sudah menjadi peran pemerintah untuk membantu memenuhi kebutuhannya. Terutama kebutuhan pokok sehari-hari. Memang, biaya yang akan dikeluarkan cukup besar. Tapi akan sebanding dengan hasil yang diperoleh. 

Pandemi ini insya Allah akan segera berakhir. Bagi negara yang mengabdi untuk rakyat, uang berapa pun tidak akan masalah. Hal ini hanya akan terjadi jika pemegang kebijakannya adalah orang yang bijak dalam menyelesaikan masalah. Bijak berlandaskan aturan yang benar.[]

Oleh Levy

Posting Komentar

0 Komentar