TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

IDI: Rapid Test Tidak Efektif, Tenaga Medis Harus Uji Swab Berkala

Petugas kesehatan mengambil sampel darah warga saat Rapid Test COVID-19 di Taman Balai Kota Bandung, Jawa Barat. Sumber foto: ANTARA FOTO/Novrian Arbi

TINTASIYASI.COM - Juru bicara penanganan corona Achmad Yurianto mengungkapkan, mayoritas penderita COVID-19 saat ini adalah Orang Tanpa Gejala (OTG), yang tak terdeteksi hanya melalui rapid test. Hal ini dipandang berbahaya bagi golongan rentan, dari lansia hingga tenaga kesehatan.

Humas IDI Halik Malik menceritakan, banyaknya kasus positif corona yang tak mengetahui dirinya terpapar. Hal ini sangat berisiko bagi seluruh tenaga kesehatan.

"Di Indonesia, pada awal pandemi, banyak tenaga medis yang wafat karena tidak siap, misalnya karena minimnya alat pelindung diri (APD), APD terpaksa dimodifikasi, buruknya sistem layanan, dan lambatnya deteksi kasus sehingga petugas pun rawan tertular dari pasien yang positif corona tanpa diketahui," kata Halik kepada kumparan, Minggu (12/7).

"Tidak jarang tenaga medis turut terpapar dari pasien dan sebaliknya, banyaknya kasus orang tanpa gejala sementara petugas medis tidak cukup terproteksi dan terlambat diperiksa," sambungnya.

Dokter dan perawat pun, lanjut dia, seringkali tidak mengetahui apakah ada riwayat kontak dengan pasien COVID-19. Termasuk soal kondisi kesehatannya, apakah berisiko mengalami sakit berat jika tertular corona

"Seharusnya para dokter mengetahui statusnya, jangan-jangan sudah terpapar virus corona. Saat ini orang tanpa gejala banyak sekali, mereka tidak mengetahui sebelumnya kalau dirinya sudah tertular, oleh karena itu skrining perlu diperketat di setiap fasilitas kesehatan," jelas dia.

Menurut Halik, pemerintah harus melaksanakan uji swab secara berkala bagi tenaga medis, khususnya yang berhadapan langsung dengan pasien corona.

"Terhadap tenaga medis khususnya yang ikut menangani kasus COVID-19 atau melakukan skrining pasien semestinya perlu mendapatkan pemeriksaan secara rutin," tutur Halik.

"Pemerintah perlu membuka akses PCR atau swab test ke semua RS untuk kepentingan skrining petugas secara berkala," imbuh dia.

Bukan hanya dengan rapid test. Sebab, kata Halik, rapid test antibodi sama sekali tidak efektif untuk deteksi virus corona.

"Rapid test tidak disarankan. Rapid test sebaiknya yang deteksi antigen, karena rapid test antibodi tidak dapat digunakan untuk diagnosa. Bahkan untuk skrining pun tidak cukup efektif," katanya.

Halik menambahkan, rapid test hanya bisa untuk menentukan skala prioritas. Dokter dengan kategori apa yang harus dites swab terlebih dahulu.

"Rapid test antibodi bisa saja digunakan tapi sekadar untuk menetapkan petugas mana yang didahulukan untuk tes PCR. Sebaiknya semua petugas medis diperiksa secara berkala selama masa pandemi corona ini," tutup Halik.[]

Sumber berita:  https://m.kumparan.com/amp/kumparannews/idi-rapid-test-tidak-efektif-tenaga-medis-harus-uji-swab-berkala-1tmuRXeEsEd?

Posting Komentar

0 Komentar