TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Emak-emak Politik



“Ngapain sih ribet ngikutin berita politik?, ngurus anak sama beberes rumah aja udah pusing!”. Itu seloroh yang masih sering dilontarkan oleh sebagian masyarakat. Memang, tak hanya gelombang hijrah umat yang mulai menggeliat, fenomena emak-emak dan calon emak-emak  melek politikpun semakin kuat. Semakin hari, semakin banyak forum-forum muslimah yang begitu concern membahas politik di negeri ini dengan segala hiruk pikuknya. Tulisan-tulisan bertema politik dari kaum muslimahpun mewarnai jagat media. Dengan bernas mereka memaparkan opini politiknya, menambah referensi, wawasan juga sudut pandang yang tak receh. 

Saat pemikiran emak-emak bangkit, saat itulah pemahaman tentang hidup dan kehidupannyapun ikut bangkit. Dan kebangkitan hakiki adalah kebangkitan yang dilandasi keimanan yang shahih, yang mutlak benar, yaitu Islam. Kebangkitan tersebut kemudian akan tercermin dalam pola pikir dan pola sikapnya dalam menjalani kehidupan. Termasuk pola pikir dan pola sikapnya terhadap politik. Emak-emak tidak akan diam apalagi antipati, karena merasa tak ada hubungannya dengan urusan pribadinya. Karena sejatinya seluruh kehidupan manusia tak lepas dari urusan politik. 

Kurikulum pendidikan yang mengisi kepala anak-anak kita tak lepas dari keputusan-keputusan politik. Keputusan yang berdasarkan pada sistem yang dianut. Saat sistemnya adalah kapitalisme, maka kurikulumnyapun tak jauh dari bagaimana cara memenuhi kebutuhan materi dan materi. Sekolah sekedar mengejar nilai akademis dan selembar ijazah, sebagai syarat yang ditentukan oleh sistem kapitalis untuk bisa bekerja, untuk mendapatkan uang agar bisa bertahan hidup. 

Padahal seharusnya pendidikan adalah tempat dibentuknya kepribadian anak bangsa yang tak hanya cakap secara ilmu dan teknologi, tapi juga kuat dan kokoh secara aqidah atau keimanan. Karena keimananlah yang akan menyelamatkan, menjaga sekaligus mengarahkan ilmu dan teknologi yang dikuasainya agar tidak melanggar hukum Allah dan tak hanya sekedar dijadikan jalan untuk memenuhi hasrat dunia semata. Ada keterikatan dengan hukum-hukum Allah dan rasa takut akan hari pembalasan, sehingga segala perilakunya selalu berlandaskan pada hukum halal-haram, pahala dan dosa. 

Sistem sekulerisme liberal membuat kasus-kasus kenakalan remaja, tawuran, narkoba, hubungan sesama jenis, seks bebas hingga hamil diluar nikah merajalela dan menjadi pemandangan yang dianggap biasa. Sementara Islam akan mencegah hal tersebut dengan membentengi aqidah dan akhlak generasi muda dari segala sisi. Tingkat keimanan individu yang kuat hasil dari didikan keluarga juga sekolah yang sesuai syariat, kontrol masyarakat yang sama-sama paham hukum Islam, kemudian peran negara yang tegas menerapkan hukum Allah, misalnya rajam bagi pezina, akan menjadi solusi tuntas problematika generasi muda hari ini. 

Harga-harga sembako yang kesehariannya paling dekat dengan emak-emak, BBM, listrik, air, sekolah, rumah sakit, kredit mobil,  kredit rumah, bahkan hingga tarif tol, semuanya berhubungan dengan keputusan politik. Dalam sistem kapitalis asas manfaat dan perhitungan untung rugi adalah harga mati. Sehingga segala keputusan yang diambil adalah yang mendatangkan manfaat dan keuntungan sebanyak-banyaknya bagi para kaum kapital, yaitu mereka para pengusaha yang berkuasa, atau juga para penguasa yang disokong pengusaha. 

Karena merekalah pelaku utama yang mengendalikan seluruh sektor, termasuk perekonomian. Dampaknya muncullah kesenjangan ekonomi. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Hal ini terjadi karena sebagian besar kekayaan negara dikuasai hanya oleh segelintir elit. Sementara sebagian kecil kekayaan sisanya diperebutkan sebagian besar manusia lainnya.

