+
YUK JOIN di TINTA INTENS 4

Isu Gender di Tengah Arus Islam Moderat


 
Istilah baru Islam wasathiyah atau Islam moderat lahir dari Barat untuk melawan radikalisme Islam. Istilah ini populer seteah peristiwa 11 September 2001. Radikalisme Islam sering dipandang sebagai ancaman terhadap kehidupan demokrasi, baik di tingkat nasional maupun global. Karena dianggap sebagai ancaman terhadap demokrasi, dengan sendirinya Islam juga dipandang sebagai musuh dunia dan bahkan musuh peradaban umat manusia.

Islam moderat adalah salah satu cara yang direkomendasikan oleh Rand Corporation dalam laporan riset yang dilakukannya yang merupakan proyek Angkatan Udara AS, berjudul The Muslim World After 9/11 yang disusun oleh Angel M. Rabasa dan kawan-kawan pada tahun 2004. Rand Corporation membuat rekomendasi strategis yang harus ditempuh oleh AS untuk menghadapi tantangan dan peluang dunia Muslim. Mereka meyakini bahwa kaum ekstremis tidak bisa diperangi dengan cara militer saja. Karena itu, mereka perlu bertempur secara kultural dan sosial. Ada banyak solusi yang ditawarkan dalam laporan The Muslim World After 9/11 ,dan salah satunya adalah promosi jaringan moderat.  

Dalam laporan Rand Corporation yang berjudul Building Moderate Muslim Network yang diterbitkan tahun 2007, muslim moderat didefinisikan sebagai —those who share the key dimensions of democratic culture— muslim yang menyebarkan budaya demokrasi. Dalam catatan kaki, disebutkan “Those dimensions include support for democracy and internationally recognized humanrights, including gender equality and, respect for diversity, acceptance ofnonsectarian sources of law, and opposition to terrorism and illegitimate forms of violence. 

Dengan demikian karakter muslim moderat, adalah muslim yang mendukung demokrasi dan pengakuan internasional atas hak asasi manusia, kesetaraan gender dan kebebasan beribadah, menghargai keberagaman, menerima sumber hukum nonsektarian [non agama], menentang terorisme dan semua bentuk kekerasan. Karena itulah, muslim radikal ditempatkan sebagai kelompok yang berlawanan dengan muslim moderat.  
 
Muslim moderat dibutuhkan AS untuk menyuarakan ide kebebasan (liberalisme), demokrasi, dan segala turunannnya. AS menghendaki agar seluruh dunia memiliki tata nilai yang sama seperti yang dianut AS. Kesamaan tata nilai ini akan memudahkan AS memenuhi kepentingannya di dunia muslim. Maka keberadaan muslim moderat sangat penting. Apalagi muslim moderat akan melakukan counter pemikiran yang diyakini oleh muslim radikal.  

Lantas, mengapa perempuan perlu dilibatkan dalam mempromosikan Islam moderat? Dalam bab lima laporan riset Building Moderate Muslim Network, salah satu ciri muslim moderat adalah Menghormati Hak-Hak Perempuan. Menghormati hak perempuan dalam bahasa Barat adalah mewujudkan kesetaraan gender. Karena itu salah satu Mitra yang sangat potensial dalam upaya memerangi radikalisme Islam kelompok perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender.  

Dijelaskan dalam hasil riset tersebut bahwa perempuan adalah pihak yang paling dikalahkan oleh fundamentalis Islam dan paling tidak diuntungkan dalam penerapan syariah Islam yang kaku di berbagai tempat di dunia Islam. Di beberapa negara, para perempuan mulai berorganisasi untuk melindungi hak mereka dari gelombang pasang fundamentalisme dan menjadi sebuah konstituensi gerakan reformis yang semakin penting di Negara Muslim. 

Berbagai kelompok dan organisasi telah muncul untuk memajukan hak dan kesempatan perempuan di bidang hak hukum, kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan. Keberadaan kelompok dan organisasi perempuan tersebut memberikan kesempatan untuk membangun jaringan moderat.  

Dalam laporan tersebut bahkan dikatakan isu hak perempuan merupakan medan pertempuran terbesar dalam perang gagasan yang terjadi di dunia Islam. Promosi kesetaraan jender merupakan komponen penting setiap proyek untuk memberdayakan muslim moderat. Anat Lapidot-Firilla, Direktur akademik proyek "Demokratisasi dan Kesetaraan Perempuan" di University Hebrew of Jerusalem, menyatakan bahwa ada korelasi yang jelas antara status dan partisipasi perempuan dengan tingkat demokrasi dan stabilitas politik dalam suatu masyarakat.  

Perempuan diyakini tidak hanya sebagai agen utama demokratisasi dan perubahan budaya saja, tapi mereka mampu menjadi agen pada persoalan yang tidak disediakan oleh gerakan sosial lainnya. Hukum Islam yang berbeda pada perempuan dan laki-laki dalam beberapa hal, seperti bekerja, kepemimpinan, pakaian, hak waris, kebolehan laki-laki menikahi empat perempuan dan sebagainya dianggap sebagai diskriminasi, ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Islam dianggap merendahkan perempuan dan bias gender. Pemahaman seperti ini dianggap sebagai penyebab berbagai permasalahan yang terjadi pada perempuan.  

