Buruknya Kapitalisme, 'Sense of Crisis' Hilang



Video berisi arahan Presiden Joko Widodo dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara diunggah oleh Sekertariat Presiden pada akun Youtube Setpres. Terlihat dalam video tersebut Presiden mengutarakan kekecewaan dan kemarahannya terhadap keterlambatan kinerja kabinetnya. (https://www.cnbcindonesia.com/news/20200628200430-4-168608/kejengkelan-jokowi-singgung-sense-of-crisis-hingga-reshuffle)

Banyak kebijakan yang diambil tidak terarah dan lambat sehingga wabah masih terus meluas dan ekonomi negara kian babak belur. Sementara anggaran yang disiapkan mencapai Rp. 75 Triliun dan baru di keluarkan hanya 1,53%. Pengeluaran belanja yang secepatnya diharapkan mampu meningkatkan konsumsi masyarakat hingga roda ekonomi nasional bisa berjalan kembali. 

Alih-alih bisa mengurangi jumlah wabah yang kian meluas dan membantu ekonomi masyarakatnya. Pemerintah justru disibukkan dengan kerja kabinet bentukannya yang bermasalah. Dari sini tampak nyata bahwa ada kegagalan dari pemerintah dalam memimpin jajarannya dan menjamin kesejahteraan masyarakat.

Reshuffle atau perombakan menjadi ancaman yang dilemparkan Presiden Jokowi melihat buruknya kinerja menterinya. Kinerja Kabinet Indonesia bersatu yang masih santai ditengah krisis yang melanda adalah hasil dari bagi-bagi kursi kekuasaan ala Rezim pada awal pemerintahannya. Dan bukan menjadi rahasia lagi bahwa sistem kapitalisme membuat lingkaran oligarki kian bertambah kuat. Terkait dengan perombakan yang dilontarkan Presiden Jokowi, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengharapkan bahwa Reshuffle Jokowi terhadap menterinya bukan hanya sekedar ancaman semata atau hanya sebuah gertakan tanpa tindakan. Karena bila tidak ada aksi dan keputusan tegas dari Presiden. Maka justru Presidenlah yang masuk kedalam jajaran penguasa yang tidak memiliki sense of crisis. (Kumparan.com)


Abainya para menteri adalah wajah asli dari hancurnya sistem yang digunakan sebagai pengatur masyarakat. Kemarahan Presiden memberikan pesan bahwa kegagalan beliau dalam memimpin Indonesia dikarenakan kerja para menteri yang tidak becus. Serta melakukan pembelaan diri serta menutupi kesalahan dan kegagalan yang telah dilakukannya.


Lambatnya upaya preventif dan kuratif dalam langkah yang diambil pemerintahan menghadapi pandemi dan kemerosotan ekonomi menambah jumlah gagalnya sistem mengatur kehidupan. Tidak ada langkah yang tepat dan reaktif yang cepat terhadap dampak pandemi dari sisi penyebaran sekaligus ekonomi yang terus menjadi sorotan.

Kegeramanan ini menjadi gimmic dan hanya sekedar retorika penguasa menutupi ketidakberdayaannya dalam memimpin Indonesia menjadi negara yang sejahtera apalagi ditengah pandemi saat ini. 


Mengapa jajaran pengambil kebijakan kehilangan sense of crisis? 


Pertama, karena para pengambil kebijakan telah menggunakan sistem kapitalisme sebagai poros mereka dalam mengatur masyarakatnya, termasuk memilih para menteri. Dimana pada sistem ini, yang menjadi pemeran utama bukanlah masyarakat sehingga pemerintah tidak perlu pusing untuk mengurusi rakyat. Cukup pemeran utama yang menjadi prioritas yaitu para pemilik modal besar. 

Sehingga wajar bila pemerintah dan jajarannya lambat terhadap penanganan wabah dan sendiko dawuh bila berkaitan dengan pemilik modal. Dalam sistem kapitalisme kemaslahatan dan keuntungan materi harus terus dipertahankan keberadaannya. Buruknya jajaran menteri kabinet Indonesia maju tidak lepas dari bagaimana pemimpin mengkomandoi mereka. Karena menteri berada dibawah kebijakan seorang pemimpin. Bila menteri gagal maka pemimpinlah yang bertanggungjawab penuh terhadap hal ini. Maka dari sini kita lihat buruknya kepemimpinan yang dibentuk oleh sistem kapitalisme hingga menciptakan presiden dan menteri yang gagal total.


