Kapitalisme Merusak, Islam Menjaga Akal Manusia



Pada peringatan HANI (Hari Anti Narkoba Internasional)yang diperingati tanggal 26 Juni 2020. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) Brigjen Pol Khasril Arifin mengatakan bahwa narkoba telah menjadi ancaman dan wabah yang bersifat internasional. Sumatera Barat merupakan daerah tujuan dan transit narkoba."

"Selanjutnya, narkoba khususnya ganja di Sumbar masuk melalui Aceh, lalu ke Pasaman. Sedangkan, sabu-sabu dan ekstasi rata-rata masuk dari Pekanbaru ke Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Sumbar berada dalam zona merah penyebaran narkoba. Sasarannya adalah anak-anak sekolah dan usia produktif. Ada sekitar 60.000-100.000 penyalah guna narkoba ada di Sumbar". (Dikutip dari, Padangkita.com 26 Juni 2020).

Miris, walaupun sudah berbagai cara yang dilakukan oleh para penegak hukum. Guna  memberantas penyebaran barang haram tersebut. Namun sampai saat ini belum juga berhasil memberhentikan penyebarannya.

Dibalik merebaknya penyalah gunaan narkoba tersebut membuktikan. Bahwa, generasi anak bangsa negeri kini sedang  terancam kerusakan akal dan jiwanya. Lebih dari pada itu. Menurut pepatah, pemuda hari ini  adalah pemimpin hari esok. Bagaimana kedepannya negeri ini bisa maju dan  sejahtera, bila sejak dini generasinya dirusak  oleh sebutir obat-obatan terlarang. Sebab dalam Islam akal itu berfungsi untuk memahami hukum syarak. Jika akalnya dirusak oleh narkoba, bagaimana ibadahnya dan kondisi ia dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Tentu juga akan ikut rusak.

Usut punya usut ternyata, ada aksi pemilik modal dengan sengaja, menjadikan narkoba sebagai ladang subur untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Terbukti dengan ditangkapnya bandar narkoba M. Adam. Yang memiliki aset 12,5 Triliun dari hasil bisnis barang haram tersebut. 

Bagi Kapitalisme, segala jenis bisnis bisa laris manis di pasaran. Tanpa pertimbangan halal atau haram. Ridho atau tidaknya Allah. Karena timbangan kapitalis hanya bermuara pada untung atau rugi. Merusak atau memberi manfaat bukan lagi menjadi perso'alan. Dampaknya, bagi Indonesia yang mengalami bonus demografi (popularitas generasi dalam jumlah besar) generasi yang baru beranjak dewasa. Coba-coba ikuti tren zaman. Akhirnya ketagihan barang haram. Sehingga akalnya dirusak dan sulit membedakan yang haq dan bathil. Islam menjaga, Kapitalis perusaknya.

Didukung juga oleh lemahnya hukum untuk menyelesaikan permasalahan ini. Sehingga ABS-SBK hanya sebagai simbolis yang tidak bisa diterapkan dalam kehidupan nyata.

/Hanya Dengan sistem/

Dalam Islam penyalahgunaan narkoba bisa mencapai zero persen. Karena negara bertanggung jawab menjaga akal warganya negaranya.

Bagi manusia, akal adalah salah satu komponen terpenting dalam kehidupan. Para ulama telah menggambarkan pentingnya akal melalui beberapa pesannya. 

Ibrahim bin Hisan pernah bekata: “Seorang pemuda akan bisa hidup di tengah manusia karena akalnya, karena di atas dasar akalnyalah ilmu dan eksperimennya berjalan. Pemberian Allah yang paling utama kepada seseorang adalah akalnya, tidak ada satu perkarapun yang bisa membandinginya. Jika Allah telah menyempurnakan akal seseorang (dengan Islam) maka sempurnalah akhlak dan segala kebutuhannya” (Adabud Dunya wad Din hal 5)

Ibn Jauzi berkomentar: Akal adalah simpanan terbaik dan bekal untuk menghadapi perang melawan bala’ [Ibn Jauzi. Shaid al-Khathir, 78]
Maka, apa jadinya jika akal manusia dirusak? Padahal, senyatanya telah terjadi pengrusakan akal manusia telah secara masif saat ini. Dan semua itu dilakukan secara terang-terangan dalam sistem sekuler kapitalis di negeri ini. Tingginya peredaran miras, penyalahgunaan narkoba hingga kecanduan pornografi menunjukkan bahwa akal manusia dalam sistem kapitalisme begitu terancam.

