'Farm is Fun' dalam Islam


Baru-baru ini, Viking Jatinangor melalui kegiatan Farm is Fun mengajak anggotanya untuk belajar memulai menggarap lahan, proses produksi, dan agrobisnis untuk dijalankan pemuda atau kaum milenial yang biasanya bekerja lebih produktif dan efisien dengan memanfaatkan teknologi serta selalu kreatif berinovasi. Sebagaimana dikutip dari Radar Sumedang bahwa Ketua Viking Jatinangor Aris Philif mengatakan regenerasi petani menjadi salah satu faktor kunci untuk kemajuan dan modernisasi pertanian Indonesia. Adanya regenerasi petani bagian yg harus di dorong untuk kemajuan pertanian.

Upaya komunitas generasi muda mensosialisasikan agar suka bertani perlu diapresiasi. Sangat disayangkan jika generasi muda malas untuk  mengelola potensi agraria negeri  ini. Hal ini senada dengan tujuan diadakannya kegiatan Farm is Fun dengan tema menanam yaitu  melawan kepunahan yang di gagas oleh komunitas Viking Jatinangor, sekaligus mengapresiasi bahwa kegiatan ini sangat positif untuk memulai menarik dan mengajak kaum millenial agar berani untuk menjadi petani. Dengan banyaknya  petani dari kaum millenial diyakini akan mampu meningkatkan produktivitas pangan.

Sebagai negara agraris, Indonesia faktanya tidak menjadi negara yang kaya akan hasil pertanian. Buktinya, kebutuhan pertanian dalam negeri selalu di impor. Nasib petani sangat mengkhawatirkan. Mulai dari masalah bahan baku, baik benih maupun pupuk yang mahal dan langka serta berkualitas rendah. Belum lagi harus menghadapi kelicikan para tengkulak, serta harga jual yang  jatuh  saat panen tiba akibat  terlalu banyaknya impor hasil pertanian dari negara lain. 

 Mengutip data Badan Pusat Statistik dia menunjukkan bahwa dalam jangka waktu dua tahun (2016-2018), penurunan jumlah petani di Indonesia berjalan cukup signifikan. Hal ini disebabkan kurang minatnya para milenial untuk bertani sehingga proses regenerasi petani berjalan lamban. Padahal menurut Data Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian, menyebutkan bahwa 90 persen dari total jumlah petani Indonesia sudah memasuki fase kurang produktif. 

Belum lagi masalah penyempitan lahan pertanian akibat pembangunan sebagaimana yang terjadi di wilayah Jawa Barat dimana lahan pertanian telah disulap menjadi waduk Jatigede dan jalan lingkar timur & barat. Sehingga banyak petani yang terpaksa mengubah profesinya menjadi nelayan, bahkan tidak sedikit yang malah jadi pengangguran. 

Maka sudah sewajarnya Indonesia bangkit berbenah diri terutama dalam masalah pertanian demi untuk meningkatkan kembali hasil pertanian sekaligus mengentaskan kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Sehingga Indonesia bukan hanya menyandang gelar sebagai negara agraris tetapi juga kompeten dalam mengolah sumber daya alam terutama pertanian. 

Hanya saja untuk  membangkitkan pertanian di Indonesia perlu solusi yang sistemik.  Menyangkut aspek pendidikan, pertanian, dan politik. Pendidikan pertanian sangat diperlukan dalam melakukan perubahan tersebut karena pendidikan memegang kunci keberhasilan cita-cita sebagai negara agraris yang kaya dan cerdas. Agar dalam praktiknya dilakukan oleh masyarakat Indonesia tanpa harus mengimpor tenaga kerja asing baik untuk dipekerjakan sebagai buruh ataupun mandor dari sarjana pertanian. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan fasilitas yang baik pada sekolah-sekolah dan perguruan tinggi- perguruan tinggi pertanian juga memberikan kemudahan kepada para siswa dan mahasiswa untuk mendapatkan fasilitas tersebut tanpa dibebani biaya yang mahal.

Dalam hal pertanian, perlu diadakan perluasan lahan pertanian dengan cara memanfaatkan lahan yang tidak produktif baik yang dimiliki oleh individu maupun lahan pemerintah. Karena dalam kenyataannya banyak sekali lahan tidak produktif yang malah dilarang untuk dimanfaatkan dengan alasan sudah menjadi hak milik pribadi atau juga dengan alasan milik pemerintah jadi masyarakat tidak boleh menggunakannya sekalipun untuk hal yang jauh lebih berfaedah.

Juga dalam hal politik tentu sangat diperlukan bagi kesuksesan bidang pertanian ini. Politik di sini bukan hanya strategi dalam mengolah lahan pertanian atau hanya strategi dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, tetapi juga strategi bagaimana caranya agar dapat mememuhi kebutuhan pangan dalam negeri juga bagaimana caranya agar dapat bersaing dalam perdagangan internasional melalui ekspor. 

Tidak menutup kemungkinan apabila dikelola dengan benar, Indonesia akan menjadi negara pengekspor bukan hanya hasil pertanian tetapi juga peralatan pertanian hasil karya para ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang cerdas dan bukan lagi pengimpor seperti saat ini.

