TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Joget Challenge, Potret Kebebasan Generasi Sekuler



Semakin pesatnya perkembangan teknologi, banyak kemudahan dalam mengakses informasi hingga  men-share segala aktivitas melalui konten-konten internet oleh semua kalangan. Kemudahan ini ternyata dapat mempengaruhi kebiasaan seseorang untuk mengekspresikan dirinya. Bila sebelumnya berekspresi pada dunia nyata, namun di zaman sekarang bisa di dunia maya yang menjadi trend. Challenge atau Tantangan adalah salah satu bentuk kebebasan berekspresi yang belakangan sedang ramai dilakukan orang-orang melalui media sosial. 

 Baru-baru ini aksi #JogetChallenge menghebohkan media sosial terutama Facebook. Dilansir dari read.id (15/7/2020) Dua wanita pembuat joget challenge di jalan raya diamankan Satuan Polisi Lalu Lintas (Satlantas) Polres Gorontalo Kota, Rabu (15/7/2020) malam. 

Dua wanita ini diketahui berinisial Al dan Am. Mereka melakukan aksi video joget-joget sambil diiringi lagu di jalanan yang berlokasi di Jalan Aryo Katili Kota Gorontalo. Aksi mereka tersebut kemudian menjadi viral di media sosial (Medsos). Saat diperiksa polisi, mereka mengaku hanya ikut-ikutan membuat konten Joget Challenge. 

Kasat Lantas Polres Gorontalo Kota, AKP Ryan Hutagalung menegaskan, aksi joget challenge itu justru membahayakan bagi pelakunya sendiri maupun pengguna jalan. Pelaku bisa melanggar undang-undang lalu lintas karena sangat berpotensi mengganggu konsentrasi pengguna jalan dan menjadi penyebab timbulnya kecelakaan.

Joget challenge yang mencuri perhatian publik ini dilakukan di badan jalan raya / di traffict light saat sedang lampu merah. Mayoritas aksi ini oleh kaum perempuan  generasi muda. Challenge ini menuai beragam komentar, ada yang berlomba-lomba mencoba melakukan tantangan tersebut namun adapula yang berpendapat bahwa tantangan ini adalah aksi tidak terpuji, memalukan bahkan dapat merusak akhlak manusia.

Joget challenge ini adalah satu dari  sekian banyak challenge yang sudah beredar.

Mengambil tantangan ini meski hanya iseng atau menghilangkan kebosanan bahkan ikut-ikutan saja dengan dalih menghibur diri adalah kepuasan semu, menyenangkan hanya sekejap dan memuaskan nafsu semata sehingga yang dihasilkan adalah aksi yang tidak berfaedah sama sekali baik pada diri sendiri maupun orang lain. 

Tidak dapat dipungkiri aksi-aksi ini mudah dilakukan karena pengaruh budaya barat yang masif disebarluaskan membentur pemikiran generasi muda baik melalui tayangan TV hingga media internet. Lihat saja dalam kehidupan sekarang ini mulai dari gaya hidup, kebiasaan hingga berbagai aktifitas berkiblat pada budaya barat. Seakan sudah melekat erat dan termindset bahwa budaya baratlah trend center yang patut dan harus diikuti. 

Padahal pengaruh budaya barat yang mengandung sekularisme dan liberalisme tidak membawa kebaikan secara fitrah manusia melainkan meleluasakan kebebasan tanpa batas bahkan dapat merusak akhlak seseorang. 

Imbasnya ada  penuntutan penerapan berbagai aturan yang menjamin kebebasan individu, sekalipun mereka tahu bahwa aturan-aturan itu bertentangan dengan syari’at Islam. Generasi muda Muslim menjadi jauh dari profil Muslim yang sesungguhnya, khoiru ummah. 

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat)yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Q.S Ali Imran:101).

Rasa ingin eksis dan ingin diakui memang salah satu naluri yang ada pada setiap manusia.  Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menganugerahkan gharizah baqo’ yakni naluri yang kenampakannya terwujud dalam upaya manusia untuk mencapai kepuasan diri dan memelihara eksistensinya dengan sifat individualistisnya. 

Dengan adanya naluri ini tidak lantas bisa dipenuhi dengan segala macam hal secara bebas apalagi ingin pengakuan manusia semata. Namun dalam Islam diatur bagaimana pemenuhannya, yakni berlandaskan tolak ukur syari’at Islam.

Apakah wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram? Sudah selayaknya manusia mampu memaknai sebuah aktivitas berstandarkan syari’at dan memilih untuk tak menghabiskan waktu yang terbatas dengan tantangan meski mubah namun hanya mendatangkan kesia-siaan. 

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua akan diminta pertanggung jawaban.” (Q.S Al Isra’ : 36).

Upaya memulihkan kesadaran kaum muslim untut terikat dengan syari’at Islam dan tidak silau dengan nilai-nilai sekuler yang mengusung kebebasan semu harus terus digencarkan. Peran negara juga mempunyai posisi penting sebagai pelindung ancaman sekularisme dan liberalisme. Penerapan aturan tersebut untuk memutus mata rantai segala efek dari kebebasan sekuler. 

Negara pun dapat menutup akses yang memicu apalagi menginspirasi untuk melakukan perbuatan yang melanggar syari’at, seperti situs porno. Negara juga dapat mengawasi setiap tayangan yang muncul apakah layak atau tidak menurut pandangan Islam. Jika ada yang melanggar maka negara akan memberi sanksi sesuai dengan hukum syara.

Generasi muda yang merupakan agent of change yang kelak akan menjadi pejuang Islam hendaknya menghindari hal-hal yang dapat merusak akidah dan keimanannya. Segala sesuatu yang akan diperbuat, baik atau buruknya, harus bertolak ukur pada syari’at Islam bukan mengikuti arus budaya asing yang menjadi trend. Generasi Muslim  sudah saatnya berlomba-lomba menjadi hamba Allah sejati dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.[]

Oleh : Indi Sirfefa
The Voice Of Muslimah Papua Barat

Posting Komentar

0 Komentar