TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Di Balik 'Chasing' Baru Penanganan Terorisme


Penanganan terorisme di negeri +62 memasuki babak baru. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Boy Rafli Amar menyampaikan bahwa badan resmi di bawah naungan Pemerintah tersebut memiliki gugus tugas yang melibatkan unsur pemuka agama, yang bertujuan mencegah paham terorisme masuk melalui unsur-unsur agama. Hal tersebut disampaikan dalam acara silaturahmi Komandan Pasukan Khusus dari TNI dan Polri di kantor BNPT Komplek IPSC Sentul, Kabupaten Bogor (07/07). ( Detik.com, 08/07/2020)

Jauh-jauh hari BNPT memang sudah menjalin hubungan melalui halal bihalal dan silaturahmi bersama tokoh ormas keislaman yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) pada Senin siang (15/6). Hadir dalam kegiatan ini Kepala BNPT, Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H. didampingi jajaran Deputi, Plt. Sekretaris Utama, dan Direktur di lingkungan BNPT, Ketua Umum LPOI sekaligus Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A., Sekjen LPOI, H. Denny Sanusi, B.A., serta sejumlah ketua Ormas Islam yang tergabung dalam LPOI. (BNPT.go.id, 15/06/2020)

Dikutip dari situs yang sama, Kepala BNPT menyampaikan bahwa saat ini narasi keagamaan yang menyimpang dan persuasif banyak digunakan oleh kelompok teroris untuk menjaring simpatisan. Lebih lanjut Ia menekankan pentingnya pelibatan organisasi agama, dalam hal ini tokoh agama moderat dan teknologi dalam memoderasi pemikiran radikal terorisme. Kemajuan teknologi kini memudahkan pergerakan kelompok teror dalam melakukan diseminasi paham radikal. 

Seruan propaganda melalui sosial media telah berhasil mengajak anak muda membangun jejaring teroris di Indonesia, sehingga tidak sedikit remaja-remaja militan yang nekat melakukan aksi teror dengan mengatasnamakan agama. Menurut Boy Rafli, ruang publik yakni dunia maya, di mana setiap orang memiliki kebebasan berkspresi, perlu digunakan secara bermatrabat dengan memberikan edukasi terhadap pemahaman agama yang benar.

Menilik perjalanan isu terorisme di Indonesia tentunya tidak akan bisa habis dikupas tuntas dalam 1 tulisan. Kisahnya panjang mengalahkan kisah sinetron dan butuh analisis yang mendalam. Isu terorisme di tanah air bermula seiring dengan isu terorisme global yaitu semenjak peristiwa pengeboman gedung kembar WTC, 11 September 2001. Meski mendapat berbagai kecaman dari warga AS sendiri, peristiwa tersebut benar-benar membentuk tatanan dunia baru dalam bingkai 'war against terorism', perang melawan terorisme.

Agenda global yang diadopsi oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia ini telah melewati beberapa babak yang menegangkan, karena aksinya biasa dipertontonkan dengan lakon yang kadang terkesan masih amatiran. Mulai dari barang bukti identitas pelaku yang masih utuh di tengah puing-puing reruntuhan pasca pengeboman, hingga data fiktif pelaku yang seolah mengada-ada. Belum lagi aksi kontroversial yang selalu digelar densus 88 yang notabene merupakan kelompok khusus yang dibentuk untuk menindak kelompok teroris.

Memang benar, organisasi agama memainkan peran yang vital dalam membangun narasi agama yang benar. Organisasi keagamaan di Indonesia sendiri dinilai memiliki kredibilitas dan pengaruh yang besar sehingga masyarakat menyandarkan pengetahuan keagamaan darinya.

Akan tetapi beberapa permasalahan perlu dicermati terkait hal ini, yaitu:

Pertama, sejak awal dihembuskannya, telah terjadi pengaburan terhadap makna terorisme yang semakin nyata tujuannya yaitu untuk mendiskreditkan Islam. Hal ini terbukti dari beberapa aksi teror yang pelakunya muslim diberikanlah label sebagai aksi terorisme, sedangkan aksi teror yang sama bahkan lebih parah tapi pelakunya non muslim tidak dilabeli sebagai aksi terorisme. 

Sebagai contoh adalah peristiwa pembakaran masjid di Tolikara pada tahun 2015 lalu oleh oknum kelompok kristen tidak dikatakan sebagai aksi terorisme, malah pelakunya diundang ke istana. Di tahun yang sama terjadi pembakaran vihara akibat provokasi muslim di media sosial dikatakan sebagai aksi terorisme.

Kedua, organisasi agama yang dimaksud oleh Kepala BNPT adalah kelompok moderat yang tergabung dalam kelompok Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI). Alih-alih membangun narasi agama yang benar, kelompok moderat semacam ini malah perlahan-lahan meruntuhkan bangunan agama dengan pemikiran-pemikiran yang menyimpang lagi berbahaya. Mereka terbiasa menggunakan akalnya untuk memelintir ayat Alquran. Na'uudzubillaah. 

Pendistorsian makna jilbab, jihad dan Khilafah sudah cukup membuktikan kiprah mereka. Label radikal dan teroris pun tak ragu mereka sematkan pada kelompok-kelompok Islam ideologis. Apalagi kita sudah hafal dengan sosok pimpinannya yang gemar memancing kontroversi di tengah umat, diantaranya konsep Islam Nusantara yang masih kontroversial hingga saat ini.

Ketiga, telah menjadi rahasia umum bahwa moderasi Islam merupakan agenda global kafir penjajah semenjak runtuhnya Khilafah Utsmaniyah di Turki pada tahun 1924 M. Hal ini termaktub dalam sebuah dokumen lembaga think tank AS, RAND Corporation yang berjudul Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies, yang ditulis Cheryl Benard pada 2003, dan Building Moderate Muslim Network pada 2007. Maka jangan heran jika proyek semacam ini senantiasa 'dibudidayakan' dan dilestarikan keberadaannya demi melanggengkan hegemoni kafir penjajah atas kaum muslimin di dunia ketiga.

Selama ideologi musuh Islam yang berkuasa, maka jangan harap isu terorisme akan lenyap dari dunia, karena agenda perang melawan terorisme sejatinya adalah agenda perang melawan Islam. Ironisnya, perang ini dilakoni salah satunya oleh kelompok bentukan musuh Islam yang menjadikan permasalahan semakin rumit. 

Solusi atas permasalahan ini tak lain yaitu dengan menghadirkan institusi tandingan yang sepadan untuk melawan kekuatan adidaya. Cukuplah kembalinya Khilafah Islam atas dasar manhaj kenabian menjadi tonggak sejarah baru dunia tanpa isu terorisme dan isu-isu murahan lain jualan musuh. Cukuplah pula Allah swt sebagai Penolong atas perjuangan melawan mereka. Wallaahul musta'aan.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." (TQS. Ali Imran: 54)

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Oleh Lely Herawati 

Posting Komentar

0 Komentar