TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Boikot Kapitalisme Sekuler



Kaum pelangi nyatanya terus mengalami kebangkitan, bukan hanya karena keberanian para pemeluknya, akan tetapi dukungan yang terus dilontarkan juga semakin gencar. Salah satu perusahaan multinasional yang berkantor pusat di Rotterdam, Belanda dan London, Inggris dengan nama Unilever, berkomitemen mendukung gerakan LGBTQ+. Hal ini telah dinyatakan di akun instagram Unilever Global pada tanggal 18 Juni 2020 lalu. 

Unilever juga membuka kesempatan bisnis bagi LGBTQ+ sebagai bagian dari koalisi global. Selain itu, Unilever meminta Stonewall, lembaga amal untuk LGBT, mengaudit kebijakan dan tolok ukur bagaimana mereka dapat melangkah dalam tindakannya. Tentu saja dukungan Unilever terhadap LGBTQ+ ini menuai banyak kecaman di dunia maya. Tak sedikit yang menyeru untuk memboikot produk Unilever yang memproduksi makanan, minuman, pembersih, dan juga perawatan tubuh. 

Seruan boikot juga disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung, menegaskan akan mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk Unilever dan memboikot Unilever serta menghimbau agar beralih kepada produk lain. LPMenurut Azrul, kampanye pro LGBT yang tengah gencar dilakukan Unilever sudah keterlaluan dan sangat keliru. Azrul juga menyayangkan keputusan Unilever untuk mendukung kaum LGBT. (republika.co.id, Senin, 29/06/2020)

Boikot Produk Tidak Cukup

Bukan hanya Unilever, aplikasi berbagi foto instagram juga makin menunjukkan dukungan kuatnya kepada LGBT. Terbukti, dengan adanya hashtag berwarna pelangi ‘#LGBT’ yang muncul saat hari Pride Day atau pawai kebebasan. Dukungan juga semakin diperkuat dengan menambahkan fitur ‘Pride’ dalam sisi awal story instagram, juga terlihat dalam bentuk sticker dalam story. 

Selain itu masih banyak lagi perusahaan yang mendukung komunitas LGBT, diantaranya : Apple Inc, Microsoft Corp, Google, Coca Cola, Walt Disney, Visa, Yahoo, Nike, Dell, Motorola, Mastercard, Ford Motor, Levi Strauss & Co, dan lainnya.

Beberapa perusahaan tersebut bahkan juga pernah mengalami nasib yang sama dengan Unilever. Salah satunya Starbuck, pada tahun 2017 silam CEO Starbucks Howard Schultz secara terang-terangan mendukung LGBT. Kala itu Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah menyerukan boikot terhadap produk Starbucks karena dinilai tidak sesuai dengan ajaran agama agama budaya di indonesia. Seruan boikot ini pun langsung menggentarkan media sosial, bahkan #BoikotStarbucks menjadi  trending topic di Twitter. (hops.id, 26/06/2020)

Aksi boikot suatu produk memang akan merugikan produsen, akan tetapi tidak bisa dijadikan sebagai jaminan agar dukungan terhadap LGBT bisa dihentikan. Faktanya pada tahun 2017 sudah pernah terjadi pemboikotan produk dan ternyata hingga saat ini 20 produk lebih yang mendukung komunitas yang sangat dibenci Allah ini. Boikot Unilever juga tak banyak berpengaruh pada performa mereka sebagai perusahaan multinasional yang merajai produk-produk di dalam maupun luar negri. Sebab saat kita belanja di pasar atau tempat belanja lainnya, hampir semua produk makanan, minuman, sabun, peralatan rumah tangga berlabel Unilever. 

Maka ini bukanlah hal yang mudah dilakukan, apalagi atas nama HAM masih banyak orang yang tidak peduli dengan dukungan Unilever terhadan LGBT mereka tetap berbelanja produk-produk Unilever. Ini tentu tidak akan menurunkan derajat Unilever sebagai perusahaan raksasa.

Boikot Sistem Kapitalisme

Memboikot produk pendukung LGBT sebetulnya bukanlah hal yang salah, akan tetapi dengan melakukan pemboikotan sebuah produk saja tidak akan menghentikan dukungan  terhadap LGBT. Sebab yang membuat produk-produk berani mendukung komunitas haram ini adalah sistem yang menanungi yakni sistem kapitalisme.

Sistem Kapitalisme yang berasaskan sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) bertujuan untuk meraih nilai materi sebanyak-banyaknya, memberi ruang bagi perusahaan-perusahaan berpijak pada ide liberalisme yang diagung-agungkan untuk meraih keuntungan yang sangat besar. Maka tak diragukan lagi jika banyak perusahaan yang mendukung LGBT, karena dengan semakin banyaknya pemeluk LGBT akan memberi keuntungan yang besar bagi perusahaan-perusahan. Liberalisme yang diagung-agungkan juga membuat pemeluk LGBT semakin tumbuh subur.

Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah boikot sistem kapitalisme yang menaungi perusahaan-perusahaan pendukung LGBT. Ganti dengan sistem islam. Sistem Islam akan memberantas segala gerakan-gerakan atau komunitas yang dilarang oleh Allah seperti LGBT. Sistem Islam akan menerapkan syariah islam secara Kaffah (menyeluruh) agar manusia tidak menyimpang dari aturan Allah. Sistem Islam akan menebarkan rahmat bagi seluruh alam, menciptakan manusia taat yang bertujuan untuk meraih ridho Allah SWT dan bercita-bercita menggapai surgaNya. Wallāhu a’lam Bis-Showāb.[]

Oleh Nur Itsnaini Maulida
 














Posting Komentar

0 Komentar