TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Deras Arus Moderasi Menggerus Generasi



Menteri Agama Fachrul Razi menegaskan, sebagai institusi yang diberi amanah untuk menjadi leading sector, Kementerian Agama terus memperkuat implementasi moderasi beragama. Hal ini ditegaskan Menteri Agama Fachrul Razi dalam diskusi daring dengan Gugus Tugas Nasional Revolusi Mental, Kamis kemarin (Okezone.com, 3/7/2020).

Upaya ini terus bergulir bak bola salju dalam mengikis nilai-nilai Islam melumpuhkan kepribadian Islam di tengah generasi melinial hari ini. Berbagai upaya terus di jalankan oleh penguasa mulai dari menanamkan nilai moderasi menjadi kurikulum pendidikan, membangun rumah moderasi,membina kampus-kampus Islam negri  memilih ulama yang bersertifikasi,serta melakukan bimbingan pranikah dengan nilai-nilai moderasi dan toleransi.

“Di PTKIN sudah ada Rumah Moderasi yang juga melakukan pembinaan kepada civitas akademika serta masyarakat sekitarnya. Ke depan, Rumah Moderasi akan semakin diaktifkan. Program penceramah bersertifikat juga akan mulai dijalankan,” ujar Menag  (Okezone.com, 3/7/2020).

Islam moderat yang di gambarkan adalah Islam yang toleransi dalam kehidupan beragama, sehingga Mentri agama dan jajarannya kembali menyeleksi sekitar 155 buku mata pelajaran agar sejalan dengan tujuan generasi moderat.

Ditengah-tengah serangan arus moderasi yang lahir dari sistem sekularisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan dan menanamkan nilai-nilai toleransi yang bertegangan tinggi ini tentu akan membuat generasi akan kehilangan arah. Sebab penguasa bersungguh-sungguh mengikis nilai-nilai Islam mulai dari jihad, sampai Khilafah yang sejatinya memang adalah ajaran Islam.

Dalam hal ini peran keluarga sangat penting dalam pengasuhan sekaligus mendidik sang buah hati khususnya ibu, agar tidak kehilangan arah karena ibu sebagai (Ummu wa robbatul bait) pendidik dalam rumah yang pertama dan utama, jika seorang ibu kehilangan arah dalam mendidik anak-anaknya maka tentu akan menghasilkan generasi yang jauh dari Islam di tambah dengan lingkungan pendidikan yang sejalan dengan arahan kafir barat semakin menjauhkan generasi dari atmosfer keimanan kepada Allah.

Sehingga lahirlah generasi yang bebas tanpa batas, hedonisme, suka berpoya-poya, miskin ilmu pengetahuan, tanpa tujuan, generasi tanpa warna, mudah di adu domba, anti Islam dan materialisme Karen pemuda hanya berfikir bahwa kebahagiaan itu hanya datang dari materi semata sehingga untuk bahagia harus mempunyai materi yang berlimpah serta berupaya untuk mendapatkan materi itu sesuai dengan sekehendak hatinya, maka Islam itu cukup lah hanya sekedar rukun Islam atau rukun iman saja. 

Ideologi kapitalisme telah melahirkan pola kehidupan generasi sekularisme anti Islam yang tidak mau berhukum dengan hukum yang diciptakan oleh penciptanya. Memisahkan urusan agama dan kehidupan seolah-olah tidak ada hubungan antara yang di lakukan hari ini dengan hari pembalasan. 

Kepribadian Islam

Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Termasuk didalam pendidikan akidah Nabi Muhammad Saw telah memberikan contoh untuk mendidik generasi

Abbas berkata: Suatu hari aku membonceng Nabi saw. Beliau bersabda kepadaku, “Nak, sungguh aku akan mengajari kamu beberapa kalimat: Jagalah (syariah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (syariah) Allah, niscaya engkau akan mendapatkan (pertolongan/perlindungan) Allah senantiasa di hadapanmu. Bila engkau meminta (sesuatu) maka mintalah kepada Allah. Bila engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR Ahmad dan at-Tirmidzi).

