TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ganyang Komunis, Tolak Sistem Kufur


Ribuan orang terlihat memenuhi lapangan Ahmad Yani untuk menjadi peserta aksi 'Apel Siaga Ganyang Komunis Jabodetabek' di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada Minggu (5/7/2020). Kegiatan aksi ini diikuti sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam seperti Front Pembela Islam (FPI), PA 212, hingga Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama. (cirebon.pikiran-rakyat.com, Minggu, 5/7/2020)

Dalam apel ini, para peserta diminta berikrar untuk siap jihad qital memerangi kaum komunis dan pihak yang ingin mengubah Pancasila menjadi Trisila atau Ekasila. (Tempo.co, Minggu, 5/7/2020)

Aksi Apel Siaga Ganyang Komunis yang diisi dengan pembacaan ikrar dan diawali dengan pembacaan kalimat syahadat tersebut menunjukkan semangat kaum Muslim dalam rangka menjaga akidah Islam. Walaupun terdapat beberapa kekurangan semisal peserta tidak sesuai target, kontroversi adanya peserta anak-anak, hingga beberapa peserta yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Tak mengurangi semangat peserta dalam upaya memperjuangkan al-Haq (Islam) dengan jiwa raga hingga nyawa.

Namun, ada hal penting pula yang seharusnya menjadi fokus perhatian dan perjuangan kaum Muslimin. Yakni, upaya menerapkan Islam secara kafah. Karena sejatinya ketiadaan junnah (perisai) dalam bentuk kekuasaan telah mengakibatkan syariat Islam terdistorsi.

Imam al-Ghazali pernah berkata, “Sesungguhnya dunia adalah ladang bagi akhirat, tidaklah sempurna agama kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar; agama merupakan fondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki fondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.” (Imam Al Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, 1/17. Mawqi’ Al Warraq)

Ketiadaan kekuasaan menjadikan syariat Islam hanya digunakan untuk perkara-perkara ibadah semata. Namun,  ketika berbicara mengenai isu perpolitikan, ekonomi, hingga tata kelola negara. Islam dipinggirkan. Dijauhkan sejauh-jauhnya. Akhirnya, syariat yang mengatur mengenai politik dalam artian mengurusi urusan umat menjadi semakin berdebu. Tak dilirik dan dilupakan.

Padahal sejatinya, memisahkan antara agama Islam dengan pengaturan kehidupan berbangsa dan bernegara inilah yang menghasilkan masifnya upaya membangkitkan paham Komunis. Terlebih dengan masih berkuasanya sistem Kapitalisme. Semakin menghimpit perjuangan penegakkan syariat Islam dalam bingkai negara.

Pada hakikatnya, tidak cukup umat hanya melihat kepada bangkitnya Komunisme. Akan tetapi, umat juga butuh untuk menolak dan mencabut sistem kufur yang hingga kini masih diadopsi negara ini. Sebab, Komunisme masih sekadar ancaman sedang Kapitalisme sudah mengakar dan mendarah daging. Penerapan Kapitalisme menyebabkan kesenjangan antara kaya dan miskin semakin lebar. Kezaliman kian membabi buta.

Lihatlah dari kebijakan-kebijakan yang hadir dan mewarnai hari penduduk negeri ini. Kenaikan iuran BPJS, pemalakan iuran Tapera, tagihan listrik gila-gilaan, pemaksaan Pilkada di tengah pandemi, gurita korupsi semakin mencengkeram, hingga upaya yang terus dilakukan demi menggolkan RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Maka jelas, tak hanya Komunisme yang menjadi musuh umat tetapi juga Kapitalisme.

Untuk itulah dibutuhkan perjuangan untuk menegakkan Islam dalam bingkai negara. Sebab tanpanya, paham-paham sesat dan sistem kufur akan terus menggerus akidah kaum Muslimin. Dan umat dengan gelar generasi terbaik ini akan terus menjadi sasaran kezaliman para penjajah maupun penguasa boneka.

Tegaknya sang institusi syar’i penerap sistem Islam telah dikabarkan oleh Rasulullah saw. Sebagaimana dalam sabda Beliau yang berbunyi, “Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah Ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan adhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabriyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah Ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR. Ahmad; Shahih)

Mengapa umat butuh kepemimpinan Islam dalam bingkai Khilafah? Karena sesungguhnya Islam adalah agama yang telah Allah sempurnakan. Islam adalah agama yang fundamental dan universal. Sehingga tidak hanya mengatur kaum Muslimin saja namun juga non-Muslim. Tidak ada paksaan bagi non-Muslim untuk memeluk agama Islam. Aktivitas peribadatan mereka pun akan dijaga dan dijamin. Tidak ada kekerasan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap non-Muslim yang berada dalam naungan Khilafah Islam. Darah dan harta mereka akan dijaga oleh Khalifah.

Dengan demikian, sesungguhnya resolusi ganyang Komunisme tidaklah cukup. Butuh pula menolak dan mencabut sistem kufur yakni Kapitalisme Sekuler yang menguasai negeri ini. Dan menggantinya dengan sistem Islam dalam naungan Khilafah. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Oleh: Djumriah Lina Johan
(Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial Ekonomi Islam)

Posting Komentar

0 Komentar