TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Citra Abnormal dari Pemimpin yang Viral



Dulu blusukan masuk ke pasar tradisional atau ke tempat dimana rakyat kecil berkerumun ternyata bisa menarik simpati rakyat. Sikap rendah hati dan karakter yang merakyat dan peduli pada rakyat dibangun. Sehingga banyak yang tertipu, memberikan suara mereka untuk dia. Dengan harapan pemimpin yang merakyat dapat mengerti kesusahan rakyat yang kelak akan berdampak kepada kebijakan yang pro rakyat.

Namun ternyata setelah duduk di kursi kekuasaannya, banyak kebijakan yang tidak prorakyat, seperti kenaikan iuran BPJS di masa Pandemi, adanya kebijakan pekerja wajib ikut TAPERA, harga BBM tidak turun walaupun harga minyak dunia anjlok dan lain sebagainya.

Namun pencitraan model blusukan ternyata sudah tidak laku. Rakyat sudah semakin cerdas dan tidak mau ditipu yang kedua kalinya, rakyat tidak butuh video marah-marah ataupun adegan sujud kepada tenaga kesehatan, tangisan palsu pejabat dan sebagainya. Rakyat butuh tindakan nyata berupa kebijakan yang pro rakyat. 

Dilansir dari tempo.co, 1 Juli 2020, yang memberitakan Video kemarahan Jokowi terhadap jajaran menterinya. Video ini diunggah pada 28 Juni lalu di Youtube resmi Sekretariat Presiden. Video tersebut baru diunggah 10 hari setelah pidato itu dilakukan Jokowi dalam Sidang Kabinet Paripurna pada 18 Juni 2020.

Dalam video berdurasi 10 menit itu, Jokowi menegur keras jajaran menterinya yang ia sebut belum satu perasaan, terhadap adanya sense of crisis di Indonesia akibat Covid-19. Jokowi mengatakan tak ada progres signifikan yang dibuat para menterinya dalam menanggulangi pandemi ini. Bahkan, Jokowi mengancam akan membubarkan lembaga atau mereshuffle kabinetnya jika diperlukan.

Adanya jeda 10 hari dari peristiwa tersebut di mana rapat paripurna kabinet Rabu 18 Juni 2020, namun video tersebut baru diunggah Ahad 28 Juni 2020, membuat banyak yang curiga dan menanggapi hal itu hanyalah pencitraan semata. Bahkan sekelas komedian dan sutradara Ernest Prakarsa malah mengaku sudah mati rasa.

"Jujur gw udah mati rasa liat presiden marah2in menteri. Lebih terkesan kayak publicity stunt. Mending nunggu sesuatu yg riil, baru kasih apresiasi. Ernest Prakasa (@ernestprakasa) 29/6/2020.

Baru juga video tersebut diunggah, pada tanggal 1 Juli 2020 iuran BPJS resmi mengalami kenaikan. Lalu dimana sense of crisisnya? Keberpihakan kepada penderitaan rakyatnya dimana? Alih-alih meringankan beban rakyat, yang ada justru memberi beban tambahan selain pajak dan TAPERA. Inikah yang dikatakan kasihan rakyat? Bahkan untuk sekedar menjalani rapid dan swab test rakyat dihimbau mandiri alias bayar sendiri.

Inilah akibat jika negara mengadopsi sistem kapitalis-liberal, dimana negara memposisikan diri sebagai corporation yang berbisnis dengan rakyatnya sendiri. Ibarat sebuah keluarga, seorang bapak berbisnis dengan anaknya sendiri, yang hanya berpikir untung dan rugi bukan menjaga, melindungi dan melayani.

Pemimpin dalam Pandangan Islam

Dalam pandangan Islam seorang pemimpin adalah laksana penggembala yang akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya.

Rasulullah SAW bersabda, "Imam (kepala negara) itu laksana penggembala, dan dialah penanggung jawab rakyat yang digembalakannya."(HR Bukhari dan Muslim)

Konsep kepemimpinan yang ditawarkan rasulullah cukup sederhana, yakni laksana penggembala. Pada galibnya, penggembala bertanggung jawab agar hewan-hewan yang digembalakannya terpelihara dengan baik, cukup makan minum, sehat, gemuk, serta terjaga dari binatang-binatang buas.

Tak terbersit dalam benak kita akan adanya penggembala yang cuek dengan hewan-hewan piaraannya. Apalagi menargetkan agar hewan-hewan yang menjadi tanggung jawabnya itu haus, lapar, cedera, bahkan mati.
Sebab, dia bakal ditanya oleh tuannya tentang hewan-hewan yang digembalakannya itu.

Kepemimpinan, menurut sabda Nabi SAW di atas, adalah konsep pemeliharaan urusan rakyat yang tidak hanya berdimensi dunia, tetapi juga akhirat. Oleh karena itu pemimpin dalam sistem Islam takkan pernah melakukan pencitraan karena baginya, itu hanyalah usaha membohongi diri sendiri sekaligus menunjukkan kelemahan imannya. Tidakkah pemimpin model pencitraan ini sadar bahwa apapun yang mereka lakukan tak pernah lepas dari pengawasan Allah SWT.[]

Oleh Nabila Zidane 
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar