+
TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Cinta Itu Perlu Bukti


   Cinta adalah anugerah dari Allah SWT kepada manusia. Tapi cinta tanpa pembuktian tak akan ada yang percaya. 

   Lalu bagaimana sikap kita, sikap umat Islam di penjuru negeri ketika mendengar kabar saudara-saudaranya sesama muslim Rohingya bertaruh nyawa mengarungi ganasnya lautan selama berhari-hari untuk menyelamatkan akidah dan nyawanya. Namun ternyata ketika mereka hendak melabuhkan perahunya banyak yang menolak dengan berbagai alasan. Padahal mereka sama Muslim seperti kita, tapi karena sekat ilusi bernama nasionalisme, beda negara maka sesama saudara seiman ini tak bisa membuktikan cinta kepada saudaranya.

   Bukankah Nabi Muhammad Saw pernah bersabda,"Salah seorang diantara kalian tidak tidaklah sempurna imannya sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri."(H.R Bukhori dan Muslim). Jadi bukti cinta kepada saudara seiman adalah dengan mencintainya seperti diri sendiri, lalu bagaimana bisa kita mengakui cinta kepada saudara seiman ketika dengan tega mengusir mereka ke tengah lautan untuk menjemput kematian. Padahal kita punya kekuatan dan kesempatan untuk menyelamatkan.

  Tetapi ternyata cinta itu masih ada di hati Muslim Aceh. Nelayan Aceh tetap menyelamatkan pengungsi Rohingya yang telah berhari-hari di atas kapal, mesin mati, makanan habis dan hampir karam. Terdapat 94 orang di kapal terdiri 15 orang laki-laki, 39 perempuan dan 30 orang anak(Republika.co.id 27/06/2020). Walau sebenarnya aparat melarang warga Aceh menyelamatkan pengungsi Rohingya dengan alasan takut tertular Covid-19.

  Bahkan sebelumnya di kabupaten Bireuen Aceh, warga Aceh juga menyelamatkan pengungsi Rohingya sebanyak 71 orang dewasa dan 8 anak-anak pada 20 April 2018. Di tahun 2015 Aceh juga melakukan hal yang sama(Republika.co.id 27/06/2020).

  Itulah bukti cinta sesungguhnya kepada saudara seiman, sebagai mana sabda Nabi Muhammad Saw, " Salah seorang diantara kamu sekalian tidaklah sempurna imannya sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri."(H.R Bukhori dan Muslim).

  Begitulah seharusnya sebagai sesama kaum mukmin saling mencintai, saling menyayangi tidak membeda-bedakan suku, ras, warna kulit dan lainnya. Cukup dia Muslim maka kita berkewajiban menunjukkan cinta kita dengan bukti menolong jika ada yang tertindas. Seperti yang disabdakan Rasulullah Muhammad Saw, " Perumpamaan orang-orang beriman adalah seperti satu tubuh. Bila ada salah satu anggota tubuh mengasuh kesakitan. Maka anggota tubuh lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak tidur dan merasa demam."(H.R Bukhori dan Muslim).

  Keperdulian dengan saudara seiman juga pernah terjadi ketika Khalifah Mu'tashim berkuasa. Saat itu ada seorang budak Muslimah pernah dilecehkan oleh orang Romawi. Ia berteriak meminta pembelaan dari kaum Muslimin " Dimana kau, Mu'tashim? Tolonglah aku!"

  Seketika itu juga Khalifah Mu'tashim menurunkan pasukan yang panjang barisannya tidak putus dari gerbang istana Khalifah di kota Baghdad sampai kota Amuriah Turki. Kemudian kota Amuriah dikepung selama 5 bulan. Tercatat 30.000 pasukan Romawi tewas, sementara 30.000 lainnya menjadi tawanan.

   Inilah sikap yang harus ditunjukkan oleh pemimpin, menjadi pelindung bagi rakyatnya, karena Nabi Muhammad Saw bersabda, "Sesungguhnya al-Imam(Khalifah) itu perisai dimana(orang-orang akan berperang di belakangnya) mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan kekuasaannya.(H.R Bukhori, Muslim, Ahmad dan Abu Dawud).
 
  Tidak seperti sekarang saat saudara seiman bertaruh nyawa menghadapi kebrutalan musuh-musuh Islam, pemimpin-pemimpin yang notabene sama keimanannya menutup pintu untuk membantu dengan alasan bukan warga negaraku. Sungguh kita rindu dengan pemimpin yang membuktikan cinta kepada saudara seiman dengan tindakan penyelamatan bukan hanya mengecam.

  Dan pemimpin seperti itu hanya ada ketika pemimpinnya menerapkan syariat Islam secara kaffah, di seluruh aspek kehidupan. Yang menjadikan saudara seiman sebagai bagian dari dirinya. Sehingga segera melakukan tindakan ketika mendengar saudaranya kesakitan. Sebagai bukti cintanya kepada saudaranya.[]

Oleh: Wijiati Lestari
Owner Taqiyya Hijab Syar'i

Posting Komentar

0 Komentar