Derita Rohingya, Akankah Usai?



Manusia perahu, itulah sebutan untuk muslim Rohingya yang terlunta-lunta. Bahkan siksa dan aniaya pun diterima, hingga mereka lebih memilih melarikan diri tanpa arah tujuan. Demi menyelamatkan nyawa, mereka rela terombang-ambing di atas perahu, karena negerinya tak menganggapnya ada. Mereka hanya menanti dan berharap, akankah deritanya usai?

/Mengenal Rohingya/
Rohingya adalah sebuah kelompok etnis Indo-Arya dari Rakhine (juga dikenal sebagai Arakan, atau Rohang dalam bahasa Rohingya) di Myanmar. Rohingya adalah etno-linguistik yang berhubungan dengan bahasa bangsa Indo-Arya di India dan Bangladesh (yang berlawanan dengan mayoritas rakyat Myanmar yang Sino-Tibet).

Menurut penuturan warga Rohingya dan beberapa tokoh agama, mereka berasal dari negara bagian Rakhine. Sedangkan sejarawan lain mengklaim bahwa mereka bermigrasi ke Myanmar dari Bengal terutama ketika masa perpindahan yang berlangsung selama masa pemerintahan Inggris di Burma.

Kerusuhan komunal antara sejumlah kelompok Buddha Rakhine dan Muslim Rohingya pun terjadi bagian Rakhine di Myanmar. Keadaan semakin memburuk sejak pemerintah mendeklarasikan status darurat atas Rakhine sehingga melegalkan intervensi militer (disebut Tatmadaw) dalam "menangani” kerusuhan komunal berdimensi agama itu. Tentu saja yang banyak menjadi korban dan target tragedi kekerasan ini adalah kelompok minoritas Muslim Rohingya, yang menurut kisaran PBB jumlah mereka sekitar 1,3 juta di Myanmar. 

/Dunia Kemana?/
Karena kerusuhan itu, gelombang pengungsian pun terjadi. Pada tahun 2012 lebih 200 warga etnis Rohingya tewas dan 140.000 lainnya digiring ke kamp-kamp penampungan.
 
Pada tahun 2017, seperti dilansir BBC Indonesia (14/12/2017), Militer Myanmar menggelar operasi keamanan setelah kelompok militan Rohingya, ARSA, menyerang lebih dari 30 pos polisi. Menurut badan sosial Medecins Sans Frontieres (MSF) temuannya memperlihatkan sedikitnya 9.000 umat Muslim Rohingya tewas di Myanmar dalam periode 25 Agustus hingga 24 September 2017. Dengan perkiraan yang paling konservatif, sedikitnya 6.700 dari korban yang tewas itu diakibatkan kekerasan, termasuk 730 anak-anak berusia di bawah lima tahun.

Yang lebih mengejutkan lagi, Direktur Medis MSF, Sidney Wong menyatakan, menurut survei terhadap pengungsi yang saat itu di Bangladesh, bahwa penyebab kematian mereka adalah 69,4% ditembak, 8,8% dibakar rumah mereka, 5% dipukuli, 2,6% kekerasan seksual, 1% ranjau darat, 0,3% ditahan/diculik, 0,2% tenggorokannya dipotong, lainnya 12,31%, dan yang tidak diketahui penyebabnya 0,4%.

Pada Juni tahun 2020 ini, berdasarkan data Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya (PIARA) jumlah pengungsi Rohingya asal Myanmar yang mengungsi di Eks Gedung Imigrasi, Puenthet, Aceh Utara secara keseluruhan mencapai 99 jiwa yang diantaranya 17 orang pria, 49 orang perempuan, 10 anak laki-laki dan 22 anak perempuan serta seorang bayi perempuan. Nikmah Kurnia Sari, relawan PIARA yang juga Direktur Pos Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) Aceh Tengah dan Bener Meriah melalui pesan singkatnya menyampaikan, dalam satu kapal yang mereka tumpangi, jumlah warga yang selamat mencapai 99 orang, sementara 15 orang yang meninggal di kapal itu, jenazah yang meninggal ini di buang ke laut (kompas.com, 29/6/2020).

Namun, selama ini dunia kemana? PBB selaku pemangku kekuasaan tertinggi antar Bangsa-bangsa tak memberi solusi berarti. Hanya kecaman atau penyesalah tanpa bisa menindak tegas atau menghentikan penderitaan Rohingya ini. Padahal mereka adalah pengusung kapitalisme yang selalu bersuara membela HAM. Tetapi, kini seakan tak berlaku untuk Rohingya. HAM hanya berlaku untuk hal yang menguntungkan mereka, seperti LGBT dan pendukungnya. Namun jika itu berkaitan dengan umat Islam, maka seolah HAM tak ada gunanya. Faktanya, hingga saat ini derita muslim Rohingnya seakan tak ada sudahnya. Belum lagi, muslim di Gaza Palestina, Uiyghur di China, Kashmir di India dan banyak lagi muslim yang tertindas di dunia ini, tetapi tak ada solusi yang memberikan angin segar untuk mereka.

Dikutip dari Anadolu Agency, Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM) Michele Bachelet mengatakan kondisi HAM etnis Rohingya di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, belum membaik. Dengan demikian, proses repatriasi pengungsi Rohingya belum dapat dilakukan (republika.co.id, 1/7/2020).

Bukankah justru ketika keadaan belum membaik, adalah tugas PBB untuk mendamaikan mereka? Namun, begitulah nyatanya. Kapitalisme-sekuler menjadikan segala kebijakan PBB pun seolah tak ingat akan keberadaan Tuhan. Maklum, bagi mereka urusan dengan manusia tak ada campur tangan Tuhan.

Negara-negara lain pun tak bisa bertindak banyak karena terbentur sekat nasionalisme. Memang, atas nama kemanusiaan mereka mencoba menolong, menampung sementara, dan memberi bantuan seadanya. Namun, mereka tak bisa menuntaskan penyikasaan yang terjadi di Rohignya, dengan alasan itu adalah kebijakan dalam negeri Myanmar.

/Islam Besuara/
Kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan yang satu dan terpusat, yaitu Khilafah yang dipimpin oleh Khalifah. Ketika satu wilayah terzalimi oleh pihak lain, maka Khalifah akan segera mengirim bantuan, menyelamatkan nyawa, bahkan tak segan untuk memeranginya. 

Dulu, Muhammad bin Harun Ar-Rasyid yang dikenal dengan julukan Al-Mu'tashim Billah (Yang Berlindung kepada Allah) adalah salah seorang Khalifah di masa Abasiyah. Musuh nyata saat itu adalah Byzantium. Dalam penyerbuan ke kota Zabetra, pasukan Byzantium bertindak buas, membunuh para lelaki dan menawan anak-anak serta wanita. Mereka mencungkili mata dan memotong hidung serta telinga mereka.

Seorang wanita keturunan Bani Hasyim berteriak memanggil-manggil nama Khalifah Al-Mu'tashim. Ketika berita itu sampai ke telinga sang Khalifah, ia segera mengerahkan pasukannya. Pasukan Byzantium tak bisa bertahan. Mereka melarikan diri ke daerah Dasymon. Di sana berlangung pertempuran sengit yang dalam sejarah dikenal dengan Perang Dasymon.

Sisa-sisa pasukan Byzantium bersembunyi di benteng Amorium, di Galatia, kota kelahiran Kaisar Theopilus. Setelah mengalami pengepungan cukup lama, akhirnya benteng itu bisa ditaklukkan. Kota Galatia dihancur-leburkan hingga rata dengan tanah.

Begitulah pembelaan seorang pemimpin kepada rakyat yang tertindas dan teraniaya. Semua dilakukan karena Iman, membela saudara seaqidah yang dizalimi. Sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma, Nabi saw. bersabda, 
“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendhaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat." (HR. Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580, Ahmad no. 5646, Abu Dawud no. 4893, at-Tirmidzi no. 1426).

Namun demikian, pembelaan itu tidak dapat dilakukan selama muslim di muka bumi ini masih tersekat nasionalisme. Hanya Khilafahlah yang akan mampu mewujudkan pembelaan itu, dengan mengirim pasukan Daulah memerangi kaum kafir harbi laknatullah. Wallahua'lam bish-showab.[]

Oleh: Anita Ummu Taqillah

Posting Komentar

0 Komentar