TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Generasi Muda Harapan Masa Depan


Pergaulan generasi muda hari ini benar-benar membuat bulu kuduk merinding. Horor bawaannya,  bukan karena menonton film horor "bangkit dari kubur". Tapi lebih seram dari itu. Seram bercampur membatin sambil mengelus dada. Miris dan memprihatinkan melihat dekadensi moral generasi muda zaman sekarang. Sebegitu lemahnyakah moral generasi muda hari ini?

Lemah bukan karena fisik mereka. Namun lemah dalam hal iman dan moral yang dimiliki dalam pergaulan.   Ini harus menjadi kepedulian kita bersama. Masyarakat harus semakin peduli dengan situasi gawat seperti ini. Akan bagaimana kondisi  generasi muda kita di masa depan, jika hari ini kondisi Pergaulannya sudah menyeramkan?

Seperti kasus yang terjadi baru baru ini. Pemerintah Kecamatan Pasar Kota Jambi menggelar razia penyakit masyarakat pada Rabu (8/7/2020). Dan akhirnya ditemui 37 pasangan remaja di bawah umur yang diduga hendak melakukan pesta seks di hotel. Sebab barang bukti seperti kondom, miras dan obat kuat ditemui di TKP. Innalillahi. Bahkan diketahui bahwa usia mereka ada yang masih 13 tahun. Lebih parah dan menyeramkannya lagi ada dalam satu kamar seorang perempuan dengan lima orang laki-laki. Sungguh membuat kita miris dan sedih akan kebobrokan perilaku generasi muda hari ini. (Kompas.com, 11/07/2020).

Jika kita bisa renungkan bersama, kenapa kejadian generasi muda di Jambi begitu memilukan. Salah satu faktor penyebab adalah tontonan masyarakat baik dari dari media televisi dan media sosial hari ini memang jauh dari tuntunan agama. Film dan sinetron di berbagai stasiun TV swasta menyuguhkan adegan tidak patut ditiru seperti adegan pacaran, hamil di luar nikah, ikhtilat dan gaya berpakaian mengumbar aurat. 

Hal ini tentunya menjadi tugas kita bersama. Keluarga, guru, masyarakat dan terlebih negara selaku pembuat kebijakan. Jika dibiarkan seperti ini, maka akan menjadi malapetaka besar bagi kita semua. 

Generasi muda adalah generasi harapan negeri ini. Masa depan  Indonesia sangatlah ditentukan oleh generasi muda hari ini. Oleh karena itu, setiap generasi muda terutama yang masih berstatus bersekolah merupakan tulang punggung peradaban. Generasi muda adalah faktor penentu kelangsungan masa depan bangsa. 

Tapi semakin mengherankan di tengah kondisi pergaulan generasi muda yang sangat memprihatinkan dan butuh adanya pelajaran pendidikan Islam. Justru pemerintah sedang mewacanakan menghapus materi keIslaman di sekolah. Dengan alasan memerangi radikalisme ajaran Islam terkait Khilafah dan Jihad dihilangkan. Bukan sekedar itu saja, persoalan berkembang ke pembahasan materi PAI (Pendidikan Agama Islam). Wacana penghapusan pendidikan agama Islam harusnya tak terjadi di tengah kondisi pergaulan generasi muda sudah di titik nadir. Mengapa harus terjadi wacana ini. Sontak wacana penghapusan pendidikan Agama menuai Kontoversi. Akhirnya masyarakat di buat bingung dan heran dengan kebijakan janggal yang dikeluarkan pemerintah.

Warganet di sosial media heboh membahas isu bahwa Kementerian Agama meniadakan pendidikan agama Islam dan bahasa Arab di madrasah. Isu ini berkembang setelah adanya surat edaran untuk perubahan Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah (Kompas.tv, 11/07/2020).

Dekadensi moral yang ditunjukkan oleh sebagian generasi muda harapan masa depan tersebut. Menjadi sesuatu hal yang sangat disayangkan dan bahkan mencoreng kredibilitas dan kewibawaan dunia pendidikan. Para pelajar yang seharusnya menunjukkan sikap dan perbuatan yang  berakhlak mulia justru menunjukkan tingkah laku yang sebaliknya. Tidaklah berlebihan ketika dalam kasus ini, kita sebagai pihak yang peduli pada kondisi generasi muda saat ini.

