TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Idul Adha: Momentum Taat dan Berkorban Walau Pandemi


Tak terasa Idul Adha 1441 H akan menyambangi kita. Sebagaimana Ramadhan dan Idul Fitri, Idul Adha tahun ini pun masih dalam suasana pandemi Covid-19. Hanya saja bedanya lebih diwarnai new normal life. Seolah normal padahal tak normal, Covid-19 seolah tiada padahal masih gentayangan. Jumlah terpapar virus telah menembus angka 100.000 lebih. Kenaikannya pun masih tembus ribuan orang per harinya. Di saat yang sama orang-orang sudah lalu lalang pergi bekerja bahkan bertamasya. Masyarakat pun bingung dibuatnya. Pasien penderita Covid-19 sudah tak lagi ditakuti, bahkan dianggap sama dengan pasien penyakit biasa lainnya.

Tak dipungkiri, pandemi menghasilkan banyak krisis ikutan pada seluruh lini kehidupan, diantaranya:

Pertama, sektor kesehatan, dimana kebutuhan terhadap fasilitas kesehatan lebih banyak, kebutuhan vaksin dll. Saat ini anggaran kesehatan baru terserap sebesar 7%, pemerintah pun berdalih akan menggenjot serapan anggaran sektor kesehatan dalam penanganan virus corona (Covid-19). (Kontan.co.id, 28/07/2020)

Kedua, sektor ekonomi. Sektor ini tak ketinggalan terdampak dahsyat dimana kemandegan hingga resesi terjadi. Pakar ekonomi mengatakan masuknya Korea Selatan dan Singapura dalam resesi menjadi indikator bahwa Indonesia juga akan mengalami nasib yang sama, mengingat kedua negara tersebut merupakan mitra-mitra perdagangan yang cukup besar. (BBC.com, 27/07/2020)

Ketiga, sektor sosial baik pendidikan, ketahanan keluarga, dan kerusakan generasi. Berseliweran berita baik di media cetak maupun sosial terkait tergagap-gagapnya para ibu di rumah, mahasiswa dan siswa SD yang bunuh diri karena stres mengikuti program BDR (Belajar dari Rumah). Belum lagi meningkatnya perceraian semenjak pandemi terjadi, serta potret rusaknya pergaulan remaja yang dikemas dalam sinetron 'dari jendela SMP'.

Bukan ideologi namanya jika tidak menawarkan solusi kehidupan. Kapitalisme sebagai ideologi yang diterapkan saat ini telah menawarkan solusi atas permasalahan yang terjadi di era pandemi. Diberlakukanlah agenda New Normal sebagai antisipasi penanganan dan strategi mengurangi dampak buruk pandemi. Tapi nyatanya ia tak mampu menjadi solusi. Nyawa manusia semakin dipertaruhkan bahkan dikorbankan. Alih-alih beranjak normal, kondisinya malah semakin abnormal.

Menjadi kebutuhan mendesak bagi umat untuk kembali pada sistem Ilahi dengan tegaknya seluruh syariat sebagai solusi. Sampai kapan berharap terus kepada sistem Kapitalisme sekuler yang tak kunjung mendatangkan solusi. Padahal sejatinya manusia menginginkan kedamaian, kesejahteraan serta kebahagiaan hakiki dalam hidup. Untuk mencapai yang demikian tentunya ada prasyarat yang harus dipenuhi, diantaranya yaitu:

Pertama, adanya ketaatan sempurna kepada Sang Pencipta, Allah subhaanahu wata'aala. Hal ini dapat dimiliki ketika seseorang benar-benar memahami bahwa tujuan penciptaannya adalah semata hanya karena Allah subhaanahu wata'aala. 

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Kedua, kesiapan berkorban meninggalkan seluruh orientasi individual dan materialistik menuju keinginan meraih ridla Ilahi Rabbi. Hal ini telah dibuktikan oleh teladan luhur kita Rasulullaah Muhammad Shallallaahu 'alayhi wasallam beserta para shahabat dan pengikutnya dimana beliau mencurahkan segenap upaya hingga mengorbankan waktu, harta bahkan jiwa raga demi terpenuhi tugas mulia menyebarkan risalahNya yang agung. Pendiriannya pun kokoh sekokoh baja dan tegar setegar karang di lautan meski selalu dihempas ombak. Hadits masyhur berikut cukup menggambarkan keteguhan beliau menyongsong ridlaNya tanpa tergiur sedikitpun untuk mengecap dunia yang fana:

 "Wahai Paman, Demi Allah, kalaupun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah), sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa, pastilah tidak akan aku meninggalkannya." (HR. Ibnu Ishaq)

Menyambut Idul Adha 1441H yang merupakan Idul Qurban, kebutuhan untuk mendapatkan solusi atas krisis akibat pandemi semestinya menguatkan kesadaran seluruh komponen umat utk taat sempurna pada seluruh aturan Sang Pengatur Allah subhaanahu wata'aala dan menguatkan tekad untuk mengorbankan seluruh daya upaya untuk menegakkan aturan Allah dalam kehidupan, sebagaimana seorang Nabi Ismail 'alayhissalaam rela mengorbankan dirinya demi memenuhi perintah Allah kepada ayahnya Nabi Ibrahim 'alayhissalaam.

“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaaffaat: 99-111).[]

Oleh: Lely Herawati 
Praktisi Pendidikan dan Aktivis Muslimah Pecinta Islam

Posting Komentar

0 Komentar