TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Haji Momentum Istimewa Persatuan Umat Islam Sedunia



Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan ibadah Haji tahun ini sangat berbeda. Kerajaan Arab Saudi terpaksa membatasi tamu-tamu Allah SWT sebanyak 1000 saja. Hal ini terjadi akibat wabah yang belum sirna.

Banyak negri-negri muslim yang masih berkutat melawan wabah covid-19. Termasuk juga Indonesia. Meskipun dana pelunasan jama'ah haji sebagian sudah masuk kepada pemerintah sebagai pihak penyelenggara. Jama'ah haji Indonesia batal berangkat ke tanah suci tahun ini.

Tentu, momentum ibadah haji adalah momentum istimewa. Sebuah momentum persatuan umat Islam di seluruh dunia. Tempat berkumpul ribuan orang dari berbagai penjuru dunia. Semua melakukan ritual manasik haji di tempat dan waktu yang sama. Semoga kesakralan ibadah haji tidak berkurang dalam situasi pandemi.

Sebagai rukun Islam yang kelima, haji adalah ibadah yang membutuhkan pengorbanan harta, tenaga, pikiran, perasaan bahkan nyawa. Manasik haji telah mengajarkan kita mengesampingkan semua latar belakang suku, bangsa, budaya dan segala perbedaan. Semua berkumpul menyembah Tuhan yang satu yaitu Allah SWT.

Latar belakang kedudukan dan jabatan tidak menjadi jaminan haji mabrur. Tapi niatan yang tulus ikhlas dan ketaatan kepada semua syarat serta rukun haji adalah kunci amal yang diterima di sisiNya. Hanya Allah SWT yang Maha Besar, manusia tidak ada artinya kecuali yang bertakwa.

Persatuan adalah Makna Haji yang Istimewa

Dalam ibadah haji, sekat-sekat nasionalisme tidak lagi menjadi penghalang ukhuwah. Semua menjadi umat Islam yang satu. Persatuan adalah makna yang paling utama dalam ritual haji. Semua jama'ah haji berkumpul bersama di Padang Arafah pada tanggal 9 dzulhijjah. Menyeru dan menyebut Nama Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Haji adalah Arafah.” (HR. an-Nasa’i).

Pada masa Nabi dan kekhilafahan, haji adalah muktamar umat Islam sedunia. Muktamar haji tidak hanya bernilai spiritual tapi juga bernilaio politis. 

Di Padang Arafah, tepatnya di tempat yang kini berdiri kokoh Masjid Namirah, di situlah Nabi SAW selaku kepala negara menyampaikan khutbahnya. Selain mendeklarasikan hak-hak manusia, kemuliaan darah, harta, hari dan tanah suci Haram, sebagaimana dalam sabda baginda SAW, 

“Wahai seluruh umat manusia, sesungguhnya darah dan harta kalian hukumnya haram bagi kalian untuk dinodai, sebagaimana menodai keharaman hari, bulan dan negeri ini.” Nabi SAW pun telah membatalkan seluruh praktik dan tradisi jahiliyah, mengharamkan riba dan sebagainya (as-Suyuthi, ad-Durr al-Mantsur, Juz I/534).

Khalifah memanfaatkan momentum haji untuk mengumpulkan semua pejabat negara dari semua wilayah Daulah. Mulai dari pejabat setingkat Amil, wali, Qodhi, majlis wilayah bahkan rakyat biasa.

Sebagai contoh,Khalifah Umar bin al-Khatthab menggunakan momentum haji untuk meminta muhasabah dari delegasi haji ihwal walinya yang diangkat untuk melayani kepentingan mereka. Mereka pun bisa mengadukan apa saja kepada sang khalifah. Umar pun mengumpulkan para walinya dari berbagai wilayah pada musim haji (al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nidzam al-Hukm fi al-Islam, hal. 180). Bahkan Umar pun pernah menghukum putra Amru bin ‘Ash di musim haji, karena perlakuannya terhadap seorang qibtiy di Mesir.

Namun sayang saat ini haji hanya sebatas ibadah ritual. Sepulang haji semua umat Islam kembali terpisah oleh sekat-sekat semu nasionalisme bangsa. Persatuan dan kesatuan hilang seiring berakhirnya ibadah haji. Hanya dalam sistem Khilafah haji memiliki fungsi yang utuh. Sebagai momen persatuan umat Islam hakiki di bawah naungan suatu institusi. Institusi Khilafah Rosyidah berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Wallahu a'lam bi ash-showab.

Oleh Najah Ummu Salamah
Forum Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar