TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ciptakan SDM Unggul Bukan Mimpi! Ternyata Ini Rahasianya



Sudah bukan rahasia lagi kalo kualitas SDM negeri ini sangat rendah. Data Bank Dunia terkait Human Capital Index, Indonesia termasuk low middle income dan tertinggal dibanding Singapura, Korea, dan Jepang. 

Ternyata di antara faktor utama pembentukan kualitas SDM adalah pendidikan. Di tengah landasan, arah, metode pendidikan yang masih belum menemukan haluan yang tepat, wajar jika kualitas SDM belum seperti yang dicita-citakan. Dan nampaknya... menjelang satu abad merdeka, negeri ini masih tertaih-tatih membangun mimpi SDM unggul.

Berbicara tentang pendidikan, sebagai faktor pembentuk SDM unggul, Islam telah memiliki konsep yang jelas dan detail hingga pada gambaran kurikulum dan penggunaan bahasa sebagai pengantar ilmu. Konsep Islam ini dijabarkan begitu terperinci dalam Workshop ke-2 “Menyiapkan Anak Tangguh”,  Ahad 28 Juni lalu. 

Keresahan akan SDM unggul ini rupanya menjalar hingga pelosok nusantara. Terbukti, sekitar 70 peserta dari berbagai penjuru negeri hadir dalam workshop daring selama tujuh jam ini. Seperti ungkapan Bunda Wahyu, peserta dari Gowa – Sulsel. “MasyaAllah banyak materi yang ‘DOOOR’ kena sasaran pas di diri saya... sangat bermanfat besar buat saya pribadi,” katanya di percakapan grup WA peserta workshop.

Menariknya, Ustadzah Yanti Tanjung –yang dikenal sebagai pakar parenting dan founder Sekolah Anak Tangguh- kali ini ‘hanya’ menjadi host. Momen spesial ketika guru memberi kesempatan murid untuk memberikan materi. 

Konsep dan metode pendidikan adalah hal yang fundamental. Jika konsep dan metode salah, hasilnya salah. Ustadzah Rahma, pemateri pertama menjelaskan bahwa konsep akan menentukan arah tujuan pendidikan. Arah bagi visi, misi pendidikan. Termasuk menentukan rancangan pembelajaran yang akan dituangkan dalam kurikulum sekolah. 
Sementara metode, adalah faktor penting yang memastikan sebuah konsep dapat diterapkan, alias bukan khayalan. Ternyata metode juga menentukan apakah seorang murid akan dibentuk menjadi pemikir atau pembelajar saja. 
Menarik bukan, sampai disini saja kita sudah mendapat jawaban mengapa sistem pendidikan di negeri ini belum menciptakan SDM unggul. Karena bisa jadi mereka hanya belajar tetapi tidak berpikir!

Selanjutnya Ustadzah Istiqomah menjelaskan tentang bagaimana kurikulum pendidikan dalam Islam dibangun. Tujuan dari kurikulum pendidikan Islam tak bisa ditawar, yakni terbentuknya SDM berkepribadian Islam. Supaya tujuan ini tercapai, asas dari kurikulum haruslah aqidah Islam.  
“Aqidah yang tertancap kokoh pada anak akan memahami tujuan penciptaannya di bumi ,dapat mengelola bumi dengan baik, memakmurkannya dengan baik dan bukan merusaknya,” tegas Ustadzah Istiqomah.

Tak kalah penting setelah konsep dan kurikulum adalah metode pembelajaran. Ustadzah Netty menjelaskan dengan sabar tentang ini. Metode pembelajaran dalam Islam adalah talaqqiyan fikriyan. Yakni seruan (khithab) pemikiran dari guru dan penerimaan (talaqqiy) pemikiran oleh murid. Maksudnya bagaimana? 

Maksudnya, bagaimana seorang guru membuat murid berpikir, mengaktifkan akalnya, mengkaitkan antara ilmu yang sudah dia dapat dengan kenyataan yang dia saksikan atau hadapi dan mengambil sikap atas kenyataan itu. Entah kenyataan itu sebuah peristiwa atau benda.

Ustadzah Netty mencontohkan, ketika guru  ingin menjelaskan siklus air maka perlu dihadirkan faktanya dengan membuat lapbook siklus air, memperlihatkan foto-foto, video, mengajak anak merasakan air hujan, menyaksikan menguapnya air laut, melihat awan yang putih lalu menjadi tebal dan hitam, kemudian jatuh menjadi hujan dan tersimpan ke dalam bumi  lalu mengalir dari sungai ke lautan.

Membuat anak-anak menyaksikan, merasakan, mengamati dengan indranya lalu dikaitkan dengan teori yang diberikan guru, inilah talaqqiyan fikriyan! Dengan begitu anak akan terlatih menjadi pemikir. 

Sepertinya terjawab ya kegundahan kita. Ini sebabnya, anak-anak negeri ini rajin menghafal pelajaran namun hanya mampu menjawab pertanyaan yang tersedia di teks! Jika disodorkan kasus lain, akalnya macet. 

Untuk bisa mewujudkan itu semua, dibutuhkan bahasa sebagai pengantar ilmu. Kebayang nggak tanpa bahasa, bisakah murid memahami maksud guru? Anda pasti tertawa geli.

Ustadzah Evi menjelaskan ini. bahasa sebagai pengantar tidak bisa diremehkan. Pendidikan bahasa mempunyai tujuan membuat anak memiliki kemampuan menceritakan kembali sebuah fakta, peristiwa, lalu mengambil analisa dari sebuah kejadian dan memberikan solusi Islam bagi setiap persoalan. Pedoman bahasa dalam Islam adalah bahasa ahsan, yakni bahasa yang sejalan dengan muatan Alquran. Ustadzah Evi juga menjelaskan rinci adab-adab berbahasa.

Semua materi ini adalah hasil kajian mendalam dari kesuksesan pendidikan di era peradaban Islam. Sistem pendidikan di era peradaban Islam terbukti menciptakan SDM unggul. Bahkan Khilafah kala itu menjadi pusat acuan pendidikan dunia. Sedihnya, kini umat Islam terpuruk bahkan dalam pendidikan berkiblat ke Barat. Hasilnya? Generasi dengan kualitas SDM yang rendah. 

Namun secercah harapan itu ada, setidaknya melalui ibu-ibu tangguh yang bertekad menciptakan generasi unggul dari tangan-tangan mereka. Semoga.[]

Oleh Faiqoh Himmah

Sebuah Catatan Workshop ke-2 Menyiapkan Anak Tangguh

Posting Komentar

0 Komentar