Kedua, Inkonsistensi pemerintah dalam mengambil kebijakan yang plin-plan menjadi bukti bahwa penguasa tidak memiliki dasar yang benar dalam membuat aturan dan kebijakan. Begitupun menteri yang berada dalam naungannya. Wajar bila mereka telah kehilangan rasa mereka terhadap krisis yang bukan hanya mengakibatkan kematian. Namun juga kemiskinan, pengangguran, dan problem lainnya.  Seruan untuk New Normal dikala wabah kian tak terkendali atas alasan lesunya ekonomi sungguh kebijakan amburadul tanpa pertimbangan matang. Wajar bila bukannya semakin sedikit, Covid-19 justru semakin keras menghantam wajah negeri. Demi meraup keuntungan segala macam cara akan dilakukan, sekalipun kontradiktif dengan kehidupan masyarakat apalagi aturan Islam. 


Ketiga, Resuffle atau perombakan yang dilontarkan diatas kemarahan presiden Jokowi bila hanya sebuah gertakan tanpa aksi maka jelas yang bermasalah bukan hanya para kabinetnya namun juga kepala yang memimpin mereka. Maka, kata kabinet tidak memiliki sense of crisis juga selayaknya disandang pada pemimpin yang juga tidak memiliki sense of crisis terhadap masyarakatnya. Sungguh ironi hidup di sistem kufur buatan manusia.


Hanya Islam yang memiliki sense of crisis yang tinggi.


Sistem Islam memiliki aturan yang jauh berbeda dengan sistem kapitalisme. Dalam Islam kepekaan terhadap crisis sangat cepat dilakukan oleh seorang khalifah dan para pembantunya. Dimana parameter kebijakan yang diambil adalah halal dan haram menurut pandangan Allah SWT. 

Kepekaan terhadap krisis yang menimpa kaum muslimin dicontohkan oleh sigapnya Khalifah Uman Bin khattab menghadapi wabah ‘Thaūn Amwās yang menyerang wilayah Syam. Khalifah Umar mengumpulkan sesepuh Quraisy untuk dimintai pendapat apakah Khalifah perlu meneruskan perjalanan ke Syam atau kembali ke Madinah.

Wabah ini dikabarkan telah menghantarkan kematian tidak kurang dari 30 ribu rakyat. Bukan saja warga negara biasa, bahkan penyakit ini pun menyerang beberapa sahabat Khalifah Umar seperti Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, dan Suhail bin Amr yang mengantarkan pada wafatnya mereka.

Wabah itu baru berhenti setelah Amr bin Ash menjabat sebagai Gubernur. Amr mulai menganalisa penyebab hingga menemukan metode untuk memutus penyebaran wabah. Yaitu memisahkan antara orang sakit dengan yang sehat. Kemudian melakukan isolasi wilayah yang sekarang lebih dikenal dengan istilah ‘lockdown’. Metode lockdown sudah dipraktikkan di masa Islam. Sebagaimana hadis Rasulullah saw tentang lockdown,

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Bukan hanya mengisolasi masyarakat yang terdampak wabah. Khalifah dalam negara Khilafah bersama jajaran pembantunya yaitu Mu'awin Tafwidh, Mu'awin Tanfidz, Wali serta departemen-departemen dibawa khalifah akan bersatu padu mengatasi wabah secepat mungkin. Dan menjamin pemenuhan kebutuhan vital masyarakat dimasa wabah.

Kerugian ekonomi tidak menjadi masalah bagi seorang khalifah karena nyawa satu kaum muslim sangat berharga dibanding dunia dan seisinya. Dan ketaqwaan Khalifah serta para pembantu negara tidak dapat diragukan lagi disepanjang sejarah kejayaan Islam selama 1300 tahun.

Dalam buku The Great leader of Umar bin Khaththab, Kisah Kehidupan dan Kepemimpinan Khalifah Kedua, diceritakan bahwa ketika terjadi krisis, Khalifah Umar ra. melakukan beberapa hal yaitu berhemat dan membuat posko-posko. Masyarakat yang datang karena membutuhkan makanan, segera dipenuhi. Yang tidak dapat mendatangi Khalifah, bahan makanan diantar ke rumahnya, beberapa bulan sepanjang masa musibah.

Hal ini menunjukkan hanya Islam yang mampu membentuk kesigapan menghadapi krisis dalam diri seorang pemimpin dan jajarannya. Dan membuktikan kegagalan sistem kapitalisme membentuk pemimpin dan jajarannya layaknya Islam. Dimana sosok penguasa dalam Islam begitu tulus kepada rakyatnya. Tanpa memperdulikan materi semata. 

Sungguh hanya aturan Islamlah yang sempurna yang bersumber dari Al Qur'an dan Assunnah dalam mengatur segala aspek kehidupan termasuk ekonomi serta penanganan terhadap kasus luar biasa seperti wabah hari ini. Ingatlah ketika Allah berkata, 

“Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (TQS Ar Rum 41). Wallahu A'lam bisshowwab.[]

Oleh: Afra Salsabila Zahra
Mahasiswi dan Aktivis Remaja

Posting Komentar

0 Komentar