Dsitribusi kekayaan yang tidak merata adalah salah satu masalah utama sistem perekonomian kapitalis, selain asas perekonomiannya yang berbasis riba dan penggunaan uang kertas yang rentan inflasi. Hubungan antara negara dengan rakyatpun menjadi hubungan antar penjual dengan pembeli. Rakyat harus membayar mahal fasilitas-fasilitas yang harusnya disediakan gratis atau murah oleh negara.

Sementara di dalam sistem Islam, negara bertanggungjawab menjamin kebutuhan hidup rakyatnya tanpa terkecuali, baik muslim maupun non muslim. Riba yang jelas haram akan dicampakkan diganti dengan sistem Islam. Dinar dan dirham akan menjadi mata uang yang telah terbukti ampuh anti inflasi.

Kerepotan emak-emak  saat penerimaan siswa baru, tingginya angka pengangguran padahal sudah memegang ijazah sarjana, rendahnya dukungan dan apresiasi pemerinah terhadap anak-anak bangsa berprestasi, hidup sulit karena rendahnya upah pekerja, dan kebijakan-kebijakan lain yang tidak berpihak kepada rakyat, itu semuanya erat kaitannya dengan keputusan politik.  Negara tak benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pe-ri’ayah su’unil ummah (mengurusi urusan umat). Tapi hanya sebagai fasilitator, yaitu memberikan fasilitas bagi orang-orang bermodal untuk menguasi negara, salah satunya melalui peraturan perundang-undangan. UU Minerba, RUU Cipta Kerja, RUU BPIP adalah contoh diantaranya. 

Hari inipun kita tengah disuguhkan pertunjukkan, apa yang disebut para pengamat sebagai politik dinasti. Setidaknya sudah ada 5 calon kepala daerah yang merupakan kerabat penguasa. Sudahkan mereka memenuhi kriteria untuk memimpin dan mengurusi urusan rakyat?. Karena di tangan merekalah urusan rakyat dipertaruhkan. Akan menjadi lebih baik baik atau sebaliknya. 

Itulah mengapa sangat perlu para emak melek politik. Karena dari rahim para emaklah calon-calon pemimpin negeri itu lahir. Jadilah emak-emak pencetak generasi pemimpin yang memiliki rasa takut sekaligus cinta pada Allah dan RasulNya. Sehingga hidupnya, ilmunya, hartanya bahkan jabatannya, akan dia jalankan sesuai dengan yang Allah syariatkan.

Itulah mengapa sangat perlu para emak melek politik. Agar mampu meng-counter opini-opini liar yang terkadang memutarbalikkan antara haq dengan yang bathil. Tanpa ilmu yang mumpuni, emak-emak hanya akan tenggelam dan terbawa arus “sepilis” (sekulerisme, kapitalisme,  liberal), yang menjadi sumber krisis multi dimensi yang terjadi hari ini. Dari aqidah-akhlak hingga muamalah yang rusak. Dari urusan domestik rumah tangga yang penuh konflik, masyarakat yang acuh, hingga politik pemerintahan yang penuh intrik dan kepentingan. 

Itulah mengapa sangat perlu para emak melek politik. Karena selain wajib di wilayah domestik, sebagai pendidik anak dan pengurus rumah tangga, emak juga dibebani kewajiban berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar. Emak-emak muslimah tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Allah dan RasulNya, untuk keluarganya, untuk umat secara keseluruhan, juga untuk agama dan negara. 

Dakwah adalah bentuk cinta dan peduli. Melalui dakwah, para emak mengingatkan sekaligus memahamkan emak-emak yang lain bahwa segala hal dalam hidup ini berhubungan erat dengan politik dan keputusan politik. Agar semakin banyak emak yang sadar, yang bangun kemudian bangkit, bahwa Islam bukanlah agama ritual yang hanya membahas poligami-kawin-cerai, shalat dan sedekah, urusan jenazah atau hak waris. 

Islam adalah dien sempurna yang mengurus seluruh aspek kehidupan. Islam adalah agama sekaligus ideologi yang melahirkan sistem kehidupan yang akan menyelamatkan kita, keluarga kita, generasi penerus kita, masa depan peradaban kita dari kegelapan sistem kufur buatan manusia menuju cahaya di bawah syariat Allah yang maha sempurna. Wallahu’alam bishawab.[]

Oleh Anita Rachman 
Pemerhati Sosial Politik

Posting Komentar

0 Komentar