TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Islam Tuntaskan Dampak Pandemi



Pandemi covid 19 telah berlangsung lebih dari setengah tahun, sejak ditemukan kasus pertama pada November 2019. Masyarakat pun hidup dalam ketidakpastian. Hingga muncul istilah 'keluar rumah mati karena korona, di rumah mati karena kelaparan'. Sungguh simalakama.

Lambannya negara dalam mengantisipasi masuknya wabah covid 19 ke Indonesia, diperparah dengan kebijakan yang tidak menyentuh akar permasalahan. Tidak heran jika pandemi ini berlangsung lama dengan jumlah kasus yang terus bertambah. Bahkan dampaknya merembet ke banyak sektor, seperti politik, ekonomi, kesehatan, sosial, hukum, pendidikan, dan sebagainya.

Ketidakmampuan negara menangani efek pandemi covid 19 tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi hampir di seluruh negara. Hal ini membuktikan bahwa ideologi kapitalisme dan sosialisme/komunisme yang dianut negara-negara tersebut adalah sistem yang tidak manusiawi.

Kapitalisme dan Sosialisme Sistem Gagal

Kegagalan China dalam menanggulangi kasus covid 19, hingga akhirnya menyebar ke seluruh dunia, membuktikan bahwa sosialisme bukan sistem yang benar. Begitu pula, Amerika dan negara-negara Eropa sebagai representasi pengemban ideologi kapitalisme juga gagal mengatasi pandemi. Berbagai kebijakan politik dikeluarkan pemerintah, namun tak bergigi menyelesaikan masalah pandemi.

Selain itu, banyak negara yang mengalami keterpurukan di bidang ekonomi. Sistem ekonomi non real yang dibanggakan tidak mampu bertahan, apalagi memberikan perubahan. Rakyat menderita, sedang negara tak mampu, bahkan tidak mau berbuat banyak,

Tidak hanya perekonomian yang terjun bebas. Ideologi buatan manusia itu pun menampakkan kegagalannya mengelola sistem kesehatan. Lambannya upaya preventif menyebabkan virus menggurita, menyebar tanpa ampun. Upaya pengobatan pun terasa lamban, biaya rapid test n PCR yang tidak murah, lamanya waktu tunggu hasil tes lab, hingga keselamatan tenaga medis yang terlindungi adalah bukti kegagalan kapitalisme dan sosialisme.

Islam Atasi Dampak Wabah

Islam adalah ideologi tandingan yang sepadan bagi kapitalisme dan sosialisme/komunisme. Sebagai ideologi, Islam memiliki solusi yang sempurna dan paripurna dalam mengatasi pandemi covid 19 beserta dampaknya, yaitu dengan cara :

Karantina Wilayah

Negara Khilafah sebagai institusi yang menerapkan hukum syariat Islam, telah mencontohkan bagaimana mengatasi wabah thoun dengan melakukan apa yang saat ini disebut karantina wilayah. Sehingga efek wabah tidak berdampak ke seluruh aspek kehidupan.

Dari Usamah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Thaun adalah wabah yang dikirim kepada satu kelompok dari Bani Israil atau kepada orang-orang sebelum kalian. Jika kalian mendengarnya di suatu negeri, maka janganlah kalian mendatanginya. Dan jika Thaun menjangkiti suatu negeri sementara kalian di sana maka jangan keluar untuk menghindarinya." (HR Al Bukhari 3473, Muslim 2218, At-Tirmidzi 1065, Ahmad 5/201, Al-Bukhari 5729, Abu Dawud 3103)

Isolasi yang Sakit

Di dalam wilayah karantina, dilakukan pemisahan orang yang sakit dari orang yang sehat. Yang sakit diisolasi, yang sehat beraktivitas seperti biasa. Dengan demikian aktivitas ibadah berjamaah, roda perekonomian, pendidikan dan sebagainya tetap berjalan.

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, "Hindarilah orang yang terkena lepra seperti halnya kalian menghindari seekor singa." (HR. Bukhari)

Rasulullah saw. juga bersabda, "Janganlah (unta) yang sakit itu didekatkan dengan (unta) yang sehat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Mendukung Riset

Negara Khilafah membuka ruang seluas-luasnya bagi penelitian penemuan vaksin, dengan pendanaan yang diambil dari Baitul Mal.

Bantuan Sosial

Selama pandemi berlangsung, khalifah memberikan bantuan kepada warga yang terdampak. Pendanannya juga diambil dari Baitul Mal. Jika Baitul Mal kosong, maka akan diterapkan pajak khusus bagi warga yang mempunyai kelebihan harta setelah memenuhi kebutuhan sekundernya. Negara juga dapat berhutang dengan syarat-syarat yang sesuai hukum syara'. 

Infak dan shadaqah juga digalakkan pemerintah. Sebagaimana firman Allah Ta'ala : 

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12) فَكُّ رَقَبَةٍ
 (13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14)

“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 11-14)

Sesungguhnya wabah akan segera teratasi jika negara menerapkan sistem kesehatan Islam, yang terbukti mampu menyelesaikan masalah pandemi dengan sempurna. Wallahu'alam.[]

Oleh : Febiyanti


Posting Komentar

0 Komentar