TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Dilema Tak Sekolah Takut Bodoh, Bukan Takut Wabah



Sejumlah ibu-ibu yang menggelar demonstrasi terlihat ditemui salah satu guru dari sekolah tersebut. Salah satu ibu bahkan mengancam akan mengeluarkan anaknya jika sekolah tak memulai aktivitas belajar mengajar. Ia akan memindahkan anaknya ke sekolah yang siap menggelar aktivitas belajar mengajar. Salah satu warga Desa Tebul Barat, Mustofa membenarkan demonstrasi yang dilakukan puluhan ibu-ibu itu. Mustofa mengatakan, aksi itu dilakukan pada hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7/2020). Wali murid sudah tak tahan karena sekolah diliburkan selama empat bulan terakhir. Selama empat bulan itu, anak-anak hanya sibuk bermain. (Kompas.Com)

Sekolah daring benar-benar sangat memusingkan bagi mak-mak ini yang biasanya hanya sibuk mengurus urusan dapur kini harus memutar otak juga untuk mengajari anaknya. Bagaimana tidak selama pandemic, mak-mak ini harus punya power ekstra menghadapi anak-anaknya yang luar biasa. Membujuk, merayu mungkin tidak akan cukup kala si anak tetap tergoda teman sepermainannya di luar rumah. 

Yang biasanya hanya mengantar jemput sekolah kini semua tugas rumah selama kelas daring dimulai emak yang harus ngerjain, sedangkan anaknya sibuk main. Maka yang terfikirkan adalah untuk apa ada sekolah, guru dan buku? Disatu sisi memang enak sekolah daring, orangtua bisa memantau perkembangan anaknya, bahkan bisa mengontrol kesehatannya apalgi disaat wabah seperti ini, namun di sisi lain orang tua harus merogoh kocek lebih dalam, sedang mencari nafkah dimasa pandemic juga tidak mudah.

Sekolah juga harus menunggu izin dari Kemendikbud, karna yang membuat semua keputusan adalah mereka. Namun dibeberapa daerah zona hijau sekolah sudah dibolehkan, bahkan di Lhokseumawe sendiri yang zona merah sekolah sudah dibuka meski belum aktif seperti biasa. Hanya sekolah selama tiga hari seminggu dan itu pun masih dipantau perkembangan selama dua bulan kedepan begitu juga sarana yang akan di pakai. Ini pun membuat banyak orang tua dilema, antara tak ingin anaknya menjadi korban wabah dan korban kebodohan. 

Memang sekolah daring cukup tidak efektif bagi sebagian masyarakat. Apalagi jika orang tuanya pun gaptek (gagap teknologi). Dan juga sangat membosankan bagi si anak atau pun orangtuanya. Jika pun berjalan dari pagi sampai siang si anak hanya sibuk mengerjakan tugas demi tugas dari sang guru, hingga akhirnya pun stress sendiri. Yang biasanya sekolah normal hanya perlu sedikit mencatat, apalagi sekarang jaman teknologi tinggal foto saja dan seolah papan tulis tak berlaku. Hingga dari catatan sampai tugas semua itu merupakan contekan yang tersusun rapi.

Ibu saat ini hanya disibukkan duniawi, cukup memberi makan, pakaian dan kebahagiaan tapi lupa cara mendidik anak untuk menjadi soleh, pintar dan baik semua itu hanya mampu dilakukan oleh seorang ibu. Mungkin memang tidak mudah, tapi bukan mustahil, kita bisa melihat contoh para imam besar lahir dari rahim seorang ibu yang bertakwa. Sedangkan ibu jaman sekarang adalah ibu-ibu yang praktis hanya menerima anaknya dicetak oleh siapa? Anak sesuai cetakannya apatah lagi di sistem kufur ini, bisa jadi anak-anak kita kelak akan dicetak menjadi orang yang bisa merusak bangsa, negara dan agamanya…nu’uzbillah….

Menjadi seorang ibu haruslah punya ilmu khusus, ilmu untuk mendidik anaknya. Karena ibu adalah al-madrasatul ula (sekolah pertama bagi anaknya), ini yang tidak dipahami oleh ibu masa kini. Pemahaman inilah yang harus ditanamkan kepada para ibu bahwa menjadi seorang ibu harus siap mendidiknya, maka seorang ibu diharuskan untuk ikut serta membantu anaknya belajar. Menjadi seorang ibu harus menguasai banyak hal, karna ibu adalah cerminan dari sang anak. 

Misi dari kapitalis adalah menghancurkan generasi umat Islam sehingga jauh dari pendidikan Islam. Jadi, peran penting seorang ibu haruslah dikembalikan apalagi disaat pandemic ini menjadi kesempatan emas untuk mulai mendekatkan diri dengan buah hati yang sudah terlampau jauh. Sehingga kita tidak akan mendengar lagi kabar miris kelakukan anak remaja  yang jauh dari Islam.

Kapitalis lagi-lagi muncul dengan sangat mengecewakan, yang mampu difikirkan oleh pemerintah adalah bagaimana aktivitas terus berjalan dan perekonomian juga tak berhenti. Sehingga mereka mengorbankan rakyat banyak, padahal tanpa rakyat mereka juga tidak akan mempu menggerakkan perekonomian negara ini. Pemikiran kapitalis sungguh sudah mendarah daging di negeri ini, sehingga pengabaian terhadap kesehatan bukanlah hal utama lagi. Tapi masih juga para penguasa ini dan rakyat bertahan untuk mengambil sistem ini, berbeda halnya dengan Islam yang berikan solusi tepat untuk umat.

Islam memberikan sebuah solusi yang apabila diterapkan maka semua perrmasalahan akan selesai. Dimasa wabah seperti ini harusnya pemerintah sudah bisa menduga apa yang akan terjadi dan apa yang harus dipersiapkan, meski nantinya ada beberapa hal yang mungkin tidak berjalan sesuai dengan perencanaan.

Yang pertama harus dilakukan adalah menghalangi siapapun untuk masuk wilayah yang belum terkontaminasi dengan wabah. Kedua, harus mengunci tempat yang diduga menjadi sumber wabah dengan memberikan tes swab secara menyeluruh pada warga sekiratnya. Ketiga, memenuhi sandang, papan dan pangan daerah yang terkena wabah agar tak keluar dari area wabah. Keempat, area yang tak terkena wabah bisa melakukan aktivitas seperti biasa sekolah, bekerja dll, sehingga roda perekonomian tidak akan berhenti dan korban wabah pun bisa segera ditangani karena tidak menjalar ke daerah lain.

Walhasil tidak akan kita temui hal seperti saat ini yang sangat membingungkan umat, mereka tak tau harus apa pada anak-anaknya. Dan tak siap mendidik anaknya, tak siap untuk disalahkan dan tak siap melihat kehancurannya. Inilah dilema menjadi seorang ibu dimasa pandemic dengan sistem kufur yang diembannya dan semua ini tak akan berakhir sampai Islam diterapkan secara kaffah. Wallahu’ alam.[]

Oleh : Meutia Teuku Syahnoordin, S.Kom
Aktivis Muslimah Peradaban Aceh

Posting Komentar

0 Komentar