Betapa besar dan betapa dalam pendidikan yang diberikan oleh Rasulullah saw. kepada anak pamannya, Abdullah bin ‘Abbas, yang saat itu belum balig.

Demikian  halnya dengan cucu beliau  Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. Ia dilahirkan pada tahun 3 hijriah (ketika Rasul saw. meninggal, ia berumur 7 tahun). Hasan bin Ali ra. mengambil sebiji kurma dari kurma shadaqah(zakat). Kemudian ia memasukkan kurma itu ke dalam mulutnya (hendak memakannya). Nabi saw. lalu bersabda kepada dia, “Kakh, kakh,” agar ia mencampakkannya. Lalu beliau bersabda kepada dia, “Tidakkah engkau sadar bahwa kita tidak (halal) memakan shadaqah?” (Muttafaqun ‘alaih).

Hadis ini menjadi dasar kuat bagi prinsip pendidikan anak, yaitu sejak dini diajarkan  untuk tidak memakan harta haram, menjauhi segala makanan yang tidak boleh dimakan, juga menjauhi segala perbuatan yang tidak dibenarkan Islam.

Secara khusus yang berkenaan dengan shalat, Nabi saw. telah bersabda, “Perintahlah anak-anak kalian agar mendirikan shalat tatkala mereka telah berumur tujuh tahun dan pukullah (jika tak mau shalat) tatkala mereka telah berumur sepuluh tahun.”

Pada hadis ini, Rasulullaah saw. dengan tegas mensyariatkan agar pendidikan shalat dimulai sejak dini, yaitu sebelum balig. Bahkan ketika ia baru berumur tujuh tahun ia sudah diperintahkan untuk shalat. Tentu syariat ini memerlukan persiapan, yaitu dengan mengajarkan tatacara shalat, dimulai dari cara berwudhu, rukun-rukun shalat, wajib-wajibnya, sunnah-sunnahnya, hingga yang membatalkannya. 

Persiapan ini bisa dilakukan sejak dini walau ia belum diperintahkan dan tidak perlu dimarahi kalau tidak mau shalat.  Hanya saja,  bila sudah berumur tujuh tahun, maka disyariatkan untuk memerintahkan anak shalat, dan bila ia tidak mau maka kita memberi peringatan, cukup dengan ucapan. Bila sudah berumur sepuluh tahun maka disyariatkan memukul anak bila ia tidak mau shalat. Tentu dengan pukulan yang tidak membekas atau menyakitkan atau mengenai tempat-tempat yang berbahaya.

Dari beberapa hadis ini, telah sangat jelas bahwa kita diperintahkan untuk mendidik anak sejak dini, terkait akidah ataupun syariah, termasuk adab karena adab merupakan bagian dari hukum syariah.

Maka tentulah hal yang sangat terlarang jika seorang muslim mengkotak-kotakkan pembelajaran Islam memilih yang mereka sukai dan membuang ajaran Islam yang mereka benci dan di anggap sebagai ancaman apa bila berada di tengah kehidupan. Pada hal Islam itu adalah agama yang mengajarkan toleransi terbaik, telah berhasil mengukir sejarah menguasai dua pertiga dunia selama 13 abad lamanya dan kaum muslimin maupun kaum kafir hidup berdampingan dengan damai dan dengan pengurusan yang baik sebab hukum yang di terapkan di antara mereka adalah hukum yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Inilah pentingnya mengembalikan kehidupan Islam sebagai ideologi agar menjaga kehidupan manusia yang sesuai dengan fitrah nya dengan menegakkan syariah Islam di muka bumi sehingga turun Rahmat Allah dari langit dan muncul dari bumi. Waullahua'lam bisahwab.[]


Oleh: Agusmi Yutika, S.Pd 
Aktivis Dakwah dan Pemerhati Kehidupan Sosial Remaja

Posting Komentar

0 Komentar