Hey Denny Siregar, Ngaca Dulu sebelum Menuduh


Pegiat media sosial Denny Siregar dilaporkan ke Polres Tasikmalaya atas dugaan tindak pidana penghinaan, pencemaran nama baik, dan perbuatan tidak menyenangkan penggunaan foto tanpa izin.
Denny dilaporkan atas posting-an di akun Facebook-nya pada 27 Juni 2020 berupa tulisan panjang berjudul 'Adek2ku Calon Teroris yg Abang Sayang'. Forum Mujahid Tasikmalaya selaku pelapor mempermasalahkan foto santri cilik Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Ilmi, Tasikmalaya, yang ada dalam posting-an tersebut.

Pelapor adalah Nanang Nurjamil dan pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Ilmi, Ustaz Ahmad Ruslan Abdul Gani. Ustaz Ahmad menuntut Denny Siregar diproses hukum serta diamankan di Tasikmalaya.(detik.com, 4/7/2020)

Tuduhan teror berjubah agama kerapkali ditujukan pada Islam, dan hanya pada Islam. Pasalnya, tak pernah terdengar agama selain Islam dituding sumber terorisme ataupun radikalisme. 

Saat biksu Burma membantai wanita dan anak-anak Rohingya, tak ada yang menyematkan gelar teroris kepada mereka. Begitupun rezim China komunis yang telah menyiksa muslim Uighur, tak pernah ada label teroris untuk mereka.

Saat umat Islam yang hendak sholat ‘Ied di Tolikara, diteror dengan lempar batu hingga masjid dibakar, tidak ada sebutan untuk Nasrani teroris.

Beberapa ulama yang diserang tahun lalu, ditodong pisau, dilukai bahkan ada yang meninggal, tindakan ini tak pernah disebut radikal, bahkan ironinya pelaku diklaim sebagai orang yang menderita gangguang jiwa alias gila. Bisa ditebak endingnya kemana, yah kasus ditutup dan menguap begitu saja setelah menimbulkan kehebohan nasional. 

Saking bencinya kepada simbol-simbol Islam, hingga anak-anakpun tak lepas dari tuduhan sebagai calon teroris hanya karena mereka berfoto dengan memakai ikat kepala dan bendera Tauhid. Jika tuduhan ini muncul dari mulut kaum kafir harbi masih bisa di maklumi, lah ini dari mulut manusia yang mengaku dirinya muslim tapi justru memfitnah simbol agamanya sendiri, muslim kah dia? Padahal faktanya, obyek penderita kasus terorisme adalah kaum Muslim.

Namun berharap keadilan di negeri ini sangatlah susah. Bahkan hingga perlu demo berjilid-jilid untuk mendapatkan apa yang dinamakan keadilan, masih ingatkah beberapa tahun silam, Ahok, seorang mantan narapidana penista agama, setelah dijeruji malah diangkat menjadi komisaris BUMN. Sungguh menyakitkan hati umat muslim Indonesia. Seolah semakin subur, terus-menerus negeri ini memproduksi penista agama.

Sebenarnya, sanksi terhadap penista agama di negeri ini sudah ada. Yaitu KUHP Pasal 156(a) yang isinya menyasar setiap orang yang dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia atau dengan maksud supaya orang tidak menganut agama apa pun.

Pelanggaran Pasal 156(a) dipidana penjara selama-lamanya lima tahun. Namun, apakah dengan sanksi lima tahun itu cukup? Terjaminkah sanksi yang dijatuhkan tak akan melahirkan para penista agama lagi? Nyatanya, UU yang dibuat seolah tebang pilih dan tak mampu melindungi agama. Buktinya hampir semua kasus penistaan agama berakhir dengan vonis gangguang jiwa atau pelapor dikatakan tidak cukup bukti dan bisa ditebak hasilnya kemana? Kasus berhenti dan menguap. Lagi-lagi kesabaran umat islam di uji dengan gigit jari dan ngelus dada.

Akar Masalah

UU  yang diterapkan dalam negeri ini tak bisa berdiri sendiri. Ada sebuah ideologi yang menaungi seluruh UU yang tercipta, yaitu ideologi sekularisme dan kapitalisme. Sehingga negara tidak menempatkan agama dalam posisi yang mulia.

Dalam kacamata sekuler, agama hanya diposisikan sebagai salah satu dari sekian nilai/norma yang menjadi rujukan dalam pembuatan UU. Keberadaan agama bukanlah satu-satunya rujukan dalam mengatur kehidupan manusia.

Jika Islam tidak diposisikan sebagai landasan konstitusi dan arah pandang manusia, namun hanya sebatas salah satu nilai yang ada di masyarakat, jangan pernah berharap pelecehan terhadap agama berhenti.

Islam Melarang Terorisme

Syariat Islam dengan tegas melarang siapapun dengan motif apapun membunuh orang tanpa hak atau merusak milik pribadi dan fasilitas milik umum apalagi jika tindakan itu menimbulkan korban dan ketakutan yang meluas.

Dalam peperangan saja banyak nash yang melarang kaum muslim membunuh anak-anak, wanita dan orang tua serta melarang menghancurkan tempat-tempat ibadah agama lain.

Diriwayatkan dari Buraidah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Saw. mewasiatkan kepada panglima perang atau pasukan, yang pertama agar ia dan pasukannya bertakwa kepada Allah. Di antara yang beliau katakan adalah “…jangan kalian membunuh anak-anak…” (HR. Muslim, 1731). 

Dalam riwayat Abu Dawud, Rasulullah Saw. bersabda,

“Janganlah kalian membunuh orang tua yang sudah sepuh, anak-anak, dan wanita…” (HR. Abu Dawud 2614, Ibnu Abi Syaibah 6/438, dan al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 17932).

Didalam Islam memfitnah termasuk dosa besar dan dikatakan lebih kejam daripada pembunuhan serta pelakunya diancam akan masuk kedalam neraka,

"Fitnah itu besar (dahsyat) dari melakukan pembunuhan.” (Q.S. Al-Baqarah : 217).

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Hudzaifah RA, Rasulullah SAW bersabda yang artinya;

 “Tidak akan masuk surga orang yang suka menebar fitnah.”

Andai saja hukum-hukum Allah diterapkan saat ini, dan dijadikan solusi berbagai masalah, mestinya tidak akan ada tuduhan atau lebih tepatnya fitnah terhadap Islam. Karena pasti akan dirasakan bagaimana kebaikan aturan paripurna dari Sang Pencipta untuk kehidupan manusia.

Sudah semestinya bagi umat Islam memiliki daya pikir kritis dengan peristiwa dan opini ihwal terorisme ini. Citra buruk terhadap Islam adalah bagian dari perang pemikiran yang mesti dilawan dengan merujuk pada pemahaman Islam yang benar. Karenanya, istiqamahlah untuk terus mengkaji hukum-hukum Islam yang menjadi kewajiban kita semua, dan tidak hanya untuk dikaji, tapi Allah SWT meminta kita untuk mengamalkan dan menyerukannya pada yang lain.[]

Oleh Nabila Zidane 
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar