TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Islam Solusi, Biaya Pendidikan di Era Pandemi


Pandemi Covid-19 berhasil karut marutkan semua aspek kehidupan, sektor ekonomi salah satunya. Banyak pekerja yang mengalami pemotongan gaji, bahkan ada yang dirumahkan karena sulitnya kondisi keuangan.

Perekonomian rumah tangga ikut berpengaruh, dampaknya dirasakan oleh para orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta yang memungut SPP setiap bulan. 

Sementara itu dana pendidikan cenderung mengalami inflasi tiap tahunnya. Inflasi pendidikan kerap terjadi pada bulan Juli s.d September yang bertepatan dengan tahun ajaran baru. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi subsektor pendidikan mencapai 4,24% sepanjang tahun 2019. (Detik.news/04/06/2020)

Biaya pendidikan di era pandemi menjadi satu problema di tengah-tengah perekonomian yang karut marut ini. Solusi jangka pendek yang ditempuh, beberapa lembaga ada yang memberi keringanan biaya pendidikan dengan cara memperbolehkan pembayaran dicicil beberapa kali pada wali murid.  Ada pula yang memberi keringanan dengan subsidi silang. Semua bergantung pada lembaga masing-masing. Namun, biaya sekolah tidak akan berubah, meskipun kegiatan belajar mengajar saat ini dilakukan secara virtual di rumah. Hal itu dikarenakan pihak sekolah harus tetap menggaji para karyawannya.

Pendidikan di Sistem Kapitalis 

Ideologi kapitalisme yang mencengkeram negeri ini, membawa dampak luar biasa di segala lini kehidupan, tak terkecuali di bidang pendidikan. Ditambah lagi suasana pandemi yang mengacaukan perputaran normal dunia.

Kurikulum yang gonta-ganti, SDM yang masih perlu dibenahi, tujuan pendidikan yang tumpang tindih menjadikan pendidikan dengan basic output pasar ini, menghasilkan generasi-generasi yang jauh dari akhlak mulia, dan norma agama. Sebab pendidikan hanya sebagai pabrik penghasil pekerja yang siap terjun di dunia industri.

Hal tersebut terjadi sebab sistem kapitalis memandang ilmu pengetahuan bukan sebagai hak dasar rakyat. Sebaliknya dipandang sebagai  komoditas yang bisa diperjual belikan. Adanya Perjanjian GATS tahun 1994 (General Agreement on Trade in Services) pendidikan menjadi salah satu dari 12 sektor jasa yang diperdagangkan termasuk kesehatan, keuangan, transportasi, lingkungan dll.

Pendidikan dalam Islam 

Pendidikan dalam kepemimpinan Islam turut menciptakan suasana kondusif melalui penerapan sistem-sistem hidup lainnya. Sebab dalam Islam negara memiliki fungsi sebagai pengurus dan penjaga umat, bahkan wajib memastikan agar sistem pendidikan ini berjalan sempurna.

Sistem ekonomi dan moneter Islam menjamin kesejahteraan seluruh warga negara, perindividu, termasuk dukungan anggaran yang lebih dari memadai bagi terselenggaranya pendidikan berkualitas.

Islam memperhatikan sarana dan prasarana pendidikan, gaji dan fasilitas guru yang sangat tinggi, insentif dan fasilitas bagi para siswa yang menggiurkan, biaya riset yang sangat memadai serta hal-hal lain, yang membuat pendidikan menjadi hal yang agung dan menyenangkan.

Sistem politik Islam yang mandiri dan berdaulat bebas dari intervensi asing. Sistem sosial Islam yang menjaga kebersihan moral masyarakat dan menjamin ta’awun serta tradisi amar makruf nahi mungkar berjalan sebagaimana semestinya. Sistem sanksi Islam yang tegas dan memberi rasa aman bagi semua. Serta sistem-sistem pendukung lain yang menjamin arah pendidikan dan kultur belajar dan beramal demi kepentingan umat benar-benar terjaga dengan sempurna.

Dalam Islam sistem pendidikan didukung sistem-sistem Islam lainnya. Wajar bukan jika kepemimpinan ini melahirkan sosok-sosok yang berkepribadian Islam dengan skill bukan abal-abal?.

Dalam sejarah, Islam berhasil membawa umat pada level kehidupan jauh di atas level umat-umat lainnya, sebagai khairu ummah dalam masa yang sangat panjang.

Hal ini disebabkan karena aturan-aturan Islam bersifat komprehensif. Inilah yang terus dipegang teguh para penguasa Islam dari satu generasi ke generasi lainnya. Sehingga setiap situasi yang dihadapi, termasuk saat situasi wabah terjadi mampu dilewati dengan sebaik-baiknya.

Sebagai gambaran keagungan sistem pendidikan Islam dalam peradaban emas khilafah, cukuplah surat yang disampaikan George II Raja Inggris, Swedia, dan Norwegia kepada Khalifah Islam, pemimpin kaum Muslimin negeri Andalusia ini sebagai buktinya:

”Dari George II raja Inggris, Swedia dan Norwegia kepada Khalifah Islam, pemimpin kaum Muslimin negeri Andalusia, pemilik keagungan, Khalifah Hisyam III, yang berkedudukan tinggi dan mulia.

Setelah takzim (pengagungan) dan tawqir (penghormatan) Kami memberitahukan kepada Anda bahwa kami telah mendengar tentang kemajuan pesat “mata air yang jernih” berupa universitas-universitas ilmu pengetahuan dan industri-industri yang maju di negeri Anda yang makmur dan sejahterah.

