TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ingatlah Kepemimpinan Itu Amanah



Bupati Sleman Sri Purnomo membantah tengah membangun dinasti politik. Spekulasi itu muncul setelah istrinya, Kustini Sri Purnomo mendapatkan rekomendasi dari PDIP maju ke Pilkada Sleman 2020.

"Dinasti itu kan pemberian, tidak melalui sebuah proses pemilihan. Di keluarga kami hanya ada lima orang yang memilih. Lalu apa artinya lima orang dengan jumlah total masyarakat Sleman sebanyak 750 ribu (yang akan memilih)," kata Sri seusai acara coklit serentak di Rumah Dinas Bupati Sleman, Sabtu (18/7/2020).

Sri menyebut pihak yang menganggap dirinya ingin membangun dinasti politik adalah orang yang belum dewasa. Majunya sang istri dalam Pilkada Sleman menurutnya merupakan proses demokrasi.
Selengkapnya, disini :
https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5098984/istrinya-nyabub-bupati-sleman-bantah-bangun-dinasti-politik

Catatan penting:

Pertama, proses demokrasi seringkali menjadi alasan klise dalam pesta demokrasi. Realitanya dinasti politik sangat kental terjadi dalam sistem demokrasi. Karena demokrasi memang membuka celah lebar membangun dinasti politik. Bahkan sudah menjadi pomeo, kalau bukan keluarga elit penguasa dan tak ada kaitan dengan cukong mustahil bisa punya singgasana.

Kedua, apalah arti 5 orang dibanding 750 ribu orang sebagaimana dikatakan Sri Purnomo adalah pendapat sembari menutup mata. Memang dalam demokrasi hanya menghitung jumlah, tanpa melihat siapa yang bicara. Sehingga pendapat profesor, para ahli disamakan dengan pendapat orang gila. 

Tapi jangan salah, segelintir kecil jumlah pemilik modal akan menyetir ratusan ribu bahkan ratusan juta jumlah orang. Jual beli suara dilakukan segelintir kecil pemodal dengan tujuan kepentingannya aman ketika jagonya berkuasa. Hal ini merata di semua level baik pemilihan penguasa di pusat maupun level daerah. Pantas aroma oligarki dan dinasti kental dalam demokrasi.

Ketiga, berikutnya telaah tentang posisi pemimpin perempuan. Syara telah menetapkan haram hukumnya seorang perempuan menjadi pemimpin. Hal ini telah tegas dalam QS An Nisa :34 dan hadits Rasul shalallahu alaihi wassalam. Dalam rumah tangga saja pemimpinnya harus laki-laki apalagi pemimpin daerah ataupun pusat, lebih-lebih lagi wajib dijabat pria. Sesuatu yang haram pasti membawa kepada kemudharatan ketika dilanggar.

Keempat, dalam perkara kepemimpinan Islam telah memberikan panduan agar manusia hidup bahagia selamat dunia dan akhirat. Karena kerusakan dan kebaikan berawal dari persoalan pemimpin. Selain kemudian tersisa satu  soal, yaitu sistem apa yang diterapkan. 

Kelima, Kekuasan dalam sistem demokrasi tak peduli konsep ridha dan ikhtiyari. Karena berbagai cara dijabani. Sangat jauh dengan sistem Islam, di mana pemilihan pemimpin (khalifah) disyaratkan harus ridha dan ikhtiyar (berdasarkan keridhaan dan pilihan kaum muslimin). Karena khalifah dan rakyat adalah aqad antara keduabelah pihak. Pemimpin dan rakyat daulah. Aqad bahwa khalifah memimpin dengan menerapkan hukum Islam bukan yang lain. Dan rakyat terikat aqad untuk tunduk dan taat karena khalifah ada untuk menerapkan hukum dan taat kepada Allah. Demikianlah sungguh kepemimpinan adalah perkara penting untuk kehidupan di dunia dengan menjadikan Al Quran dan sunah sebagai panduannya. Sehingga jabatan pemimpin akan menjadi kehinaan dan sesalan tiada terperi manakala menyelisihi tuntunan Illahi. Wallahu a'lam bishawab.[]

Oleh Sri Rahayu 
Institut Kajian Politik dan Perempuan

Posting Komentar

0 Komentar