Jadilah Sales Dakwah



Pernahkah anda melihat cara seorang sales bekerja? Berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain. Dengan gigih dia memasarkan produknya dengan bahasa yang terkadang lebay. Dia perinci spesifikasi produknya mulai dari manfaat, cara pakai, keunggulan produknya dibanding produk yang sejenis, dan lain sebagainya. Soal harga biasanya paling belakang disebutkan. Karena biasanya orang sudah tidak perduli lagi dengan harga kalau sudah sreg dengan produknya.

Apakah sales pernah gagal? Jangan ditanya lagi, jawabannya adalah "Sering". Ditolak, dicibir, tidak dibukakan pintu, bahkan dikatain macam-macam, tidak pernah membuatnya patah semangat. Dia terus berusaha memasarkan produknya dengan semangat empat puluh lima. Dan dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.

Tujuan seorang sales hanya satu, yaitu bagaimana caranya agar produknya bisa terjual. Dia tidak peduli apakah dia harus menanggung rasa lelah, malu, emosi, dan sebagainya. Yang dia ingat di rumah istrinya belum beli beras. SPP anaknya belum dibayar. Listriknya dua bulan masih nunggak. Kontrakan juga masih ngutang. Dan tagihan-tagihan lain yang membuat kepalanya hampir meledak. Itulah yang membuat semangatnya tidak gampang menyerah. Karena itu dia pantang pulang dengan tangan kosong.

Belajar Dari Sales

Seorang pengemban dakwah juga bisa belajar dari seorang sales. Semangat sales yang tidak gampang menyerah dalam menjual produk demi tujuan yang mulia, itulah yang harus ditiru. Seorang pengemban dakwah sebenarnya juga menjual produk, yaitu "Ajaran Islam". Dan produk ini harus segera dipasarkan kepada semua manusia. Hal inilah yang disebut dengan "Dakwah".

Dakwah merupakan sebaik-baik perkataan dan seruan. Allah SWT berfirman,

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik ucapannya daripada ucapan orang yang menyeru manusia kepada (agama) Allah dan beramal salih serta berkata, ‘Aku termasuk orang yang berserah diri.”  (QS Fushshilat [41]: 33).

Berdasarkan landasan dalil diatas, seorang pengemban dakwah seharusnya tidak boleh takut untuk menyuarakan ajaran Islam. Dia tidak boleh merasa bimbang dan ragu ketika apa yang dia sampaikan adalah sebuah kebenaran. Tidak boleh takut dengan celaan orang-orang yang suka mencela. Kalau yang dia sampaikan adalah kebenaran, mengapa harus takut?

Layaknya seorang sales, seorang pengemban dakwah juga harus tahan banting. Tidak baperan. Tidak mudah menyerah ketika produk yang dia bawa dicaci, dimaki, atau bahkan ditolak mentah-mentah. Selalu menyampaikan apa yang "seharusnya" umat dengar. Bukan apa yang "ingin: umat dengar.

Selain itu, seorang pengemban dakwah juga harus mengikuti cara dakwah Nabi Muhammad saw. Bukankah Nabi saw adalah suri tauladan yang terbaik bagi kita?

Sebagaimana pesan hadist Nabi saw., “Ad-Dîn an-nashîhah” (HR Muslim dan Abu Dawud), beliau secara khusus telah memuji aktivitas mengoreksi penguasa zalim, untuk mengoreksi kesalahannya dan menyampaikan kebenaran kepada dia:

أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang haq pada pemimpin yang zalim.” (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Dawud, at-Thabarani dan al-Baihaqi).

Nabi Muhammad saw, selain berdakwah kepada rakyat biasa, beliau juga berani dakwah kepada penguasa Mekkah waktu itu. Nabi Muhammad saw selain mendakwahkan masalah aqidah dan ibadah, beliau juga mendakwahkan masalah akhlak, cara berpakaian, interaksi laki dan perempuan, muamalah, hukum sanksi, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Ajaran Islam sudah sedemikian detail dan sangat sempurna. Dengan "produk" yang sangat istimewa ini, sudah seharusnya memotivasi seorang muslim untuk semakin menggencarkan dakwah. 

Seorang pengemban dakwah tahu betul tujuannya mulia, ingin beramar ma'ruf nahyi mungkar. Ingin agar umat Islam memakai kembali aturan syariat Islam dalam kehidupannya sehari-hari. Tidak cuma dalam tataran individu, tapi juga dalam tataran masyarakat dan juga negara. Pengemban dakwah juga harus punya tujuan ingin mengembalikan lagi kehidupan Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyyah. Karena hanya dengan Sistem Khilafah itulah, semua problematika kehidupan manusia bisa diselesaikan. Tujuan apalagi yang lebih mulia dari pada tujuan ini?

Karena itu wahai kaum muslimin para pengemban dakwah, para pejuang agamanya Allah, mari jadilah Sales Dakwah yang berkualitas. Yang selalu menjaga Taqarrub Illallah. Yang tidak gampang menyerah walau ujian apapun didepan mata. Yang akan tetap istiqomah dengan terus memperjuangkan agama Allah apapun yang terjadi. Sampai Allah memenangkan agama ini, atau sampai Allah memanggil kita pulang. Wallahu'alam bi asshowab.

Oleh: Tutus Riyanti
The Voice Of Muslimah Papua Barat

Posting Komentar

0 Komentar