TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Hari Anak Nasional Setiap Hari? Pasti Bisa



Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Bintang Ayu Puspayoga meminta seluruh anak Indonesia memanfaatkan waktu di rumah untuk melakukan hal positif dan kreatif.

Pasalnya, dalam perayaan hari anak nasional (HAN) 2020 suasana pandemi Covid-19 masih menyelimuti sehingga mereka masih harus belajar dari rumah.

Adapun HAN 2020 digelar secara virtual yang dihadiri oleh seluruh anak dari 34 provinsi di Tanah Air. HAN 2020 mengambil tema Anak Terlindungi, Indonesia Maju dengan tagline Anak Indonesia Gembira di Rumah.(kompas.com, 23/7/2020)

Menurut Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Indonesia (KPPAI), peringatan Hari Anak Nasional dimaknai sebagai kepedulian seluruh bangsa terhadap perlindungan anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara optimal.

Hari Anak Nasional sudah diperingati di Indonesia sejak tahun 1984 dengan berbagai tema, namun rupanya kondisi anak Indonesia hingga kini belum seperti yang diharapkan, bahkan makin memprihatinkan terutama kekerasan termasuk kekerasan seksual pada anak.

Hingga kini, sudah banyak UU dan aturan yang disahkan untuk memberantas kekerasan pada anak, bahkan sudah ada pemberatan hukuman dan sanksi kebiri. Namun rupanya semua aturan dan UU yang ada belum mampu memberantas secara tuntas kekerasan pada anak.

Mirisnya, pelaku kekerasan menyangkut pula ayah dan ibu kandung, usia anak yang menjadi korban kekerasan orang tua juga makin dini, belum lagi bentuknya kian mengerikan. Terlebih dimasa pandemi ini, sang ibu mendadak menjadi guru killer bagi anak-anak mereka, main bentak, main cubit, main hajar(mentang-mentang anak sendiri), lantaran himpitan ekonomi dan ketidakmampuan mereka memahamkan suatu pelajaran kepada anak-anak mereka. 

Alhasil anak rentan depresi justru karena proses belajar mengajar model seperti ini. 
Anak dianggap obyek yang berada dalam kekuasaannya sehingga dapat diperlakukan sekehendak hati.

Paradigma Islam Solusi Kekerasan Kepada Anak

Islam memiliki paradigma yang khas dalam penyelesaian kasus kekerasan dan kejahatan anak. Berikut ketentuan Islam terkait masalah tersebut:

1.Islam menangani masalah ini dengan penerapan aturan yagn integral dan komprehensif.

2. Pilar pelaksana aturan Islam adalah negara, masyarakat, dan individu/keluarga.

Anak adalah amanah Allah Swt.dan merupakan tanggung jawab orang tua untuk menjaga akidah serta melindungi anak-anaknya dari berbagai kejahatan.

Firman Allah Swt:

أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim: 6)

Namun tidak mungkin kita bisa menyelesaikan masalah kekerasan dan kejahatan anak jika yang melakukannya hanya individu atau keluarga. Negara memiliki beban sebagai pengayom, pelindung, dan benteng bagi keselamatan seluruh rakyatnya, demikian juga anak. Nasib anak menjadi kewajiban Negara untuk menjaminnya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya, penguasa yagn memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim)

Solusi Islam

Pertama, Islam mewajibkan negara menyediakan lapangan kerja yang layak agar setiap kepala keluarga dapat bekerja dan mampu menafkahi keluarganya. Sehingga fungsi ibu dikembalikan pada asalnya sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya.

Beberapa kasus kekerasan anak terjadi karena fungsi ibu sebagai pendidik dan penjaga anak kurang berjalan. Karena tekanan ekonomi memaksa ibu untuk bekerja meninggalkan anaknya. 

Saat terpenuhi kebutuhan keluarga, maka ibu akan fokus mendidik anak-anaknya, sehingga tidak ada anak yang terlantar, krisis ekonomi yang memicu kekerasan anak oleh orang tua yang stress bisa dihindari, para perempuan akan fokus pada fungsi keibuannya (mengasuh, menjaga, dan mendidik anak) karena tidak dibebani tanggung jawab mencari nafkah.

Kedua, negara menetapkan kurikulum berdasarkan akidah Islam yang melahirkan individu bertakwa. Salah satu hasil dari pendidikan ini adalah kesiapan orang tua menjalankan salah satu amanahnya yaitu merawat dan mendidik anak-anak sesuai tuntunan syari'at sehingga anak mampu menyelesaikan berbagai permasalahan hidupnya sesuai aturan Islam.

Ketiga, Negara juga menerapkan sistem sosial yang akan menjamin interaksi yang terjadi antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan ketentuan syariat.

Perempuan diperintahkan untuk menutup aurat, larangan bertabarruj, menahan pandangan, larangan berkhalwat bagi laki-laki dan perempuan kecuali pada tempat-tempat yang tidak memungkinkan untuk memisahkan keduanya, seperti di pasar-pasar.

Dapat dipastikan ketika sistem sosial Islam diterapkan tidak akan memunculkan gejolak seksual yang liar memicu kasus pencabulan, perkosaan, serta kekerasan pada anak.

Keempat, pengaturan media massa.

Media massa juga berperan menginformasikan sesuatu yang berguna untuk membina ketakwaan dan menumbuhkan ketaatan pada Allah Swt. Apa pun yang akan melemahkan keimanan dan mendorong terjadinya pelanggaran hukum syara’ akan dilarang keras.

Negara akan mengontrol atas materi atau isi media-media yang ada, Apakah tayangan-tayangan televisi, materi siaran, postingan-postingan yang ada di media sosial seperti, postingan di facebook, instagram, twitter, konten yang ada di youtube, isi majalah-majalah dan sebagainya yang beredar di masyarakat.

Kelima, penerapan sistem sanksi

Negara memberikan hukuman tegas terhadap pelaku kejahatan, termasuk orang-orang yang melakukan kekerasan dan penganiayaan anak. Hukuman tegas akan membuat jera pelakunya dan mencegah orang lain melakukan kemaksiatan yang sama.

Disamping itu, masyarakat juga wajib melindungi anak-anak dari kekerasan. Masyarakat wajib melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Jika terjadi kekerasan ataupun pelecehan sexual pada anak, masyarakat wajib segera melaporkan kepada pihak yang berwajib. Saling mengingatkan merupakan senjata yang paling ampuh termasuk mengingatkan agar para penguasa tidak lalai dalam menjalankan amanahnya.

Semestinya negara bertanggung jawab menghilangkan penyebab utamanya yaitu penerapan ekonomi kapitalis, penyebaran budaya liberal, serta politik demokrasi. 

Harus dibangun kesadaran politik yang mantap pada seluruh komponen yang ada di masyarakat termasuk para pengemban dakwah demi menjaga keamanan, keselamatan dan kenyamanan anak.

Oleh Karena itu, keberadaan sebuah institusi negara yaitu Daulah Khilafah Islamiyah adalah satu hal yang mendesak bagi seluruh kaum Muslim. Dengan institusi inilah semua aturan Islam dapat ditegakkan dan terbukti efektif untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan termasuk persoalan kekerasan kepada anak. Sehingga hari anak tak perlu lagi diperingati setiap setahun sekali namun dapat dirayakan setiap hari.[]


Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban


Posting Komentar

0 Komentar