TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ilusi Surga Investasi


Bukan lautan tapi kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kautemui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman

Lagu Koes Plus ini sangat cocok menggambarkan betapa subur dan kayanya negeri ini. Tak heran jika banyak perusahaaan swasta dan asing yang melirik peluang pasar di negeri tercinta ini.

Lirikan pengusaha swasta dan asing disambut baik oleh pemerintah. Bahkan pemerintah gencar melobi perusahaan asing untuk investasi di Indonesia dengan suka cita dan gegap gempita.

Diberitakan Koran Tempo bahwa Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) semakin gencar melobi 17 perusahaan asing yang berpotensi merelokasi unit industrinya ke Indonesia. Anggota Komite Investasi BKPM, Rizal Calvary, mengatakan belasan perusahaan itu mulai mengirim perwakilan untuk bertemu dengan satuan tugas Badan Koordinasi dan meninjau potensi kawasan yang bisa menjadi basis baru mereka di Indonesia (6/7).

Kekayaan alam yang terkandung di negeri ini sudah lama tak dinikmati rakyat. Pengelolaan dan distribusinya hanya beredar di kalangan pengusaha kapitalis. Rakyat yang bisa menikmatinya hanya rakyat yang memiliki modal saja.

Di masa pandemi ini, dimana negara sedang mengalami kelumpuhan ekonomi, maka dengan cekatan investasi ditawarkan kepada asing. Bahkan lahan yang disiapkan akan dijual murah. Penawaran investasi ini dilakukan demi menciptakan lapangan kerja salah satunya. 

Memang benar saat perusahaan dibuka lebar, kebutuhan akan tenaga kerja bertambah besar. Namun, kenyataannya tenaga kerja yang diserap adalah tenaga kerja yang berasal dari perusahaan asing tersebut, seperti perusahaan Cina yang mendatangkan warga negara Cina sebagai tenaga kerjanya.

Tentu saja Indonesia semakin dilirik dan dijadikan surga investasi asing. Pemerintah tak peduli meski rakyatnya sengsara dan menderita, investasi harus terlaksana. Inilah potret problematika yang akan terus bermunculan dalam negara yang menganut sistem kapitalisme.

Sistem kapitalisme ini akan senantiasa mendorong negara untuk melihat faktor keuntungan finansial. Bagi sistem kapitalisme jangan sampai rakyat menjadi beban negara. Sehingga wajar jika pertimbangan kesejahteraan rakyat dalam penawaran invastasi ini hanyalah ilusi.

Tabiat sistem kapitalisme bertolak belakang dengan sistem Islam. Dalam pandangan Islam rakyat wajib dilayani dan diperhatikan kesejahteraannya. Seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Maka seorang kholifah akan memperhatikan rakyat. Kholifah akan memenuhi kebutuhan dasar individu rakyat tanpa terkecuali, apakah kaya atau miskin, muslim atau kafir dzimmi.

Kholifah juga akan mengelola harta kepemilikan umum seperti tambang, mineral, listrik, hutan, dan lainnya untuk kemudian didistribusikan kepada rakyat secara gratis. Negara sama sekali tak boleh menyerahkan bahan tambang dan sejenisnya kepada individu, swasta atau asing. Tidak akan ada kisah negara sampai hati menawarkan perusahaan asing untuk investasi dalam sistem Islam.

Adapun barang tambang yang tak terbatas jumlahnya dalam pandangan Islam adalah harta milik umum dan tak boleh dimiliki secara pribadi atau privatisasi. Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Abyadh bin Hammal:
"Sesungguhnya ia pernah meminta kepada Rosulullah SAW  untuk mengelola tambang garamnya. Lalu beliau memberikannya. Lalu setelah ia pergi, ada seseorang di majelis itu bertanya, 'Wahai Rosulullah, tahukan engkau, apa yang engkau berikan padanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir.' Rosulullah kemudian bersabda, 'Kalau begitu, cabut kembali tambang tersebut darinya." (HR. at Tirmidzi)

Ibarat 'air mengali' yang dimaksud dalam hadits di atas adalah mengalir terus menerus. Sehingga kedudukan tambang garam tersebut menjadi harta milik umum yang dikelola negara dan pemanfaatannya hanya untuk individu rakyat.

Wallahu a'lam.[]

Oleh Afiyah Rasyad
Aktivis Peduli Ummat

Posting Komentar

0 Komentar