Kapitalisme Pangkal Utama Kemiskinan Dunia


Kekayaan alam semesta sesungguhnya telah mencukupi kebutuhan seluruh makhluk yang tinggal di dalamnya. Namun kita menjumpai masih saja ada kesenjangan ekonomi. Kemiskinan menjadi salah satu persoalan bangsa-bangsa di dunia. Bahkan saat dunia dilanda wabah. Kemiskinan semakin merajalela.

Dalam publikasi yang dirilis Bank Dunia, seperti dikutip, Selasa (31/10/2017), dalam laporan Poverty and Shared Prosperity akhir tahun lalu, ternyata 10,7% dari populasi global berada dalam jurang kemiskinan. Tercatat 767 juta orang hidup di bawah garis internasional kemiskinan. Di mana mereka mencukupi kebutuhannya dengan pengeluaran US$ 1,90 per hari atau sekitar Rp 25.000 per harinya.

Artinya hampir 11 orang dari setiap 100 orang di dunia atau 10,7% dari total populasi global berada di bawah garis kemiskinan yang paling dalam.

Jumlah orang miskin paling banyak berada di wilayah sub-sahara Afrika di mana mencapai 388,7 juta orang. Sedangkan kedua, ada di Asia bagian Selatan di mana mencapai 256,2 juta orang. Asia bagian timur dan pasifik menjadi peringkat ketiga di mana mencapai 71 juta orang disusul Amerika Latin dan Karibia yang tercatat sebanyak 33,6 juta orang. Adapun bagian Eropa dan Asia Tengah tercatat yang paling rendah di mana sebanyak 10,8 juta. (https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-3707627/berapa-banyak-orang-miskin-di-muka-bumi-ini)

Kondisi sebaliknya justru terjadi. jumlah orang kaya di dunia terus bertambah sebelas juta setiap tahunnya.

Dilansir CNBC, jumlah jutawan dolar di dunia bertambah sebesar 1,1 juta orang dari pertengahan tahun 2018 hingga pertengahan tahun 2019. Kini, total jutawan di dunia  mencapai 46,8 juta orang.

Total kekayaan mereka tercatat USD 153,8 triliun atau setara 44 persen kekayaan di dunia. Data itu berasal dari Global Wealth Report yang baru-baru ini dirilis Credit Suisse. (https://m.liputan6.com/bisnis/read/4092668/jumlah-orang-kaya-di-dunia-bertambah-11-juta-dalam-setahun)

Kebebasan Kepemilikan Penyebab Kemiskinan

Jurang kemiskinan yang demikian tajam adalah akibat tidak meratanya distribusi kekayaan. Hal ini disebabkan penerapan sistem kapitalisme di dunia. USA sebagai negara pemimpin global menerapkan sistem ini serta melakukan ekspansi ke berbagai negeri. Akibatnya kita menjumpai kekayaan hanya dinikmati segelintir orang saja. 

Kapitalisme atau capital adalah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar.Pemilik modal dalam melakukan usahanya berusaha untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Dengan prinsip tersebut, pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna memperoleh keuntungan bersama, tetapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untuk kepentingan-kepentingan pribadi. (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme)

Berangkat dari sistem ekonominya,  kapitalisme saat ini sudah menjadi paham ideologi yang menjadikan kapital (materi) sebagai tolak ukur kesuksesan. Bahkan dalam suatu negara, para kapitalis yang menjadi penguasa sejati di atas kepala negara itu sendiri. Dengan harta, kekuasaan pun bisa mereka beli. 

Dalam sistem kapitalisme terdapat jaminan kebebasan kepemilikan. Sehingga siapapun itu berhak memiliki kekayaan di alam semesta selama dia berharta. Bahkan kita menjumpai orang-orang terkaya menguasai tambang, hutan, laut, pantai bahkan pulau.

Tidak adanya batasan kepemilikan. Bahkan jika regulasi menyulitkan keinginan berkuasa, bisa diganti sesuai pesanan. Makanya kita menjumpai banyak pejabat yang akhirnya terjerat kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN).