Semestinya pemerintah melalui kementerian pendidikan membenahi akhlak dan moral generasi muda. Agar mereka tumbuh menjadi generasi beriman dan bertaqwa sesuai dengan tujuan pendidikan diselenggarakan. Generasi yang dirindukan umat. 

Generasi cemerlang yang dekat dan takut akan perintah ilahi. Ketakutan buah dari keimanan. Bukan ketakutan yang lahir dari pengawasan kepala sekolah dan para guru. Bukan sekedar berperilaku baik dan menaati aturan dan tata tertib sekolah di lingkungan sekolah saja. Tapi bagaimana mencetak generasi cemerlang yang  selalu dalam pengawasan Allah SWT serta ikhlas menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Generasi cemerlang akan terwujud dengan sistem aturan ilahi. Aturan yang lahir dari akidah Islam.

Mustahil generasi cemerlang lahir dari sistem kapitalisme yang menyebarkan virus liberalisme dan  sekulerisme. Virus liberalisme menjadi racun untuk berbuat bebas semaunya tanpa ada  batasan aturan agama dan norma. Selain itu, virus sekulerisme yang menjadi aqidah Kapitalisme pun menjadikan para pemuda taat kepada Allah SWT setengah hati.  Mereka sering mengatakan "mumpung masih muda kita senang - senang". "nanti sudah tua baru tobat deh". "Saya sholat tapi ogah nutup aurat soalnya ribet".

Sehingga yang menjadi panutan generasi muda hari ini adalah artis di layar televisi. Begitu fanatik mengidolakan artis pujaannya. Mengikuti semua model dari sang idola. Baik fun, food dan fashion. Tampil gaya  hanya untuk kesenangan dan eksistensi diri laksana selebriti papan atas. 

Populer tanpa mempertimbangkan aturan Islam dan terus mengejar popularitas. Sebagian generasi muda menjadikan medsos sebagai ajang untuk aktualisasi diri kadang menabrak syariat. Fun, food, and fashion  tidak lepas dari hegemoni Kapitalisme global.

Ini menjadi muhasabah bersama untuk kita. Cerahnya peran generasi muda untuk menjadi generasi cemerlang merupakan harapan kita semua. Maka perlu dilakukan budaya amar makruf yang kuat. 

Selain itu, pondasi pendidikan agama harus ditanamkan sedini mungkin. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan harus benar-benar menyadari akan amanah besarnya dalam mewujudkan generasi muda yang dirindukan. Yang akan membawa kebaikan dan kemajuan negeri ini di masa depan.

Secara individu, peran penting pemuda pun harus benar difahami oleh kalangan milenials hari ini. Menjalankan aktivitas beragama bukan semata jika diawasi guru dan orang tua. Melainkan pengawasan Allah SWT. Mereka harus sadar akan hadis Rasulullah Saw.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan bergesar kaki seorang manusia dari sisi Allah, pada hari kiamat (nanti), sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang lima (perkara): tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta bagaimana di mengamalkan ilmunya”. ( H. R Tirmidzi )

Tatanan pergaulan yang baik akan terwujud dengan hadirnya sistem aturan yang baik pula. yakni aturan Islam kaffah dalam bingkai Khilafah yang sempurna dalam mengatur pergaulan. Bukan aturan hidup sekuler yang menjerumuskan impian generasi muda kepada kebinasaan yang berakhir kepada penyesalan. Seperti "punuk merindukan bulan" jika kita ingin remaja dan generasi muda kita hidup dalam kebaikan, tapi yang diterapkan adalah aturan kebebasan.

Maka sudah seharusnya kita semua berperan andil dalam melakukan amar makruf. Jauh sikap permisif atau serba boleh. Selain itu, sama-sama kita perjuangkan agar institusi khilafah segera hadir. Khilafah menjadi Junnah / penjaga umat dari keterpurukan. Islam mengatur sistem pergaulan agar terwujud ketentraman.

Persoalan pemuda itu menjadi persoalan yang penting diurusi. Dibandingkan mengurus mengubah materi keIslaman di sekolah, seharusnya justru mensuasanakan keshalihan generasi muda . Agar generasi cemerlang yang takut dan patuh kepada perintah ilahi bisa tercapai secara pasti. Wallahu a'lam Bishawab.

Oleh Ina Siti Julaeha S.Pd.I
Praktisi Pendidikan

Posting Komentar

0 Komentar