Dakwah Politik antara Dijauhi dan Dinanti?


Geliat dakwah dan syiar Islam terus bergeliat. Terlebih di masa Pandemi. Dakwah lewat virtual pun kian menjamur. 

Ada satu pertanyaan yang sering hadir di masyarakat awan, kenapa dakwah politik jarang di liput di media TV? Bahkan, terkesan dijauhi atau ditakuti. Tentu berbeda dakwah akhlak, dakwah qolbu yang tersebar baik di media elektronik dan media masa?

Tentu kondisi tersebut bukan hal alami, terlebih media mainstream yang ada dalam kontrol rezim kapitalis seluler. Lalu, ada faktor lain di balik terasingnya dakwah politik di tengah umat? Ada beberapa catatan terkait hal tersebut.

Pertama: Fakta politik yang mengitari umat adalah politik Kapitalis demokrasi. Yang melahirkan berbagai hal yang menjijikkannya. Orientasi pada kekuasaan. Segala cara dilakukan untuk mendapatkannya. Politik uang dimana-mana. Saling sikut-sikutan. Hari ini jadi kawan,  besok bisa jadi lawan. Obral janji menjadi jajanan politikus pra pemilu. Pasca pemilu hilanglah segala janji manis. Rakyat hanya diingat suaranya saat pesta demokrasi.

Fakta ini yang mau tak mau terekam di benak umat. Dan membuat sebagian besar  malas dan dan anti politik. Karenanya tak salah jika faktanya demikian umat mengatakan politik itu kotor.

Kedua: Kurangnya pemahaman makna politik dalam Islam. Kurangnya pemahaman makna hakikat politik Islam. Berefek pada generalisasi politik ala demokrasi pada segala macam politik termasuk ketika mendengar politik Islam.

Politik Islam hakikatnya adalah "riayahsu'ulil ummah". Pengaturan urusan umat dengan segala lininya dengan aturan Islam.

Karenanya, tidak ada sekecil aspek pun dalam kehidupan manusia yang tidak ada solusinya dalam Islam. Mulai dari bangun tidur. Hingga membangkitkan kembali peradaban Islam dan umat yang masih dalam kondisi "tidur" pun telah lengkap Islam mengaturnya.

Mengatur urusan pribadi, rumah tangga, tetangga hingga hubungan negara dan politik luar negeri, ada panduannya. Baik menyangkut ibadah ritual. Maupun muamalah lengkap di sana.

Pelurusan makna politik yang khas ala Islam inilah yang harus disyiarkan. Agar umat tak anti politik. Apalagi bunuh diri politik. Apa artinya? Menjauhkan dari politik Islam yang benar. Namun, di sisi lain rela maupun terpaksa mengambil politik  barat sebagai pedoman dalam kehidupan berpartai dan bernegara.

Ketiga: Adanya Upaya menjauhkan  umat dari makna politik yang benar oleh para Kapitalis demokrasi.

Barat sadar betul betul potensi besar politik umat Islam. Kesadaran umat yang  jernih terhadap politik Islam yang shahih akan mengantarkan daya perubahan untuk kembali bangkit dalam tatanan politik Islam yang khas yaitu penerapan politik Islam dalam naungan khilafah Islam.

Hal tersebut ditakuti oleh para Kapitalis demokrasi.  Kebangkitan Islam, berarti kehancuran bagi penjajahan mereka atas dunia. Karenanya dijauhkan pemahaman politik Islam terkhusus khilafah. Dengan segala cara digunakan agar umat Islam alergi bahkan menentang ajaran agamanya. 

Lewat antek dan agennya barat berusaha mendistrosi ajaran Islam sesuai kehendak mereka.  Munculah 3 pemilahan: Islam liberal, moderat dan radikal. Bahkan, tak segan melebeli teroris, radikalis dan fundamentalis bagi aktivis Islam yang getol terhadap kebangkitan Islam politik.

Ini tidak terjadi di era kini saja. Menengok sejarah terkait piagam Jakarta pun, barat melalui kaum nasionalis berusaha menyingkirkan aspirasi ulama yang akan menjadikan syariat dalam mengatur kehidupan bagi pemeluknya. 

Keempat: Keterbatasan pemahaman umat terhadap Islam sebagai sebuah sistem kehidupan yang sempurna (ideologi).

Sejak lama pendidikan Islam dirancang sebayas teori. Bahkan, di pendidikan umum dengan muatan cuma dua SKS Islam yang diajarkan terbatas rukun Islam, rukun iman. Fiqih thaharah, shalat, puasa, zakat paling tinggi terkait waris. Tentu tidak heran ketika ada dakwah yang di luar itu umat belum terbiasa. 

Jadi tidak heran jika didakwakan ajaran Islam yang berbeda dengan biasanya umat masih asing dan belum terbiasa.

Bahkan, akhir-akhir ini fiqih Siyasi (politik) terkait khilafah ada wacana dihapuskan. Jika tidak dihapus, hanya dipelajari di aspek tarikh bukan fiqih.

Dengannya perjalanan gambaran Khalifah sebagai pemimpin khilafah. Hanya dianggap sebagai cerita sejarah.  Hingga  tidak menimbulkan satu semangat mempraktekkan sebagaimana hukum fiqih  yang praktis lainya.

Kelima: Dakwah penuh tantangan. Sebagaimana alamiahnya dakwah politik  tidak luput dari amar ma'ruf terhadap kebijakan penguasa. Meniscayakan bergesekan dengan kepentingan penguasa dzalim. Karena dianggap menghalangi kepentingannya dan eksistensi jabatannya. Karena semakin rakyat sadar kedzaliman, maka rakyat pun akan meminta solusi Islam. Itu artinya kesewenangan tidak bisa dilakukan oleh rezim penguasa.
 
Namun, dengan semakin derasnya dakwah Islam secara Kaffah. Yang menggambarkan kebatilan pengaturan sistem Kapitalisme yang terbukti secara nyata membawa banyak kesengsaraan. Lalu, disajikan dakwah bagaimana solusi Islam mengaturnya. Dengan berjalannya waktu dakwah yang bersifat politik pun tersebar dan banyak dilirik oleh para intelektual, politisi, ulama' pun rakyat biasa. 

Meski disatu sisi ada yang menjauhi, namun dinamisasi dakwah politik untuk menjawab tantangan kini dan masa depan amat dibutuhkan sebagai solusi. Jadi tak heran jika diam-diam atau terang-terangan dakwah politik ini dinanti.

Sebaigaimana penutup kita renungkan janji Allah dalam ayat berikut, 
_"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."_(TQS. An-Nur: 55).[]

Oleh: Yuyun Rumiwati

Posting Komentar

0 Komentar