Sementara itu, Allah SWT menciptakan akal –diantaranya- agar manusia dapat beribadah kepada-Nya,mentaati semua perintah-Nya, dan menjauhi semua larangan-Nya. Oleh karena itu, segala hal yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi akal tanpa ada alasan syar’iy menjadi haram hukumnya dalam Islam.

Allah SWT pun telah menurunkan hukum-hukumnya agar akal manusia senantiasa terjaga. Allah SWT berfirman (yang artinya):
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” [QS. Al-Maaidah : 90].


“Setiap yang memabukkan adalah khamr. Dan setiap yang memabukkan hukumnya haram” [Diriwayatkan oleh Muslim, At-Tirmidziy, Abu Daawud, An-Nasaa’iy, dan yang lainnya].

Khamr (minuman keras) dan narkoba adalah zat yang dapat menghilangkan akal. Ia juga menjadi pintu kejahatan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
“Janganlah kalian minum khamr, karena ia pembuka semua pintu kejelekan/kejahatan” [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah, Al-Haakim, Al-Baihaqiy, dan yang lainnya; shahih].

Islam juga melarang keras peredaran pornografi, bukan saja bisa merusak akal namun juga membahayakan akhlak dan kehormatan. 

Syariah Islam juga menjaga akal dengan menetapkan sanksi bagi semua pelaku kejahatan yang mengancam akal. Dari Anas bin Malik, sesungguhnya pernah dihadapkan kepada Nabi SAW seorang laki-laki yang telah minum khamr. Lalu orang tersebut dipukul dengan dua pelepah kurma sebanyak 40 kali. Anas berkata, "Cara seperti itu dilakukan juga oleh Abu Bakar". Tetapi (di zaman 'Umar) setelah 'Umar minta pendapat para shahabat yang lain, maka 'Abdur Rahman (bin 'Auf) berkata, "Hukumlah (hukuman) yang paling ringan ialah 80 kali. Lalu 'Umar pun memerintahkan untuk hukuman peminum khamr supaya didera 80 kali". [HR. Muslim juz 3, hal. 1330] 

Hadits tersebut menunjukkan ditetapkannya hukuman bagi peminum khamr. Dan hukuman dera tersebut tidak kurang dari 40 kali. Namun tidak ada riwayat yang menerangkan bahwa Nabi SAW membatasi 40 kali, sehingga Khalifah ‘Umar memukul dengan 80 kali. Adapun alat yang dipakai untuk memukul, ada yang dengan pelepah kurma, ada yang dengan sandal, ada yang dengan pakaian dan ada yang dengan tangan. Oleh karena itu bisa dipahami, alat apa yang akan digunakan untuk memukul diserahkan kepada Hakim.

Berbeda dengan peminum khamr, maka pengguna, pembuat, pengedar atau bahkan bandar narkoba dijatuhi hukuman ta’zir (yaitu jenis sanksi yang diserahkan kepada hakim (qodhi). Jenis hukumanya tergantung pada kadar kejahatannya, bisa hanya kurungan, denda, cambuk bahkan

 hukuman mati.
(paparkan penjagaan masyarakat dalam bingkai daulah ex: penjaagaan harta, nyawa, akal, dsb). Kewajiban Negara dalam menjaga akal manusia, sehingga bagi yang menggunakan narkoba akan ditakzir yang merupakan hukum Islam yang berpungsi sebagai pencegah dan penebus dosa. Wallahu 'alam bii shawwab.[]

Oleh Sri Ariyati

Posting Komentar

0 Komentar