Islam: Solusi Hadapi Ancaman Resesi



Beberapa kali Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan para menterinya soal ancaman resesi. Hal ini karena perekonomian dunia saat ini berada di ambang ketidak pastian akibat pandemi virus Covid-19 yang tak kunjung usai. Ancaman resesi ini  nyata ketika kasus inveksi virus Covid-19 semakin meningkat. Ditambah lagi Singapura sebagai negara tetangga baru saja mengalaminya, karena banyaknya kasus PHK di negeri tersebut.

Resesi adalah kondisi ketika produk domestic bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal berturut-turut dalam satu tahun. Direktur Ekskutif Insitute For Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menjelaskan, resesi dapat dilihat masyarakat dari beberapa tanda, antar lain pendapatan yang menurun, kemiskinan bertambah, penjualan khususnya motor dan mobil anjlok, dan sebagainya. 

Resesi sebenarnya adalah hal yang biasa dan kerap terjadi dalam sebuah siklus perekonomian saat ini, tetapi dampaknya cukup buruk. Amerika Serikat (AS) adalah negara yang pernah berkali- kali mengalami resesi. Sebanyak 33 kali sejak tahun 1854. Dan Sejak tahun 1980 mengalami 4 kali resesi termasuk ketika terjadi krisis finansial global tahun 2008. Indonesia pun pernah mengalaminya. Terakhir kali terjadi pada tahun 1998, bahkan sangat dalam hingga masuk kategori depresi ekonomi akibat PDB yang minus dalam 5 kuartal beruntun. (CNBC Indonesia, 18/7/20).

Beberapa ekonom pun mencoba memberikan solusi. Bima Yudhistira, ekonom INDEF meminta masyarakat untuk berhemat dan fokus pada kebutuhan pangan dan kesehatan, mengurangi belanja diluar kebutuhan. Sementara Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah meminta masyarakat mempersiapkan tabungan dan tidak boros guna mempersiapkan menghadapi resesi. (Detik.com, 19/7/20).

Langkah Antisipasi

Jika kita cermati, semua permasalahan ekonomi hari ini terjadi karena masalah sistemik yaitu dipakainya sistem ekonomi kapitalisme yang memang rapuh, cacat bawaan dan terbukti rentan krisis. Sehingga solusi nya pun juga harus sistemik.

Apa yang terjadi di AS dan beberapa negara pengampu sistem kapitalisme adalah buktinya. Berulangnya krisis disebabkan karena solusi yang dipakai tidak cukup kuat menghentikannya, akibat praktik ribawi yang dilegalkan, ketiadaan nilai intrinsik dalam setiap mata uang yang dipakai serta dominasi mata uang asing akan selalu berakibat adanya krisis moneter  ketika negara tersebut terlilit hutang luar negeri yang hampir jatuh tempo.

Berbeda dengan sistem Islam. Ekonomi dalam islam dibangun berdasar petunjuk Ilahi yang terbukti stabil dan tidak rentan resesi. Penggunaan mata uang dinar dan dirham yang nilainya selalu tetap, ekonomi sektor riil, menjauhkan praktik ribawi serta anggaran negara yang tidak bergantung pada pajak  terbukti mampu menstabilkan ekonomi dalam keadaan apapun.

Meskipun ketika  sistem islam diterapkan pernah terjadi wabah, namun ada aspek  distribusi yang bagus dalam pengaturannya sehingga krisis pun bisa dihindari. Selama kurang lebih 13 abad lamanya sistem ini dipakai untuk mengatur urusan manusia dan perekonomiannya. Dan selama itu pula belum pernah dunia islam dilanda krisis, resesi apalagi depresi ekonomi. Wallahu a’lam bishawab.[]

Oleh Neneng Khosasih

Posting Komentar

0 Komentar