TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Covid-19 Sebagai Alat Potensial Kampanye Pilkada?



Pilkada yang akan di adakan serentak Desember 2020, bagi kepala daerah yang masa jabatannya berakhir 2021. Tak ayal lagi covid-19  dan ide penanganannya pun dijadikan alat kampanye konstentan pilkada. 

Bahkan Kemdagri Tito menyatakan Dengan demikian, pilkada adalah momen penting dan pas untuk ajang adu gagasan dan berbuat nyata secara maksimal bagi para kontestan dalam menangani pandemi Covid-19 dan dampak sosial ekonominya," tegas Tito.

Dengan demikian, pilkada adalah momen penting dan pas untuk ajang adu gagasan dan berbuat nyata secara maksimal bagi para kontestan dalam menangani pandemi Covid-19 dan dampak sosial ekonominya," tegas Tito. (republika.com, 15/7/2020).

Melihat usulan Mendagri yang menjadikan covid-19 sebagai alat untuk mengambil simpati demi suara dan kursi maka penulis ada beberapa catatan:

Pertama: Semakin membuktikan kegagalan rezim dalam menangani Covid-19.

Secara nyata kebijakan rezim Jokowi melalui kebijakan PSBB tak menghasilkan kondisi penurunan angka terpapar covid-19. Bahkan kondisi kian  ruwet sejak diberlakukannya new normal. Lonjakan kenaikan positif Covid-19 masih di atas seribi. Terbaru per 16/7/2020 terjadi kenaikan 1.574 uang positif. Belum lagi simpang siur dana untuk penanganan covid-19 yang belum tersalurkan sebagai mana  seharusnya. 

Kedua: Upaya pengalihan tanggung jawab.

Di saat korban Covid-19 masih terus menanjak pemerintah masih tidak serius mencari solusi. Bahkan terkesan ada pengalihan tanggung jawab. Yang sebelumnya diadakan lomba penanganan covid-19 antar tiap daerah propinsi. Sekarang Mendagri memunculkan solusi ilusi.

Seharusnya posisi pemerintah pusat bersungguh mencari solusi. Bukan sibuk lempar sana lempar sini dengan programnya terkesan dangkal sekali. Seperti usulan jadi alat kampanye.

Covid-19 masalah nyawa. Lalu, dijadikan alat kampanye untuk mengaggait suara, apa ini bukan ide super dangkal. Sedang kita tahu kampanye sebagaimana biasanya adalah janji-janji manis sulit terbukti. Lalu, covid-19 yang nyata dan darurat hanya dijadikan alat untuk menguntungkan suara pribadi meraup suara 

Ketiga: Sudahi Demokrasi

Demokrasi kapitalisme telah menyeret penguasa sebatas fasilitator. Bukan periayah (penanggung jawab umat). Sistem demokrasi telah menfokuskan para calon pilkada terhadap urusan suara ketimbang serius menangani virus Corona.

Ujung dari keruwetan ini adalah tidak dicarikan sebab musabab hingga ke akar. Yang difokuskan hanya seputar teknik individu. Jika sudah dipahami bahwa penerapan demokrasi sekuler kapitalistiklah akarnya. Karenanya mencampakkan adalah pilihan terbaik. Agar anggaran tak hilang secara sia-sia dalam pesta demokrasi yanf bathil

Keempat: Kampanyekan Islam Solusi

Menjadikan isu covid-19 sebagai bahan Kampanyekan jelas usulan rendah. Karenanya lebih baik mengkampanyekan solusi yang benar-benar  solutif kompresif yaitu sistem Islam. Sistem yang mengatur semua sesuai peran dan fungsinya. Dialah sistem khilafah Islamiyyah. Sebagai renungan dan penguat ketaatan kita resapi QS. Al-Hasr: 7

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Dan apa yang diberikan Rasul (Shallallahu ‘alaihi wasallam) kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (QS. Al-Hasyr : 7).[]

Oleh: Yuyun Rumiwati

Posting Komentar

0 Komentar