TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Dari Hagia Shopia, Tragedi Srebrenica, hingga Moderasi Beragama di Nusantara



Di tengah sulitnya dunia menghadapi covid-19 hari ini, umat Islam mendapat kabar hangat tentang diubahnya kembali Hagia Sophia menjadi masjid. Bangunan elok yang satu ini merupakan salah satu bangunan bersejarah yang menjadi simbol peradaban Islam. Hagia Sophia dulunya adalah gereja bagi penduduk Kristen kerajaan Romawi di Konstantinopel (sekarang Istanbul di Turki).

Lalu diubah fungsinya menjadi masjid oleh Sultan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453. Dijadikannya Hagia Sophia menjadi masjid adalah satu-satunya permintaan Al-Fatih pada peduduk Konstantinopel setelah tentara muslim Khilafah Utsmani berhasil menaklukan kota tersebut. Bangunan ini kemudian menjadi simbol yang menunjukkan pada dunia bahwa Islam pernah berjaya bukan hanya di bagian Timur Tengah dunia, namun juga di bumi Eropa. Simbol bahwa Islam pernah menyentuh Eropa, bukan dengan penjajahan kejam seperti yang dilakukan Barat pada negeri muslim setelah Perang Dunia 1, tapi dengan futuhat yang beradab.

Setelah lebih dari empat abad simbol ini tegak di hadapan dunia, Mustafa Kemal kemudian mengubahnya menjadi museum di tahun 1934. Menganulir keputusan Muhammad Al-Fatih seraya mengunci ingatan sejarah kejayaan Islam dari umatnya. Namun, tak lama lagi simbol ini kembali ke tangan kaum muslimin. Simbol terwujudnya salah satu bisyarah Rasulullah SAW akan kembali ke ingatan umat Islam. Kembali seolah mengatakan bahwa misi umat ini untuk mewujudkan bisyarah yang lain belum teraih. Seolah mengingatkan umat ini agar segera bangkit dari keterpurukannya dan kembali pada jati diri.

Namun di sisi lain, kabar hangat ini datang bersamaan dengan peringatan 25 tahun tragedi yang dialami umat Islam di Srebrenica. Dua puluh lima tahun yang lalu di Bosnia, di salah satu negeri yang pernah berada di bawah Khilafah Utsmani ini terjadi genosida terhadap bangsa aslinya yang memeluk Islam. Ethnic cleansing dilakukan terhadap muslim Bosnia oleh militer dan penduduknya yang beragama Nasrani. Meski asal ras dan bangsa mereka sama, tanpa ampun mereka membunuh, menyiksa, melecehkan penduduk mereka sendiri. 

Hingga muslim Bosnia mengungsi di Srebrenica pun pasukan militernya terus mengejar dan menyerang. Banyak perpustakaan, buku-buku, sekolah dan segenap peninggalan sejarah peradaban Islam mereka bakar dan hancurkan. Tragedi tersebut bukan hanya memusnahkan muslim di sana, namun juga menghapus sejarah umat Muhammad dari ingatannya. Tragedi itu menjadi salah satu pengikis umat dari jati diri mereka yang sebenarnya.

Mirisnya, kini di Nusantanra, negeri dengan penduduk muslim terbanyak di dunia juga ada upaya penghapusan jati diri umat Islam dari diin-nya. Bukan oleh orang lain, melainkan muslim di negeri itu sendiri yang melakukannya. Bab Khilafah dan Jihad yang merupakan perkara fiqih dan syariat diubah pemerintah Indonesia menjadi bahasan sejarah saja. Moderasi beragama adalah dalihnya. 

Padahal Khilafah dan Jihad adalah bagian dari syariat Islam yang harus diterapakan oleh pemeluknya.  Ketika dua hal ini dicantumkan dalam pendidikan agama menjadi hanya sejarah saja, maka akan menghilangkan pemahaman yang benar pada umat tentang Islam. Akhirnya umat dan generasi penerusnya hanya memahami bahwa Khilafah dan Jihad hanya peristiwa masa lalu, bukan kewajiban untuk dilaksanakan. Bukan pula syariat Allah yang harus dilakukan. Jika ini diberlakukan, maka bukan sekedar moderasi agama namanya. Tapi kebijakan ini sudah termasuk mengubah bagian dari agama. 

Hal yang wajib dipelesetkan menjadi tidak wajib melalui labeling ‘sebatas kenangan masa lalu’. Ini jauh lebih parah dari penghapusan sejarah peradaban Islam saat tragedi di Srebrenica. Lebih buruk daripada mengubah Hagia Sophia menjadi museum dari fungsinya sebagai masjid di masa kekhilafahan. Sebab mengubah Khilafah dan Jihad dari perkara fiqih menjadi sejarah, akan menghilangkan jati diri umat Islam yang sesungguhnya. 

Semakin menjauhkan umat dari agamanya. Menghilangkan pemahaman umat bahwa dua hal tersebut adalah kewajiban yang harus ditunaikan. Terlebih lagi memusnahkan satu-satunya senjata umat ini untuk bangkit dari keterpurukan, mewujudkan bisyarah Rasul tuk menaklukkan Roma sebagaimana Konstantinopel dan Hagia Sophia.[]

Oleh: Monicha Octaviani


Posting Komentar

0 Komentar