TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Dilematis Partai Islam Pragmatis


Koalisi antara Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bakal terjalin dalam waktu dekat khusus pemilihan wali kota Medan, Sumatera Utara dalam Pilkada Serentak 2020. Mereka bertekad mengusung pasangan calon bersama untuk melawan menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution.
Hal itu diungkapkan Presiden PKS, Mohamad Sohibul Iman usai menerima kunjungan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono di Gedung Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKS, Jakarta Selatan (CNNIndonesia.com, 24/7).

Keberadaan partai politik pastinya akan menjadi harapan bagi rakyat dalam menyalurkan aspirasi mereka untuk memantau jalannya roda pemerintahan negeri ini. Begitu pula keberadaan partai Islam, rakyat sangat mendambakan partai Islam dan tokoh-tokohnya istiqamah memperjuangkan Islam. 

Namun ketika berada dalam sistem demokrasi, tak mudah bagi partai Islam mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan. Misalnya ketika menjelang pilkada, banyak dijumpai fakta sikap politik partai Islam yang ternyata berkoalisi dengan partai sekuler demi kepentingan pragmatis meraih sekerat jabatan.

Hal-hal yang perlu dikritisi sebagai berikut:

Pertama. Koalisi partai Islam dan partai sekuler yang notabene berbeda visi misi lambat laun akan berdampak buruk pada perjuangan Islam. Misalnya akan menjauhkan dari perjuangan syariah Islam dalam kehidupan, karena tak mungkin partai sekuler yang anti syariah akan mendukung penerapan syariah. Sehingga partai Islam tak akan mampu memperjuangkan aspirasi umat Islam. Mirisnya partai Islam selama ini hanya pelengkap partai sekuler untuk menambah suara saja. Hal ini akan menjadikan pragmatisme di kalangan para kader dan pendukung partai Islam tersebut.

Kedua. Partai Islam seharusnya menyadari bahwa koalisi dengan partai sekuler lambat laun akan menghancurkan partai Islam karena tak mampu menjaga keteguhan partai dalam memperjuangkan syariat Islam. Umat pun tak akan lagi percaya ketika melihat koalisi pragmatis partai Islam yang tak mampu berbuat apapun serta terbelenggu mendukung kebijakan sekuler yang bertentangan dengan Islam.


Ketiga. Partai Islam dan tokoh-tokoh Islam seharusnya menjadi teladan umat dalam menolak ide-ide sekuler. Bukan justru terjebak dalam sekulerisme dengan bergabung partai sekuler. Ide sekuler (memisahkan agama dari kehidupan, tak ingin melibatkan agama dalam kehidupan) pastinya bertentangan dengan ide islam (melibatkan aturan Allah dalam kehidupan secara sempurna).

Partai Islam yang Istiqomah memperjuangkan Islam pastinya sangat didambakan umat. Sehingga umat akan mendukung dengan berjuang bersama. Tak sekedar meraih kekuasaan semu melalui pesta demokrasi. Namun memperjuangkan tegaknya syariah Islam dalam kehidupan.[]


Oleh: Nanik Farida Priatmaja

Posting Komentar

0 Komentar