Kesetaraan gender harus diwujudkan, karena kesetaraan gender merupakan salah satu ciri muslim moderat. Apalagi ada target yang harus dicapai pada tahun 2030, terwujudnya Planet 50x50. Terwujudnya kesetaraan gender adalah tujuan kelima dari tujuh belas tujuan yang akan diwujudkan dalam SDGs (Sustainable Development Goals). Dengan demikian keterlibatan perempuan adalah salah satu langkah yang harus dilakukan demi mensukseskan jaringan Islam moderat yang dirancang oleh Amerika.

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim yang besar. Karena itu Indonesia memegang posisi penting dalam upaya untuk mewujudkan Islam moderat bagi negeri-negeri muslim lainnya. Bagi Barat, akan sangat strategis jika program kesetaraan gender disinergikan dengan promosi Islam moderat demi mendapatkan pengaruh yang jauh lebih besar. Apalagi sampai saat ini, program kesetaraan gender di Indonesia belum berhasil dengan baik. Hasil penghitungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerjasama dengan BPS pada tahun 2017 menunjukkan capaian Indeks Pembangunan Gender (IPG) Indonesia tahun 2016 sebesar 90,82 atau mengalami penurunan sebesar 0,21 poin atau 0,23% dari tahun sebelumnya sebesar 91,03.

Dengan demikinan jelaslah bahwa Indonesia memiliki komitmen yang kuat dalam mewujudkan Islam wasathiyah (moderat) dalam pemberdayaan perempuan. Komitmen Indonesia untuk mendorong Islam moderat bahkan sudah ditegaskan oleh Presiden Jokowi saat membuka Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendikiawan Muslim Dunia tentang Wasatiyyat Islam tanggal 1 Mei 2018 yang lalu. Presiden optimis poros wasatiyah Islam dunia akan menjadi arus utama, akan memberikan harapan bagi lahirnya dunia yang damai, yang aman, yang sejahtera, berkeadilan dan menjadi gerakan Islam untuk mewujudkan keadilan social. 

Waspada Perangkap Islam Moderat

Ciri Islam moderat menurut Rand Corporation dalam Building Moderate Muslim Network adalah muslim yang menyebarkan budaya demokrasi dengan seluruh dimensinya, termasuk mengakui HAM dan kesetaraan gender dan menerima keberagaman serta hukum non sektarian. Dengan demikian pengarusan Islam moderat oleh perempuan bersinggungan erat dengan upaya mewujudkan kesetaraan gender, bahkan saling berkaitan. 

Terwujudnya kesetaraan gender akan menguatkan penerimaan islam moderat. Demikian pula sebaliknya, tersebarnya ide Islam moderat akan memudahkan terwujudnya Islam moderat. Semua itu akan makin menjauhkan perempuan dan umat dari aturan Islam. Karena keduanya, baik Islam moderat maupun kesetaraan gender lahir dari Barat, dan sengaja dimunculkan sebagai upaya untuk menghalangi kebangkitan Islam yang ingin menerapkan aturan Allah sebagai satu-satunya sumber hukum. Dokumen Rand Corporation menunjukkan hal itu.

Gagasan feminisme mencuatkan isu yang menjadi trend setter yaitu kesetaraan gender yang menggugat tentang pakaian muslimah, larangan wanita sebagai pemimpin, tanggungjawab keibuan, kewalian, warisan sampai relasi hubungan suami istri. Sepintas tampak bila Islam moderat dan kesetaraan gender menjanjikan kemajuan dan kebebasan bagi perempuan dan penghargaan terhadap perempuan. 

Namun sesungguhnya semua itu hanyalah semu dan menipu. Bahkan ada bencana mengancam kehidupan keluarga dan generasi ketika para perempuan mengikuti seruan Barat dan meninggalkan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 204 yang artinya, “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.”

Apalagi Allah SWT juga sudah mengingatkan dalam QS Al Baqarah ayat 120 bahwa musuh Islam akan senantiasa berusaha untuk mengalahkan Islam. Oleh karena itu para muslimah pengemban dakwah harus waspada dan memperkuat kesadaran politiknya agar tidak terjebak pada racun yang dibalut madu Islam moderat dan kesetaraan gender. Muslimah memiliki peran besar dalam membangun peradaban Islam dan Islam sudah menetapkan jalan shahih untuk berkiprah dalam kehidupan dunia. Keridhaan Allah menantinya selama dirinya istiqamah di jalan Allah, meski dianggap radikal.

Lebih jauh lagi, para penjajah pun berbohong bahwa Islam telah menindas perempuan di bawah syariah dan khilafah, yang terus menerus digaungkan oleh para pemimpin dan politisi Barat dari generasi ke generasi, yang telah menghasilkan kebencian dan ketakutan di antara masyarakat dan bahkan umat muslim terhadap aturan Islam.

 Mereka juga terus mencari-cari pembenaran untuk demi berlanjutnya dan langgengnya intervensi tanah-tanah umat Islam. Idealisme para feminis harus ditolak dengan tegas sebagaimana konsep kolonialisme di negeri-negeri muslim yang juga harus dilawan. Lebih jauh lagi, narasi sejarah yang ketinggalan jaman mengenai penindasan perempuan dibawah sistem Islam atau Khilafah, yang berakar pada agenda penjajahan untuk menguasai dunia muslim dan merampok sumber daya alamnya, harus di campakkan ke tong sampah sejarah.

يُرِيدُونَ أَن يُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٲهِهِمۡ وَيَأۡبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُ ۥ وَلَوۡ ڪَرِهَ ٱلۡكَـٰفِرُونَ

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” [TQS. At-Taubah: 32].[]

Oleh : Nur A. Lina


Posting Komentar

0 Komentar