Ilusi Empat Kebebasan Dalam Sistem Demokrasi

Sejak lama sistem demokrasi di ambil negara-negara dalam sistem pemerintahan.

 Secara bahasa demokrasi  berasal dari bahasa Yunani dēmokratía "kekuasaan rakyat",  yang terbentuk dari dêmos "rakyat" dan kratos "kekuatan" atau "kekuasaan".
 
Demokrasi pada abad ke-5 SM digunakan untuk menyebut sistem politik negara-kota Yunani. (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Demokrasi)

Kesimpulannya demokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Kekuasaan dan kedaulatan membuat hukum dan undang-undang ditangan rakyat melalui perwakilan.

Sistem demokrasi menjamin kebebasan dalam empat hal. Yaitu kebebasan berkeyakinan, berprilaku, kebebasan memiliki, dan kebebasan berpendapat.

Akibat Jaminan Kebebasan Dalam Demokrasi

Pasca Runtuhnya Daulah Khilafah Ustmaniyah pada 1924 M, banyak negara-negara Islam mengambil demokrasi sebagai sistem pemerintahan. Hal ini mengakibatkan hukum-hukum Islam dicampakkan. Syari'at Islam menjadi sebatas aspek spiritual. Umat Islam hanya menerapkan Islam sebagai agama ritual. Islam tidak lagi menjadi solusi dalam segala hal.

Umat Islam mengambil demokrasi sepaket dengan empat kebebasan. Ide kebebasan membuat umat Islam mundur ke belakang. Umat ini terjajah secara fisik dan pemikiran. Beberapa akibat pahit telah dirasakan hingga kini.

Pertama, kebebasan berkeyakinan. Ide ini membuat umat Islam mengalami pendangkalan aqidah. Selanjutnya menjelma menjadi ide sinkretisme dan pluralisme. Menjadikan umat Islam mengakui semua agama benar. Dengan begitu mereka menghadiri perayaan agama lain serta mengucapkan selamat pada hari raya umat lain. Bahkan muncul berbagai macam penyimpangan dan penyesatan ajaran Islam. Seperti munculnya banyak aliran sesat dan nabi palsu.

Ajaran Islam banyak diselewengkan. Bahkan umat Islam banyak yang mengalami pemurtadan. Dengan iming-iming sembako dan mie instan. Bahkan pemurtadan melalui perkawinan campuran. 

Dengan dalih kebebasan berkeyakinan, umat Islam akhirnya menyepelekan simbol-simbol keimanan. Sebagai contoh pembakaran bendera tauhid beberapa waktu silam.

Kedua, kebebasan berpendapat. Kebebasan yang satu ini memunculkan konflik tak berkesudahan di tengah umat. Banyak pendapat-pendapat ngawur dan nyleneh muncul dari tokoh-tokoh kafir dan umat Islam. Bahkan diantara mereka dianggap cendekiawan muslim yang ilmunya "sundul langit". Mereka menstigma beberapa ajaran Islam dengan istilah radikal. Semisal ajaran jihad, hijab, khilafah dan lain sebagainya.

Sebaliknya mereka mengkampanyekan ide-ide barat. Semisal ide kesetaraan gender, sekulerisme, liberalisme dan kapitalisme. Mereka menjadi antek-antek barat untuk menjatuhkan umat Islam dengan perkataan bathil.

Ketiga, kebebasan berperilaku. Kebebasan ini membuat umat Islam semakin banyak melakukan kema'siyatan. Dengan dalih kebebasan banyak umat Islam yang bertingkah layaknya orang kafir. Mereka meminum miras, memakai narkoba, mengumbar auratnya, berzina, bahkan korupsi tidak takut juga. Umat Islam akhirnya keluar dari batas-batas Syari'at Allah SWT.

Ke-empat, kebebasan memiliki. Manusia sejatinya memiliki naluri eksistensi diri. Hal itu bisa terealisasi salah satunya dengan memiliki apa yang di inginkan. Namun dengan asas kebebasan umat Islam mengalami kesenjangan ekonomi. 

Bagi yang kaya akhirnya bisa membeli barang-barang mewah. Pantai, hutan, tambang dan pulau pun mereka beli juga. Padahal semua itu hak milik umum. dalam Islam milik umum haram diprivatisasi. Sedangkan yang miskin semakin miskin. Mereka terdzolimi dan tersakiti.

Kekayaan di negri muslim hanya dinikmati segelintir orang. Harta hanya berputar di antara orang kaya saja. Apalagi kesadaran membayar zakat juga tidak ada. Kebebasan memiliki apapun telah membuat umat Islam serakah.

Demokrasi Layak Diganti

Sungguh demokrasi yang selama ini di agung-agunhkan oleh dunia tidak pernah menjadi solusi. Yang ada justru kehancuran umat manusia dan jagad raya. Baik menimpa muslim ataupun kafir. Karena demokrasi telah menyalahi fitrah manusia. Demokrasi meletakkan manusia sebagai pembuat aturan dan Undang-undang.

Sejatinya manusia adalah makhluk yang lemah, terbatas dan butuh pada Al-Khaliq. Kedaulatan membuat hukum haruslah di letakkan kepada Sang Pencipta. Allah SWT berfirman :

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik.” (Al An’am :57)

Demikianlah hak Allah SWT menetapkan hukum dan aturan manusia. Aturan dalam seluruh aspek kehidupan. Hal tersebut mencakup ibadah, muamalah, pergaulan, ekonomi, pendidikan, peradilan, bahkan pemerintahan. Bahkan untuk mengahadapi wabah seperti saat ini, Allah SWT sudah memberi Solusi.

Tiada kebebasan bagi manusia di dunia. Manusia hanyalah makhluk yang diciptakan Al-Khaliq. Bertujuan hidup hanya mengabdi kepadaNya. Sebagai mana alat elektronik sudah sepaket diproduksi dengan buku petunjuk pemakaiannya.

Buku petunjuk bagi manusia adalah Al-Qur'an dan Sunnah. Konsep halal dan haram sudah ada Islam. Apa yang Allah haramkan maka tinggalkan. Dan apa yang Allah SWT perintahkan maka lakukan. Karena Allah SWT tahu yang terbaik bagi makhluk ciptaannya.

Kebebasan dalam demokrasi sejatinya adalah ide memperturutkan hawa nafsu. Mengkufuri dan mengingkari Allah SWT saat menjalankan kehidupan. Memakai hukum buatan manusia yang lemah dan tidak berkah.Dalam hadits dari Abdullah bin Amr bin Al Ash radhiallahu’anhu, diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا يؤمنُ أحدُكم حتَّى يكونَ هواه تبعًا لما جئتُ به

“Tidak beriman seseorang sampai hawa nafsunya ia tundukkan demi mengikuti apa yang aku bawa” (HR. Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir)

Sudah seharusnya umat Islam meninggalkan sistem demokrasi. Sistem yang mengkampanyekan kebebasan. Ide yang tidak akan pernah menjadi solusi kehidupan. Bahkan telah nyata menimbulkan kerusakan dunia dan dosa. Dan yang pasti setiap amal kita di dunia pasti ada pertanggungjawaban di akhirat. 

Umat harus kembali kepada sistem Islam. Sistem pemerintahan Khilafah atas metode kenabian. (Wallahu a'lam bi ash-showab)

Oleh: Najah Ummu Salamah ( Praktisi pendidikan dan pengasuh MT.Al-Munawaroh )

Posting Komentar

0 Komentar