Dalam sistem kapitalisme tidak mengenal halal atau haram. Yang menjadi standar dan ukuran adalah keuntungan. Oleh karena itu dampak kebebasan kepemilikan menjadi penyebab kezaliman dan kemiskinan. Orang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

Kemiskinan akibat liberalisme kepemilikan adalah kemiskinan struktural. Yaitu kemiskinan tersistem oleh suatu regulasi negara. Terbukti dengan banyaknya kekayaan alam yang akhirnya diprivatisasi oleh perusahaan swasta dengan payung undang-undang. Padahal seharusnya menjadi milik bersama semua warga negara. Negara bertugas sebagai pengatur ketersediaan kebutuhan pokok setiap rakyat dengan mengelola sumber daya alam secara adil dan merata.

Sebagai contoh di negeri kita tercinta. Beberapa perusaan asing mendapat kemudahan mengelola kekayaan alam. Semua itu semata-mata karena Undang-Undang yang telah memuluskan jalan bagi mereka. Sebutlah PT.exon mobile, PT. Newmont, PT.Freeport, PT.Chevron Pasific, PT.Petrochina dan masih banyak lagi. Ini belum termasuk perusahaan-perusahaan milik swasta dalam negri.

Atas nama Undang-Undang dan investasi kekayaan suatu negri bisa habis terkuras para kapitalis. Inilah yang dinamakan neoliberalisme. Sebuah bentuk penjajahan gaya baru. 

Ideologi kapitalisme telah menyuburkan penjajahan. Menguntungkan para jutawan. Sedangkan rakyat jelata jumlahnya tidak pernah berkurang. Jurang kemiskinan menganga semakin dalam.

Islam Mengatur Kepemilikan

Islam adalah suatu agama yang sempurna. Allah SWT menurunkan Al-Qur'an sebagai penjaga umat manusia. Menjaga manusia agar sejahtera di dunia dan akhirat. 

Secara aqidah, Islam mengatur konsep Rizki dalam rukun iman yang ke enam. Yaitu iman kepada qodho dan qodarNya. Hal ini membuat umat Islam akan tetap bersyukur atas setiap rizki yang Allah SWT tentukan.

Sejatinya harta  adalah milik Allah SWT. Dialah yang berhak mengatur kepemilikan. Dalam hukum Islam ada tiga jenis harta kepemilikan. Yaitu kepemilikan individu, negara dan kepemilikan umum.

Pertama, Kepemilikan individu mencakup semua barang yang di halalkan Allah SWT untuk di miliki. Tentunya dengan cara-cara dibenarkan oleh hukum Syara'. Semisal pakaian, makanan, minuman, rumah, kendaraan, alat komunikasi dan lain sebagainya.

Kedua, Kepemilikan negara mencakup semua harta yang menjadi hak milik negara. Semisal harta fa'i, ghanimah, kharaj, jizyah, cukai perbatasan dan sebagainya. Harta ini tidak boleh dimiliki individu kecuali atas izin Khalifah atau Daulah.

Ketiga, Kepemilikan umum meliputi semua kekayaan alam yang menjadi hajat hidup banyak orang. Semisal mata air, tambang yang jumlahnya banyak, sungai, jalan, jembatan, danau, pantai, laut dan lain sebagainya. Untuk harta yang satu ini baik negara ataupun individu bahkan asing diharamkan mengusainya. Kalaupun negara mengelolanya semata untuk dikembalikan kepada rakyat. Dalam bentuk pelayanan dan pemenuhan kebutuhan pokok masing-masing warga, baik muslim ataupun non muslim. 

Dengan demikian Islam tidak pernah membiarkan harta kekayaan alam hanya berputar diantara orang-orang kaya saja. Bahkan meskipun boleh memiliki harta banyak, masih ada kewajiban zakat. Allah SWT berfirman:

مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ كَيۡ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (QS. Al-Hasyr [59]:7)

Tentu pengaturan kepemilikan tidak akan terealisasi jika Islam tidak diterapkan dalam institusi. Sebuah institusi warisan Nabi Saw. Yaitu Khilafah Rosyidah ala manhaj kenabian. Hanya Khalifah yang bisa membuat regulasi sesuai tatanan syar'i. Khilafah sudah terbukti menuntaskan kemiskinan. Distribusi kekayaan di muka bumi akan merata ke seluruh alam. Umat akan merasakan kesejahteraan. Wallahu a'lam bi ash-showab.[]

Oleh: Najah Ummu Salamah
Praktisi Pendidikan dan Pengasuh MT Al Munawaroh

Posting Komentar

0 Komentar