Dan untuk mencapai semua itu tentu diperlukan suatu sistem yang tidak hanya dapat menyelesaikan satu masalah tetapi haruslah yang dapat menyelesaikan semua masalah. Dan hanya penerapan Islam Kaffah sebagai jawabannya karena dengan penerapan Islam Kaffah adalah solusi tuntas atasi semua masalah termasuk masalah pertanian. Sistem Islam terbukti dalam sejarah mensupport para ilmuwan untuk mengembangkan  sains dan teknologi, termasuk dalam bidang pertanian. Dengan  support system', akan banyak generasi muda tertarik mengembangkan pertanian.

Dalam hal  pengelolaan lahan pertanian yang roduktif, Islam memiliki solusi sebagaimana hadits Nabi Muhammad saw, yaitu:

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَزْرَعَهَا وَعَجَزَ عَنْهَا، فَلْيَمْنَحْهَا أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، وَلَا يُؤَاجِرْهَا إِيَّاهُ»(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Artinya: Dari Jabir RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: barangsiapa mempunyai sebidang tanah, maka hendaklah ia menanaminya. Jika ia tidak bisa atau tidak mampu menanami, maka hendaklah diserahkan kepada orang lain (untuk ditanami) dan janganlah menyewakannya (HR. Muslim).

Setiap Muslim yang mempunyai lahan pertanian sudah seharusnya mengelolanya agar tanah tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang dapat memberikannya suatu keuntungan baik berupa materi di dunia maupun manfaat di akhirat kelak, sekaligus juga agar kepemilikan tanah tersebut dapat terus lestari menjadi kepunyaan kita. 

Kita sering kali melihat tanah-tanah yang tidak ada fungsinya atau dibiarkan begitu saja, padahal hal yang seperti itu yang sebanarnya tidak diperbolehkan dalam agama Islam, setiap tanah seharusnya dikelola, namun pengelolaan tanah haruslah sesuai dengan ketentuan agama dan syariat Islam. Sehingga nantinya tanah kita dapat menghasilkan suatu hal yang berkah dan di ridhoi oleh Allah SWT.

Berkaitan dengan pengelolaan tanah pertanian ini, syariat Islam menetapkan hukum-hukum yang memperbolehkan kita dalam mengelolanya dengan cara-cara tertentu. Hukum-hukum yang membolehkan bentuk-bentuk pengelolaan tanah pertanian sangat banyak dalam Islam, dimulai dari mengelola tanah tersebut sendiri, menyewakan untuk dikelola orang lain untuk mengerjakan lahannya, serta melakukan berbagai syirkah atau kerjasama yang berkaitan dengan pengelolaan tanah-tanah agar menjadi lebih produktif. 

Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena Islam sangat menekankan tentang produktifitas bagi umatnya, sehingga persoalan tanah pun kita diwajibkan untuk membuatnya produktif sehingga dapat bermanfaat.

Allah Ta'ala juga menjelaskan tentang faidah pertanian di banyak ayat. Di antaranya firman-Nya, "Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? [Quran Yasin: 33-35].

Selain pemberian dari alam, manusia dituntun untuk berusaha dalam memenuhi kebutuhan pangannya salah satunya dengan melakukan cocok tanam. Karena di antara tanaman yang tumbuh di bumi, ada yang tumbuh dengan sendirinya, dan ada juga yang butuh campur tangan manusia untuk menanam dan merawat baru bisa dinikmati hasilnya. 

Seperti dalam beberapa Hadits Nabi Muhammad SAW sebagai berikut Dari Jabir bin Abdullah RA, dia bercerita bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya." (HR Imam Muslim)

Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah Saw bersabda: "Tidaklah seorang Muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian hasil tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia atau binatang melainkan (tanaman tersebut) menjadi sedekah baginya." (HR Imam Bukhari).

Dari hadis diatas mengajak kepada seorang muslim untuk menanam tanaman yang sesuai kebutuhan untuk makanan mereka. Kedua hadits itu menunjukkan betapa bercocok tanam tak hanya memiliki manfaat bagi seorang Muslim saat hidup di dunia tetapi juga memberi manfaat untuk kehidupan di akhirat. 

Dengan kita membantu menanam dan merawat tanaman tersebut kita bisa menikmati hasil dari tanaman tersebut baik itu berupa buah-buahan maupun berupa sedekah. Dari hasil tanaman yang dia makan tersebut merupakan sedekah bagi orang yang menanamnya bahkan jika hasil tanaman yang dia tanam dicuri itu merupakan sedekah baginya. Sebab, tanaman yang dikonsumsi itu akan menjadi sumber kehidupan bagi manusia, hewan dan burung.

Pun juga dalam pendidikan pertanian sebagaimana termahsur syair karya Sunan Kalijaga yang berjudul 'Lir-ilir'. Selain menggambarkan tanaman yang sedang bersemi, juga bermakna  agar kita sebagai umat Islam, harus sadar, kemudian bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas dan lebih mempertebal keimanan yang telah ditetapkan oleh Allah. 

Diri kita digambarkan dengan tanaman yang hijau dan mulai bersemi pada awalnya, tergantung kita mau bermalas-malasan dan membiarkan iman kita mati atau bangun dan berusaha untuk menumbuhkan tanaman (iman) hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan di musim panen seperti kebahagiaan sepasang pengantin baru. So, yakin masih mau bermalas-malasan?

Oleh Imas Royani  
Sumedang

Posting Komentar

0 Komentar