TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Dilema Ibu Hamil di Era Pandemi


Warga terpapar covid-19 kian merata di tiap tempat.  Bukan sekedar merata dari  di tiap tempat, tapi dari usia   pun merata. Ibu hamil (bumil) yang menjadi pasien positif Covid-19 terus berdatangan ke RSUD dr Soetomo (RSDS), Surabaya. Menurut Direktur RSDS dr Joni Wahyuhadi, hingga bulan ini ada 35 pasien bumil yang dirujuk ke rumah sakit tersebut. Dari jumlah itu, belum ada pasien yang meninggal. (linetoday, 30/6/2020).

Ibu hamil sebagai salah satu kelompok yang berpotensi untuk terpapar corona pun,  tak luput dari dilema di masa Pandemi, diantaranya:

Pertama. Kurangnya kuantitas dan kualitas masyarakat secara merata berefek pada sikap lalai terhadap protokol. Jadi tidak heran ketika bumil berusaha melindungi diri. Di satu sisi masyarakat di sekitar amat cuek terhadap pelaksanaan protokol. Sebagai contoh Jarang masyarakat pakai masker. Kondisi tersebut karena sebagian masyarakat menganggap bahwa Corona tidak ada. Ini sebagai bukti edukasi masyarakat masih belum maksimal.

Kedua. Rapid Tes dan Swab Bikin  Was-was. Rapid test yang tidak berbayar lewat masal beresiko pada antrian panjang pun menambah para bumil was-was tertular. Hal ini tak jarang menciutkan nyali sebagian masyarakat untuk mengikuti rapit test.

Belum lagi jika reaktif kemudian dilanjutkan swab. Biaya swab pun tidak ringan. Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Hikmah Bafaqih menyoroti proses swab test yang dijalani bumil. Mereka yang positif akan ditanggung negara. ”Tapi, yang negatif tidak ditanggung,” katanya. Rencananya, ada dua skema yang disiapkan untuk mengatasi keluhan itu. Pertama, diusulkan ke pemerintah pusat agar biaya ditanggung APBN. Kedua, biaya ditanggung APBD Jatim. ”Dengan begitu, bumil yang hasil tesnya negatif tidak keberatan,” ungkapnya. (linetoday, 30/6/2020)

Ketiga. Fasilitas Kesehatan Terbatas. Tak bisa dipungkiri pasien yang dirujuk ke RS. Rujukan covid khususnya dr. Soetomo amat terbatas tempat pelayanan. Kondisi ini pun membuat bumil berfikir ulang untuk melakukan test dalam upaya memastikan diri dan bayinya selamat dari terpapar covid-19. Karena yang terbayang bukan ketenangan untuk sembuh, tapi penambahan stres ketika sarana pelayanan tidak mendukung. 

Islam Solusi Harapan  Yang Menenangkan

Wabah covid-19  yang mendunia. Melumpuhkan sendi-sendi dan lini kehidupan masyarakat. Baik di negara maju, maupun  berkembang. Menjadi bukti kegagalan kapitalis dalam penanganan wabah. 

Melihat kondisi tersebut tentu tidak ada pilihan bagi seorang muslim khususnya, dan negeri-negeri muslim pada umumnya untuk mengambil solusi Islam secara total.

Sedari awal para ulama' dan pakar telah menawarkan solusi syar'i. Dengan cara lockdown atau pun karantina wilayah. Namun, tak dihiraukan pemerintah. Justru lagi-lagi alasan ekonomi yang dikedepankan. Dan bagaimana yang terjafi justru solusi menuju newnormal bukan menekan angka penularan. Justru angka positif kian bertebaran. Terlebih di Jawa Timur.

Islam sebagai sistem yang sempurna dan paripurna. Menjadikan hak pelayanan kesehatan harus dipenuhi oleh negara. Tentu dengan pemanfaatan SDA milik umat. 

Bahkan, dalam era kegemilangan peradaban Islam (khilafah). Jaminan kesehatan amat menakjubkan. Jangankan jaminan fasilitas untuk mereka yang sakit. Yang pura-puy sakit pun, diperlakukan dengan bijak. 

Sebagaimana dalam sebuah kisah ada pemuda yang pura-pura sakit agar mendapatkan pelayanan rumah sakit. Dokter pun yang tahu ia berpura-pura tetap memberi pelayanan.  Setelah 3 hari dokter menulis sepucuk surat, mengabarkan masa kunjungan telah habis, dan memberikan sejumlah uang yang cukup sebagai bekal mencari kerja.

Untuk fasilitas rumah sakit di era Khilafah. Di Cordoba dengan luas lebih sedikit dari luas Propinsi Banten (13.550 km2) memiliki 50 rumah sakit. Jika demikian seharusnya Indonesia dengan luas (1. 906.240 km2) memiliki 100. 000 ribu rumah sakit. Sedang menurut Depkes 2009 Indonesia masih memiliki 1.320 rumah sakit.

Tidak hanya rumah sakit tetap. Rumah sakit keliling pun masa itu sudah ada.  Dengan diangkut sampai 40 unta,  para dokter keliling mengunjungi pasien satu per satu di daerah yang jauh dari kota. Bahkan para bidan pun siap memberikan pelay bagi bumil dan bersalin. ( Kedokteran Islam dari Masa ke Masa. Dzikra. Bandung. 2002).

Gambaran di atas bukan hak mustahil bisa dilaksanakan di era sekarang termasuk Indonesia dengan segala potensi kekayaan di dalamnya. Tentu dengan satu pengelolaan yang komperhensif dalam kepemimpinan khilafah Islamiyah. Dimana politik  kebijakan baik kesehatan, ekonomi dan lainnya tidak lepas dari pengaturan syariat Islam sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dan diikuti para khulafa' sesudahnya. Allahu a'lam bi shawab.[]

Oleh Yuyun Rumiwati

Posting Komentar

0 Komentar