TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Cukupkah Memboikot Produk Pro Kaum Luth?


Beberapa waktu lalu, perusahaan besar Unilever mendeklarasikan dirinya mendukung komunitas LGBT. Pertanyaan ini diposting lewat akun intagramnya Unilever Global pada Jumat 19 Juni 2020.
Warganet memberi taggaapan, salah satunya memboikot produk Unilever. 

Bukan hanya itu saja, MUI juga memberi respon yakni Ketua Komisi Ekonomi MUI Azrul Tanjung. Ia meminta Unilever untuk menghentikan kampanye pro LGBTQ tersebut karena dapat menimbulkan gerakan antipasti dimasyarakat yang akan merugikan Unilever sendiri. Sementara di tempat terpisah pengamat ekonomi, Yusuf Wibisono, menjelaskan boikot adalah salah satu bentuk etika dan moral dalam konsumsi. Dia menegaskan, gerakan boikot ataupun protes dari konsumen kepada produsen merupakan tindakan moral yang legal dan dibenarkan (jernih.co).

Padahal bukan hanya Unilever yang mendukung komunitas LGBT, masih banyak lagi seperti Instagram, Facebook, Gojek, Google, Starbuck dan lain sebagainya.

Di sistem sekarang, kebebasan berperilaku sangat diagungkan. Salah satunya memiliki perilaku kaum Luth. Para pengusung HAM berpendapat bahwa dengan memiliki perilaku kaum Luth bukan merupakan tindakan yang salah dan para pelaku tersebut harus di terima dimasyarakat. Bahkan WHO pun mendukung komunitas tersebut.

Mengenai tentang boikot-memboikot, Islam tidak melarang kaum Muslimin melakukan transaksi dengan kaum kafir, jika jual beli tersebut sesuai syariat islam dan terlepas dari hadlarah. Tetapi jika produk tersebut mendukung kaum LGBT, maka dikembalikan ke individu. Apakah mereka menginginkan membeli produk pro LGBT atau membeli produk lainnya yang tidak pro LGBT.

Masalah ini telah dijelaskan oleh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya nizhomul islam yakni dalam bab Hadlarah Islam. Hadlarah adalah sekumpulan ide yang dianut dan mempunyai fakta tentang kehidupan. Sedangkan Madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindah yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Hadlarah bersifat khas terkait tentang pandangan hidup.

Sementara madaniyah bisa bersifat khas atau bisa pula bersifat umum untuk seluruh umat manusia. Adapun bentuk-bentuk dari madaniyah seperti patung, salib dan sebagainya merupakan madaniyah khas, sedangkan produk kemajuan sains dan teknologi/industri merupakan madaniyah umum.

Terkait masalah tersebut, maka untuk membeli produk-produk dari Unilever maka dibolehkan atau dikembalikan ke induvidu. Sebab ada sebagian umat muslim menganggap bahwa uang yang akan dibelanjakan akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. 

Hal ini termasuk kedalam madaniyah umum dan tidak mengandung hadlarah.
Pertanyaannya apakah dengan memboikot produk-produk pro LGBT merupakan solusi yang tuntas?

Menurut penulis, hal tersebut bukan merupakan solusi tuntas, sebab hanya memberi efek sementara saja. Penjualan produk unilever akan menurun. Dan jika tetap menerapka sistem kapitalis, maka komunitas kaum Luth tidak akan sirnah malah akan tetap berkembang sebab didukung oleh organisasi internasional salah satunya WHO yang memberi dana untuk komunitas tersebut.

Untuk menghilangkan kaum luth di saat ini, hanya dengan penerapan islam saja yang dapat menghilangkan hal tersebut. Islam akan memberi hukuman terberat kepada pelaku LGBT. Allah telah memberi peingatan di dalam Al-Quran.[].

Oleh: Nur Ana Sofirotun

Posting Komentar

0 Komentar