Maka kami ingin mengirim putra-putra kami (bangsa Eropa) agar bisa mengambil contoh dari keutamaan-keutamaan kalian, dan agar hal ini menjadi awal yang baik dalam meneladani jejak-jejak kalian, untuk menyebarkan cahaya ilmu pengetahuan di negeri kami yang diliputi kebodohan dari empat penjurunya.

Kami jadikan keponakan kami, Princess Dubant sebagai pemimpin delegasi dari para putri pembesar kerajaan Inggris untuk mendapat kehormatan dengan bisa “mengecup bulu mata singgasanamu” dan mengais kasih sayangmu.

Hal itu agar dia dan teman-teman wanitanya menjadi pusat perhatian keagungan Anda. Dan kami bekali putri mungil kami, dengan hadiah kecil lagi sederhana untuk kedudukan anda yang tinggi lagi mulia. Kami memohon kemuliaan Anda untuk menerimanya dengan kami haturkan penghormatan dan cinta yang tulus.

Begitulah sejarah emas kepemimpinan Islam yang sangat dirindukan oleh seluruh manusia. Ini berbeda dengan sistem yang sedang memimpin hari ini. Pendidikan dalam sistem Islam yakni Khilafah merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh negara, selain kesehatan, dan keamanan.

Dalam Islam, negara wajib menjamin pendidikan bagi seluruh warga dengan murah bahkan gratis. Dengan tetap memperhatikan kualitas. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw:
“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Biaya Pendidikan dalam Islam

Jika dalam sistem kapitalis rakyat dibebani biaya sekolah yang memusingkan pikiran, berbeda dengan Islam yang menyelenggarakan pendidikan yang gratis. Lalu, dana besar pendidikan dalam sistem Islam diperoleh dari mana?.

Abdul Qadim Zallum dalam bukunya Sistem Keuangan Dalam Islam menjelaskan sumber pendapatan Baitul Mal khilafah yang dapat digunakan membiayai pendidikan, yaitu:

Pertama, pos fai` dan kharaj  merupakan kepemilikan negara seperti ghanimah, khumus , jizyah, dan dharibah (pajak).

Kedua, pos kepemilikan umum, seperti tambang minyak dan gas, hutan, laut, dan hima (milik umum yang penggunaannya telah dikhususkan). 

Jika dua sumber pendapatan itu ternyata tidak mencukupi, dan dikhawatirkan akan timbul efek negatif (dharar) jika terjadi penundaan pembiayaannya, maka negara wajib mencukupinya dengan segera dengan cara berutang (qardh). Utang ini kemudian dilunasi oleh Negara dengan dana dari dharibah (pajak) yang dipungut dari kaum muslimin. 

Dengan biaya pendidikan yang cukup, tinta emas sejarah menorehkan, pada masa kejayaan Islam, sejak abad IV H para khalifah membangun berbagai perguruan tinggi dan melengkapinya dengan sarana dan prasarananya seperti perpustakaan, auditorium, asrama mahasiswa, perumahan dosen dan ulama. Dilengkapi fasilitas lainnya seperti taman rekreasi, kamar mandi, dapur dan ruang makan.

Di Baghdad Khalifah Al Mustanir pada abad VI Hijriah mendirikan madrasah Al-Nuriyah di Damaskus, serta Madrasah An-Nashiriyah di Kairo. Madrasah Al Muntashiriyah di Baghdad . Sekolah ini memiliki sebuah auditorium dan perpustakaan yang dipenuhi berbagai buku yang cukup untuk keperluan proses belajar mengajar. Selain itu, madrasah ini juga dilengkapi dengan pemandian dan rumah sakit dilengkapi dengan para dokter yang senantiasa siaga di tempat.

Pada tahun 395 H Khalifah Biamrillah di Kairo mendirikan Madrasah Darul Hikmah. Madrasah ini adalah institut  pendidikan yang dilengkapi dengan perpustakaan dan sarana serta prasarana pendidikan lainnya. Perpustakaannya dibuka untuk umum. Setiap orang boleh mendengarkan kuliah, ceramah ilmiah, simposium, aktifitas kesusastraan dan telaah agama.

Beginilah gambaran pendidikan dalam Islam. Maka masihkah kita ragu-ragu dengan kepemimpinan Islam?

Rasulullah saw bersabda : “Kemudian akan muncul kembali masa kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian” (HR.Ahmad).

Islam Solusi

Islam sebagai ideologi yang diturunkan oleh Sang Kholik melahirkan rahmatan lil alamin. Dalam hal pendidikan kurikulum Islamlah yang mampu memberikan edukasi yang tepat. Anak didik diajarkan menjadi generasi tangguh dalam menghadapi setiap ujian kehidupan, dikuatkan keimanannya bahwa menuntut ilmu bukan sekadar mencari nilai di atas kertas.

Anak didik dikencangkan akidahnya hingga akhlak mereka terbentuk menjadi seorang anak yang faqih dalam agama juga cerdas dalam pengetahuan. Para pendidik memperoleh hak mengajar secara maksimal, sebab negara menjamin kesejahteraan para guru. Lembaga sekolah menjadi mitra negara dalam mewujudkan generasi tangguh.

Pada masa pandemi atau tidak, rakyat tak lagi dipusingkan untuk urusan bayar sekolah yang melangit. Sebab biaya pendidikan sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawab negara. Kepemimpinan Islam menjadi satu-satunya solusi, yang kebangkitannya senantiasa dibutuhkan dan dirindukan oleh setiap kaum muslimin di dunia. Wallahu'alam bi showab.[]

Oleh Puput Yulianti, S.Psi., S.Pd.
Praktisi Pendidikan di Surabaya 

Posting Komentar

0 Komentar